Malu pada-Nya

Palestinian youth prays on street outside destroyed mosque in Mughraqa

Sahabat, kali ini perkataan Fudhail bin ‘iyadh sangat menampar diri. Renungkanlah dalam-dalam, bahwa Allah tak pernah meminta banyak dari diri kita. Ia hanya meminta sedikit waktu kita untuk menyapa-Nya. Sementara kita hampir setiap saat menuntut ini, menuntut itu, meminta ini, meminta itu kepada-Nya. Sungguh betapa seringnya kita lalai dalam beribadah kepada-Nya.

Sahabat, coba tengok sholat kita. Berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam setiap kali sholat? Hanya beberapa menit kan? Tetapi mengapa hal tersebut begitu sulit dilakukan bagi sebagian orang. Bahkan waktu  bersama gadget kesayangan, menonton acara di televisi kesukaan, hang out bersama teman-teman, jauh mengalahkan panggilan Allah agar kita mau beribadah pada-Nya.

Sahabat, sesungguhnya Allah pun hanya meminta kita untuk menyempatkan waktu dalam membaca ayat suci-Nya. Tetapi apa? Bahkan kitapun tak pernah punya banyak waktu untuk meluangkan diri  membacanya. Kita lebih sibuk membaca buku-buku novel terbaru, sibuk membaca berita-berita menarik dengan gadget canggih kita, sibuk membaca guyonan-guyonan yang tak bermanfaat.

Sahabat, sesungguhnya Allah hanya meminta agar setiap kelebihan rezeki yang kita miliki, mampu kita bagi kepada sesama. Tetapi, betapa pelitnya kita saat rezeki itu ada di tangan. Kita malah lebih tertarik menggunakannnya untuk membelanjakan barang-barang terbaru, atau bahkan mencemooh orang-orang yang butuh bantuan sebagai orang yang malas. Padahal harta yang kita miliki adalah kepunyaan Allah. Sangat mudah bagi-Nya untuk mengambil kembali setiap rezeki yang sudah dititipkan-Nya pada kita.

Sahabat, sesungguhnya Allah hanya meminta agar kita memiliki sifat-sifat terpuji. Namun apa daya, seiring dengan beringasnya zaman, akhlaq-akhlaq terpuji kian terkikis. Betapa mudahnya bagi sebagian orang mengumbar kata-kata busuk, kata-kata yang tak pantas didengar. Betapa mudahnya kebohongan merajalela di bumi. Betapa mudahnya kemarahan menjadi raja dari angkuhnya raga. Betapa mudahnya nafsu dunia mengendalikan jiwa, sehingga menjauhkan pemiliknya dari akhlaq mulia.

Sahabat, benarlah betapa tak tau dirinya kita. Seberapa sering kita merasa bahwa ibadah yang telah dilakukan ini, sudah sangat banyak, sudah sangat baik, sudah berkualitas. Tapi, ah.. Siapa yang tau bahwa amal kita sempurna? Hanya Allah Yang Maha Tau beserta malaikat-Nya yang telah mencatat rapi segala amal kita tanpa tertinggal. Ya, ibadah yang kita lakukan ternyata bercacat, ternyata penuh dengan cela. Tanya kepada diri, sudahkah setiap ibadah yang kita lakukan murni diniatkan hanya karena-Nya? Sudahkah caranya benar sesuai dengan tuntunan-Nya dan sunnah dari nabi-Nya. Sudahkah kita bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan? Mungkin sebagian kita akan banyak menjawab, “Belum, Ya Allah.” Astaghfirullahal ‘adzhiim.

Ingatlah sahabat.. Jika Allah murka, atau jika Allah menghendaki keburukan bagi manusia yang selalu melukai-Nya, sungguh mudah bagi-Nya menghancurkan mereka tanpa sisa. Namun Allah Yang Maha Baik, tidak peduli atas semua perlakuan buruk kita terhadap-Nya. Dia tetap memberikan kita berjuta rahmat, berjuta karunia, dan berjuta kebahagiaan lainnya. Apakah yang sudah kita berikan kepada Allah? Sungguh tak sebanding dengan karunia-Nya. Malu, sungguh malu. Beruntunglah orang-orang yang masih memiliki rasa malu kepada-Nya, karena itu tanda bahwa di hatinya masih memiliki keimanan. Dan keimanan itulah yang kan menuntunnya untuk terus memperbaiki diri.

“Yang selalu membuatku malu pada Allah adalah, amalku bercacat, ibadahku berpenyakit, tapi karunia-Nya selalu sempurna.” (Fudhail bin ‘iyadh)

Subhanallah, mari tengok kembali kepada diri. Sudahkah kita memiliki rasa malu kepada-Nya? Malu akan segala amal ibadah kita yang tak sebanding akan karunia-Nya yang begitu melimpah ruah. Faghfirlanaa Ya Allah :’).

(Najmthree)

(Menampar diri yang penuh khilaf pada-Nya T_T )

Iklan

Kultweet Keren “Jadilah Jomblo Mulia”

Ini adalah kultweet keren yang ditulis oleh Ustadz Bendri Jaisyurrahman (@ajobendri). Sayang sekali untuk dilewatkan bagi para jomblowan/jomblowati, maka saya coba abadikan saja tulisan ini di blog.

Jadilah jomblo mulia 2

1| Impian anak muda setelah lulus studi biasanya adalah segera nikah. Punya pasangan yg sah. Merasakan surga dunia. Itu kata mereka

2| Entah bagaimana ceritanya. Pembahasan nikah saat ini menjadi isu yg begitu populer terutama bagi anak muda yg tak setuju dgn pacaran.

3| Mereka memang tidak pacaran. Tapi saat orientasi pikiran hanya tertuju kpd nikah, tak sadarkah bahwa bnyak amal lain yg terabaikan?

4| Banyak yg merasa malu jika umur sudah mapan, belum juga dapat pasangan. Akibatnya nikah kayak kejar setoran. Amal lain ditelantarkan.

5| Tak salah jika kebelet nikah. Itu normal. Namun, jangan sampai orientasi hidup utk ibadah jd lalai. Seolah jika tak nikah hidup sudah slesai

6| Banyak akhirnya jomblo yg tersandera. Blm mampu nikah namun amal lain tak ada. Pikiran diarahkan tuk buat rencana agar nikah segera

7| Beruntunglah Jomblo yg sadar diri. Bhw nikah adlh jln tuk dekati ilahi. Jika blm dpt pasangan sibukkan diri dg amal silih berganti

8. Usia muda adalah puncak segala energi. Justru ia pakai utk sebanyak2nya mengabdi kpd Ilahi. Jangan sampai tak brdakwah krn sibuk cari istri

9| Jomblo mulia punya agenda kesibukan yg padat. Berpindah dari amal yg satu ke amal lain. Tak nganggur. Maka tak ada kata galau berjamur

10| Ia tau nikah adalah setengah agama. Tapi ia juga paham, bahwa sibuk dlm amal yg lain bagian setengah agama yg lainnya.

11| Ia pahami nikah ibarat makan siang. Akan datang jadwalnya. Sambil nunggu jadwal datang maka ia bekerja. Tiba2 hidangan tersedia.

12| Perhatikan bagaimana pasien RS. Dari pagi sudah tanya tentang jatah makan siang. Tersebab mereka tak punya kesibukan. Terkapar di ranjang.

13| Jomblo yg nganggur selalu bertanya kapan ia nikah. Untuk apa? Untuk ibadah, katanya. Kalau begitu kenapa tidak banyak tilawah. Ibadah juga kan?

14| Kadang kalau jujur, urusan nikah lebih banyak masalah gengsi. Menjadi jomblo dianggap gak laku. Gak mutu. Nikah jadi diburu

15| Padahal sejarah banyak mencatat jomblo2 bermutu. Namanya abadi krn sibuk dlm amal tak kenal henti. Surga pun menanti.

16| Ibnu Taimiyah contoh Jomblo Mulia. Tak sempat nikah. Namun ia adalah mutiara ilmu bagi banyak ulama. Pahala mengalir deras baginya

17| Begitu pula dgn imam nawawi. Gelarnya muhyiddin ‘yg menghidupkan agama’. Jomblo mulia yg banyak keluarkan banyak buku dan segudang karya

18| Masih banyak contoh lain. Tak inginkah para jomblo mengikuti jejak mereka? Banyak sibuk. Tak ada waktu untuk galau dan gelisah.

19| Sesekali galau silahkan. Tapi Jomblo yg selalu galau adalah jomblo pecundang. Di dunia tak berarti, di akherat rugi. Mau?

20| Jomblo bukan dosa. Yg dosa kalau meratapi nasib dan putus asa. Gagal ukir prestasi saat sedang di puncak energi. Umur terbuang sia2

21| Setan mendekat kepada jomblo yg nganggur. Digiring kepada rasa penyesalan akan taqdir. Sesekali setan ajak tamasya pkirannya tentang pasangan.

22| Allah siapkan kejutan spesial utk jomblo mulia. Yg sibukkan diri dlm amal nyata. Tak dapat pasangan didunia, di akherat kan bersanding dengan kekasih yang ia suka

23| Rasul berkata : Di surga tak ada yg jomblo (lajang). Ini hadits shahih dari Imam Muslim. Cukuplah hadits ini jadi hiburan

24| Dari sekarang mulai mencatat. Amal apa yg belum dikerjakan. Segera lakukan. Doa utk nikah, terus panjatkan. Namun tetap dlm kesibukan.

25| Ingat, kewajiban kita lebih banyak daripada waktu tersedia. Mumpung belum direpotkan dgn urusan rmh tangga, banyak-banyakin amal yg lainnya

26| Kelak saat jodoh datang, merasa tak ada amal yg terutang. Semua amal sdh dikerjakan. Berlanjut dlm amal lain yg lebih menantang.

27| Tiap-tiap tahapan ada amalnya. Saat jomblo ada amalnya. Saat menikah ada amalnya. Hidupnya berpindah dari amal yg satu ke amal yg lainnya

28| Yuk ah yg masih galau karena status jomblonya. Tunjukkan bahwa jomblo banyak karya. Bahkan bisa melebihi yg sudah menikah. Mau coba?

29| Demikian kultwit tentang #JULIA Perez (Jomblo Mulia Penuh Preztasi) . Semoga ada manfaat. Maaf jika tak berkenan. Silahkan dishare

*******************************************************************************************************************

Jazakallah khoyr ustadz bendri, kultweetnya keren banget. Sangat sepakat. Berharap agar ustadz bendri bisa ngisi khutbah nikah di walimahan ku nanti 🙂

Tak usah ada kata galau bagi para jomblowan/jomblowati yang yakin bahwa Allah telah siapkan pendamping terbaik bagi diri.

Mohon do’akan yang terbaik ya sahabat, agar Allah mudahkan segala urusan kita semua dalam menggenapkan separuh dien ini.

Baarokallahu fiik

(najmthree)

Gambar

We are family..

We are family..

Saat ini, dimanapun kesibukan kita dalam beraktivitas, tentu kita akan bekerja sama dengan beragam karakter manusia. Baik ketika beraktivitas di sekolah, di kampus, di organisasi, di kantor, di masyarakat, dan dimanapun itu.

Ada salah satu hal yang dapat membuat kita merasa nyaman untuk bekerjasama dengan siapapun, yaitu dengan merasa bahwa mereka adalah keluarga kita. “Treat them like your own family! “

Walaupun mereka adalah orang yang baru kita kenal,
Walaupun mereka adalah orang yang sikapnya terkadang tak kita sukai, dan segudang alasan lain yang membuat kita tak bisa mengerti mereka. Sudahlah, mulailah tuk terus bersyukur akan nikmat dari-Nya dipertemukan dengan keluarga seperti mereka.

Anggaplah, dan perlakukan mereka seperti keluargamu. Maka dirimu kan bahagia. Ya, mereka adalah keluargamu. Mereka adalah kepingan-kepingan cerita yang kan mewarnai ragam kehidupanmu. Alhamdulillah.

(Najmthree)

#Teruntuk kalian semua, yang Allah izinkan kita tuk dapat bersaudara karena-Nya, menjalin kerjasama, dan terus berbagi hikmah. Semoga Allah kekalkan ukhuwah kita sampai ke syurga-Nya. You are my family 🙂

*Alhamdulillah, welcome back najmthree, my first post in 2014. Baarokallahu fiikum..

Kultweet #JustAllah, Semoga bermanfaat..

Kultweet #JustAllah, Semoga Bermanfaat untuk semua sahabat..

just allah

01. Terkadang manusia hanya berfokus pada penilaian baik di mata manusia, namun lupa berfokus pada penilaian baik di mata Allah. #JustAllah

02. Abaikanlah penilaian di mata manusia, berfokuslah pada penilaian di mata Allah #JustAllah

03. Tak usah banyak cari muka di hadapan manusia, tapi bersemangatlah tuk cari muka di hadapan Allah #JustAllah

04. Jika dirimu baik di hadapan Allah, maka insyaallah Dia kan membuat dirimu baik di hadapan manusia #JustAllah

05. Tidak apa kita tidak berharga di hadapan manusia, yang terpenting kita lebih berharga di mata Allah #JustAllah

06. Tak penting memperindah topeng diri tuk dapatkan kemuliaan di hadapan manusia, yang terpenting adalah dapatkan kemuliaan dari-Nya #JustAllah

07. Jika kita telah ditinggikan derajatnya disisi Allah, insyaallah kita pun akan ditinggikan derajatnya di hadapan manusia #JustAllah

08. Bukan masalah jika tak dicintai manusia, yang terpenting adalah menjadi pribadi yang selalu dicintai-Nya #JustAllah

09. Tak perlu takut jika tak dicintai manusia, namun takutlah jika Allah tak mencintai kita #JustAllah

10. Bukan masalah jika kita tak pernah dilihat oleh manusia, karena yang terpenting adalah jika diri kita selalu dilihat oleh-Nya #JustAllah

11. Bukan masalah jika karya kita tak disukai banyak manusia, karena yang terpenting adalah karya kita disukai oleh-Nya #JustAllah

12. Berharap pada manusia siap-siap kecewa, namun jika berharap pada-Nya tidak akan dikecewakan dan bersiaplah tuk bahagia #JustAllah

13. Mengadu dan berkeluh kesah pada manusia tak menjamin ada jalan keluar, tapi jika mengadu dan berkeluh kesah hanya pada-Nya, pasti selalu ada jalan keluar #JustAllah

14. Meminta pada manusia belum tentu akan diberikan, namun jika meminta hanya pada Allah, pasti akan dikabulkan #JustAllah

15. Curhat pada manusia belum tentu sepenuhnya didengar, namun jika curhat pada Allah pasti akan didengar #JustAllah

16. Usahlah bersedih jika kebaikan kita tak berbalas manis dari manusia, karena yang terpenting adalah sebaik-baik balasan dari-Nya #JustAllah

17. Manusia sulit memaafkan, sementara Allah selalu menjadi Yang Maha Pemaaf. Dia mengampunkan seperti apapun kesalahan2 manusia #JustAllah

18. Mengingat manusia tak selalu mendatangkan kedamaian, namun jika mengingat Allah pasti mendatangkan ketenangan #JustAllah

19. Arahan dari manusia belum tentu tepat dan dapat saja salah, namun arahan dari Allah dijamin benar dan pasti tidak akan salah #JustAllah

20. Manusia sering tak tepati janji, namun Allah tak pernah ingkari janji #JustAllah

21. Merugilah orang-orang yang melakukan segala sesuatu bukan karena-Nya. Takutlah jika apa yang telah dilakukan tak bernilai dimata-Nya #JustAllah

22. Maka lakukanlah segala hal hanya karena Allah semata, agar Dia catatkan segala amal kita bernilai di mata-Nya. #JustAllah

23. Dimulai dari luruskan serta perbaiki segala niat kita hanya karena Allah semata, di awal, di tengah, dan di akhir. #JustAllah

24. Smoga Allah catatkan sgala amal-amal kita bernilai di mata-Nya. aamiin. Mari semangat tuk kembali luruskan niat kita, wahai sahabat! #JustAllah

25. Karena Allah, teruslah sebar berjuta kilau cahaya-Nya kepada sesama. Semoga menjadi jalan kita bertemu di jannah-Nya. Aamiin #JustAllah

From Twitter : @ShiningMuslimah
Yuk ikutan follow..

Sahabat, Just Reminder> Allah dulu, Allah terus, Allah lagi. Semoga berkenan 🙂 silahkan di share kepada yang lain. Moga manfaat..

UNTAI DO’A

Bismillah, najmthree kembali berbagi melalui tulisan. Tulisan ini merupakan salah satu hikmah yang awalnya ingin berbagi lewat sebuah buku terbaru mengenai hikmah dari ibadah karya mas Ahmad Rifa’i Rif’an sehingga judul tulisan ini adalah Untai Do’a. Namun ternyata masuknya tulisan ini belum menjadi rezeki najmthree. Semoga tulisan ini mampu menginspirasi sahabat tuk terus semangat meraih impian. Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin! Selamat menyimak 🙂

Gambar

Melanjutkan studi ke jenjang berikutnya adalah impian setiap manusia, namun apalah daya ketika harapan untuk bercita-cita pun terbentur dengan kendala.  Seharusnya tidak ada sedikitpun ruang untuk mundur, yang ada hanyalah pilihan untuk terus maju dan tetap bertahan walau badai tak henti menerpa. Ya, begitulah kisah ini mampu bertutur untuk membagi sedikit memori agar menjadi hikmah yang menginspirasi.

Saya adalah sarjana farmasi dari universitas islam negeri di Jakarta. Alhamdulillah, tahun 2011 berhasil menyelesaikan studi dengan hasil memuaskan. Harapan untuk melanjutkan perkuliahan pada program profesi apoteker sudah terbayang-bayang di depan mata. Karena bagi saya, seorang sarjana farmasi tidak akan lengkap tanpa menjadi apoteker sama halnya dengan sarjana kedokteran yang tak lengkap tanpa menjadi dokter, dan sarjana keperawatan yang tak lengkap tanpa menjadi perawat.

Untuk menjadi seorang apoteker, saya harus melanjutkan studi di universitas lain karena di tempat saya berkuliah belum menyediakan program profesi apoteker. Justru itu kesempatan baik, agar saya dapat menjadi kaya akan ragam bahasa ilmu yang diajarkan di universitas lain. Seusai kelulusan, saya sangat berharap dapat mengikuti ujian masuk apoteker UI namun singkat cerita saya tidak jadi mengambil pilihan untuk kuliah di UI karena saya masih fokus bekerja di apotek sebuah rumah sakit swasta.

Setelah resign dari pekerjaan, saya mencari informasi pendaftaran apoteker di manapun. Satu-satunya universitas negeri yang waktu pendaftarannya tepat dan terdekat dari Jakarta adalah ITB. Ya Allah, kala itu saya sangat ngeri membayangkan apakah saya mampu masuk ke ITB. Kata orang, ujian masuk apotekernya saja sangat sulit, banyak sekali yang berguguran, dan tidak diterima masuk program studi apoteker ITB. Belum lagi perkuliahan yang cukup padat, dan di ujian akhir kelulusan apoteker konon mengerikan karena dilaksanakan dalam beberapa tahap, serta akan diuji 9 dosen dari berbagai bidang farmasi dan praktisi. Ucapan yang paling dikenal dikalangan teman-teman saya, “Wah kalau ITB mah, susah masuk susah keluar!.” Jleb banget.

Saya tidak peduli apapun kata orang, justru itu adalah sebuah tantangan bagi diri saya untuk buktikan bahwa saya mampu. Semangat saya menggebu-gebu sekali untuk masuk ke ITB, ditambah dengan dukungan ayah tercinta. Nyatanya perjalanan menggapai impian tak selamanya mulus karena selalu akan ada badai yang menghembus. Ibu yang saya cinta, tak mendukung impian saya untuk melanjutkan kuliah apoteker dengan segera karena ibu menginginkan saya untuk bekerja dahulu di tengah kondisi keluarga yang sedang menghadapi kesulitan keuangan.

Ibu saya mengatakan sesuatu yang membuat saya pilu, “Kamu jangan mimpi deh sekarang, nanti saja kuliahnya. Adik kamu juga kan baru mau masuk kuliah. Gantian lah dulu. Masa adikmu tidak kuliah.”

Saya berkata, “Ya Allah, ibu. Insyaallah adik tetap akan kuliah. Saya akan usaha supaya bisa tetap lanjut apoteker, entah mungkin dengan mencari beasiswa, intinya saya tetap akan lanjut. Hanya setahun kan kuliahnya, saya mohon sedikit bersabar untuk kesuksesan anakmu ini ibu. Allah itu Maha Kaya.. ”

Seminggu menjelang ujian masuk apoteker ITB ikhtiar saya dirasa belum masksimal, bahkan saya masih disibukkan dengan urusan da’wah kampus. Namun saya tak kan pernah lupa bahwa do’a-do’a yang saya lantunkan begitu gencar di setiap sholat wajib dan sunnah. Untai deras air mata pun berpadu menambah syahdu suasana kemesraan bersama Allah. Saya selalu panjatkan do’a yang tak putus, agar Allah berikan hasil terbaik apakah saya akan diterima di ITB atau tidak.

Do’a, ia begitu indah dan mudah di ucap. Ia selalu mampu menjadi penguat jiwa, pelebur dosa, dan pelipur lara. Ada banyak do’a yang begitu mempesona, saat itu untai do’a yang mengalun indah bersama lirih air mata kesungguhan selalu menemani seusai aktivitas sholat saya.

 “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam perkara ini, dan aku memohon kepada-Mu tekad kuat yang lurus, dan aku memohon kepada-Mu untuk bisa mensyukuri nikmat-Mu dan beribadah kepada-Mu dengan baik. Dan aku memohon kepada-Mu lisan yang jujur, dan hati yang selamat. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang engkau ketahui, dan aku memohon kebaikan yang Engkau ketahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau adalah Maha mengetahui segala yang ghaib.” (HR. At-Tirmidzi (3329), An-Nasa’i (1287), dan Ahmad (16491)).

Hari ujian masuk apoteker ITB telah tiba, namun setelah selesai ujian saya merasa amat pesimis karena ada banyak soal yang tak yakin dijawab. Saya tawakkal pada Allah, biarlah Allah memberi keputusan terbaik. Dua minggu kemudian, hasil ujian diumumkan. Dari 49 peserta yang mengikuti ujian masuk yang lolos hanya 9 orang, dan salah satu diantara sembilan orang itu adalah saya, subhanallah wal hamdulillah, allahu akbar.

Diri ini kembali terngiang pada sepotong untaian do’a yang berulang-ulang pernah terucap, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebahagiaan dalam qodho’, kedudukan sebagai syuhada’, kehidupan yang bahagia, dan kemenangan atas musuh. Ya Allah, sesungguhnya aku menyerahkan kebutuhanku kepada-Mu sekalipun nalarku tidak sampai dan amalku sedikit, aku membutuhkan rahmat-Mu.”(HR. At-Tirmidzi (3341), dan Ath-Thabarani (Al-Kabir/10520).

Jelas sekali tergambar dalam untai do’a tersebut bahwa kita sangat bergantung kepada Allah. Kita harus menyerahkan segala keputusan terbaik pada-Nya, dan yakin bahwa Allah akan mengabulkan segala pinta dengan rahmat-Nya meski nalar kita tidak sampai dan amal kita begitu sedikit. Subhanallah, sungguh, kabar kelulusan saya diantara sekian banyak peserta merupakan sebuah kabar terindah, membuat bahagia hati sungguh membuncah. Ah, kalau bukan karena kebaikan Allah mungkin saya tidak akan berdiri disini. Alhamdulillah, do’a-do’a yang melangit itu, mampu mengantarkan saya mewujudkan salah satu pelangi impian.

Permasalahan baru kembali muncul, bagaimana dengan biaya kuliah? 12 juta di semester pertama sudah harus terbayar dalam waktu 1 minggu. Lagi-lagi, Allah begitu baik pada saya. Allah menitipkan kemudahan itu melalui abang saya yang mendapatkan rezeki di awal usahanya pas sebesar 12 juta dan langsung dikirimkan ke rekening saya. Allahu akbar, bulir air mata ini tak mampu terbendung. Allah kabulkan segala pinta dengan begitu indah, karena Dia tahu ini adalah jalan yang tepat menuju ridho-Nya dalam meraih ilmu.

Saudaraku, teruslah berdo’a karena do’a adalah perintah-Nya, dan menjadi sarana terkabulnya pinta. Janganlah lupa bahwa sebaik-baik do’a tak kan sempurna tanpa diiringi kesungguhan ikhtiar dan diakhiri dengan keindahan tawakkal pada-Nya.

Yakinlah bahwa tidak ada sesuatu yang tak mungkin untuk diwujudkan karena hal itu mudah bagi Allah. Berdo’alah, memohonlah pada-Nya agar ia kuatkan kakimu melangkah menuju ikhtiar terbaik dan hasil terbaik, serta lihatlah betapa indahnya cara Allah mengabulkan segala impian dan harapanmu.

*Saat ini saya masih menempuh indahnya perjuangan menuntut ilmu, mohon do’a agar Allah mudahkan jalan ini menapaki jalan menuju syurga-Nya melalui ilmu. dan Semoga sahabat, Allah mudahkan dalam mencapai segala impian. aamiin

*Najmthree*

(Bandung, 9 Desember 2012)