Sayang kalian karena Allah, Adik-adiku…

Hari-hari terus berlalu, menuai lembaran-lembaran kisah kebersamaan kita. Tak terasa sudah beberapa tahun terlewati  sejak pertama kali kita bertemu. Ternyata sebegitu cepatnya kalian dewasa, sebegitu cepatnya kalian bertumbuh menjadi manusia yang tangguh akan tuntutan dakwah ini, sebegitu cepatnya kalian merasakan manis pahitnya berjuang di jalan ini. Tapi kami yakin kalian pasti mampu bertahan, kalian hebat, kalian tangguh, kalian kuat, dan semua itu hanya akan kalian dapatkan dari Allah Azza Wa Jalla, Sang Pemberi Kekuatan.

Ah adiku-adik, maaf jika terkadang kami masih saja terus mengkhawatirkan kalian,  masih saja merasa bahwa banyak hal yang harus terus kalian pelajari dari para pendahulunya. Kami masih saja sering bertanya, walau mungkin saat itu kalian sedang lelah. Sejujurnya Kami menyayangi kalian karena Allah.. Belum pernah diri kami, sebegitu sayangnya dengan adik-adik seperti kalian. Betapa senangnya diri kami, setiap ada kesempatan bertemu, bercengkrama, atau pergi ke tempat yang jauh bersama kalian. Betapa senangnya diri kami ketika kalian masih bisa berbagi beban yang terasa berat di pundak kalian, sungguh tak masalah bagi kami.. Insyaallah, kami akan berusaha membantu apapun yang kami rasa mampu. Maaf, jika sampai saat ini masih sedikit yang bisa kami berikan untuk kalian. Ambillah sisi baik dari diri kami, dan buanglah sisi buruknya.. Kami berharap selalu ada amal-amal jariyah yang kami wariskan untuk generasi dakwah ke depannya. Betapa bahagianya kami jika generasi yang datang setelah kami, lebih baik dari diri kami dalam segala hal.

Kita semua tak akan selamanya bersama dalam satu tempat, maka saat ini selama kami masih mampu dan memiliki saat-saat kebersamaan itu bersama kalian, insyaallah kami akan berusaha semampunya untuk menggenggam ruang-ruang kebersamaan itu. Semoga kalian tidak bosan pada kami. Kami hanya berupaya, memaksimalkan waktu lapang ini sebelum datang waktu sempit. Karena sejatinya, masing-masing diri kita punya langkah dan rencana ke depan, maka kami tidak tahu apakah kedepan kita masih bisa bersama sedekat ini. Semoga Allah selalu menjaga kita dalam balutan ukhuwah dan dakwah karena-Nya.  Mohonlah pada-Nya, agar DIA selalu menguatkan langkah-langkah kita menapaki jalan ini.. Terus semangat untuk berjuang dalam dakwah yang indah ini hanya karena-Nya.. Sayang kalian karena Allah… 🙂

Lirik dari Sigma ini tepat sekali menggambarkan Senandung Ukhuwah kita..

Diawal kita bersua, mencoba untuk saling memahami.

Keping-keping di hati terajut dengan indah, rasakan persaudaraan kita.

Dan masa-pun silih berganti, ukhuwah dan amanah tertunaikan.

Berpeluh suka dan duka, kita jalani semua semata-mata harapkan ridho-Nya.

Sahabat, tibalah masanya, bersua pasti ada berpisah.

Bila nanti kita jauh berpisah, jadikan rabithoh pengikatnya,

Jadikan do’a ekspiresi rindu. Semoga kita bersua di surga.

(Najmthree :))

(21 May 2012)

(Sayang kalian karena Allah, adik2ku)

Teladan yang telah dijamin syurga..

Para Nabi dan Rosul, Para Shohabiyah, Salaffusholeh, dan orang-orang yang bertaqwa pada Allah, banyak diantara mereka merupakan orang-orang yang telah dijamin syurga. Alangkah luarbiasanya keimanan dan ketaqwaan mereka pada Allah, segala amal perbuatan, perkataan, ibadah-ibadah yang dilakukan pastilah memiliki keistimewaan khusus dimata Allah karena bukanlah sembarang manusia yang Allah berikan jaminan langsung menuju ke syurga..

Selain Rosulullah shollallahu ‘alayhi wassallam yang patut kita teladani dari segala sisi, para sahabat beliau yang senantiasa setia mengikuti dan menyertai perjalanan da’wah beliau pun dapat kita teladani kepribadiannya, ibadahnya, segala keteguhannya yang menyebabkan mereka dijamin syurga oleh Allah.

Mengutip dari sebuah buku “10 orang dijamin ke syurga”, banyak kisah inspiratif yang dapat kita ambil ibrohnya..ya, 10 orang sudah pasti dijamin syurga…siapakah mereka? yang pasti kita bukan termasuk di dalamnya yang disebutkan pada buku tersebut..Namun kita bisa menjadi yang selanjutnya dijamin Allah ke syurga jika kita mau berusaha, mengumpulkan bekal sebaik mungkin untuk persiapan menuju Allah. Meneladani mereka segala perbuatan mereka, dan senantiasa berharap memohon keridhoan Allah..

10 orang yang disebutkan adalah

1. Abu Bakar Assiddiq

2. Umar Bin Khottob

3. Ustman Bin Affan

4. Ali Bin Abi Tholib

5. Thalhah Bin Ubaidillah

6. Zubbair Bin Awwam

7. Abdurrahman Bin Auf

8. Sa’ad Bin Abi Waqqosh

9. Said Bin Zaid

10. Abu Ubaidah Bin Jarrah

Perjuangan yang dilakukan oleh para sahabat di atas, sungguh berat. Mereka harus rela mengorbankan harta, jiwa, dan raga, bahkan keluarga demi meneggakkan Dienullah di muka bumi..Keimanan mereka begitu teguh tertancap dalam diri, menyatu dalam darah mereka, tidak peduli ujian apapun yang menghadang tetap mereka hadapi dengan keteguhan, dan kesabaran luarbiasa, pengharapan yang penuh akan pertolongan Allah..Apa yang mereka perbuat tidak dapat dibandingkan dengan apa yang kita lakukan saat ini..Pantaslah jika mereka sudah dijamin syurga oleh Allah..

Allah mengatakn dalam surat cinta-Nya :

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar”.  (Q.S. Ali-Imron : 142)

“Dan betapa banyak Nabi yang berperang didampingi sejumlah besar pengikutnya yagn bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat, dan tidak pula menyerah kepada musuk. dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Q.S. Ali-Imron : 146)

3 Diantaranya  adalah….

Abu bakar merupakan sahabat yang menerim yang ditawarkan Rosulullah tanpa ragu, Rasulullah berkata “Tiada aku mengajak seorang masuk Islam, tanpa ada hambatan, keraguan, tanpa mengemukakan pandangan dan alasan, hanya Abu Bakar lah. Ketika aku menyampaikan ajakan tersebut, dia langsung menerimanya tanpa ragu sedikitpun.” (Dari kitab Al-Bidayah Wannihayah)

Dan keimanan abu bakar yang begitu besar ….

“Jika ditimbang keimanan Abu bakar dengan keimanan seluruh umat akan lebih berat keimanan Abu Bakar.” (HR. Al-Baihaqi)

Subhanallah, coba bayangkan jika kita berada pada zaman itu mungkin kita tidak akan serta merta menerima begitu saja, atau mungkin kita juga menjadi salah satu orang yang mencaci maki Rosulullah dan menyebutnya gila..Tapi, seorang Abu Bakar beliau memang selalu membenarkan Rosullah..Pantaslah beliau digelarkan dengan Assiddiq..Dan bayangkan jika keimanan kita dibandingkan dengan keimanan Abu Bakar, niscaya akan sangat jauh berbeda..kita mungkin belum ada apa-apanya..Oleh karena itu, keteladanan akan sosok Abu Bakar dapat kita amalkan..

Thalhah Bin Ubaidillah

Pada saat perang uhud, semua musyrikin berusaha mencari Rosulullah dengan pedang-pedangnya yang tajam dan mengkilat mereka terus-menerus mencari Rosulullah. Mereka amat gemas, benci, dan penasaran karena sewaktu hijrah ke Madinah mereka tidak berhasil menemukan Muhammad. Kini mereka menemukan Muhammad, kaum muslimin dengan sekuat tenaga melindungi Rosulullah walaupun tombak dan panah menghujam mereka, dan hati mereka berucap teguh “Aku Korbankan ayah ibuku untuk engkau, Ya Rosulullah”..

Salah satu mujahid tersebut adalah Thalhah Bin Ubaidillah, Ia berperawakan tinggi kekar. Ia ayunkan pedangnya ke kanan dan ke kiri. Ia melompat ke arah Rosulullah yang tubuhnya telah berdarah. Dipeluknya tubuh Rosulullah dengan tangan kiri dan dadanya. Sementara pedang yang ada ditangan kanannya ia ayunkan ke arah lawan yang mengelilinginya seperti laron yang tidak memperdulikan maut. Alhamdulillah Rosulullah selamat..Peristiwa ini merupakan pelajaran dan pengalaman pahit yang tidak terlupakan..

Subhanallah..Allahu Akbar..Beranikah kita seperti Thalhah yang begitu cintanya pada Rosulullah dan rela mengorbankan dirinya..Tidak dapat dibayangkan suasana mengerikan pada saat itu..perang qital yang mempertaruhkan nyawa,,yang diperolehnya bisa saja hidup mulia atau mati syahid..

Abu Ubaidah Bin Jarrah

Abu bakar Assiddiq menyampaikan suatu kisah tentang jasa Abu Ubaidah pada perang uhud..Rosulullah terkena panah yang mengenai rahang atas wajah beliau. Ketika itu beliau memakai tutup kepala dari besi sehingga kepingan besi penutup wajahnya menancap ke rahang beliau di dua tempat. Dari wajah beliau darah terus bercucuran. Dengan segera berlari secepat kilat menyambar, Abu Ubaidillah lebih dahulu menghampiri Rosulullah dibandingkan Abu Bakar..Lalu Abu Ubaidillah berkata kepada Abu Bakar, “Aku mohon atas nama Allah, Hai Abu Bakar agar egkau membiarkan aku mencabut lempengan beesi ini dari wajah Rosulullah”..

Abu Ubaidah lalu menggunakan kedua gigi depannya untuk mencabut besi tajam yang menancap ke dalam dua sisi rahang Rosulullah. Setelah mencabut besi itu, Abu Ubaidah terjatuh dan kedua gigi atas dan gigi bawahnya tanggal. Kemudian Ia menggigi besi yang kedua dengan kedua gigi atas dan bawahnya yang masih tersisa, dan ternyata giginya pun tanggal juga.

Abu Bakar dan Rosulullah amat terharu melihat kesetiaan dan pengorbanan Abu Ubaidillah sampai-sampai rela giginya hilang. Sejak itu di kalangan kaum muslimim Ia dikenal sebagai si ompong, karena kedua gigi atas dan gigi bawahnya telah tanggal..

Lagi-lagi, tiada kata yang dapat diucapkan..Subhanallah,,Luarbiasa..Meneladani keteguhan mereka tidaklah merugi, justru akan menjadi sebuaah motivasi agar kita senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan..

”Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. Ali-Imron : 133)

Jika mereka memiliki keistimewaan yang menghantarkan ke syurga, maka bagaimana dengan kita?? Kita adalah manusia yang belum mendapat jaminan ke syurga..jika ditimbang-timbang antara amal kebaikan dan keburukan, mungkin keburukan kita lebih banyak..Ya Allah, hanya pada-Mu hamba memohon ampunan, memohon ridho-Mu atas setiap aktivitas hamba agar bernilai dimata-Mu, dan izinkan kami memasuki syurga-Mu, bertemu dengan-Mu, berkumpul dengan Rosul-Mu, dan dengan orang-orang yang mencintai-Mu..Amiin..

Dikutip  dari buku :

“10 orang dijamin syurga karangan Abdul latief Ahmad ‘Aasyur.

*Najm_Three*

(Inspiring me :))

Fiqh Sholat,,yuk lihat sholat kita

Shalat disyari’atkan sebagai bentuk syukur seorang hamba kepada Allah Subhanahu wata’ala, menghilangkah dosa dan kesalahan, ungkapan kepatuhan dan merendahkan diri di hadapan Allah, menggunakan anggota badan untuk berbakti kepada-Nya. Dengan sholat, seseorang bias membersihkan dan mensucikan jiwa dari dosa dan kesalahan, dan terbiasa dengan ketaatan dan ketundukan.

Shalat merupakan salah satu rukun Islam setelah syahadatain dan amal yang paling utama setelah syahadatain. Barangsiapa menolak melakukannya, karena ketidak-tahuan maka dia harus diberi pemahaman tentang wajibnya shalat, barangsiapa tidak meyakini tentang wajibnya shalat (menentang) maka dia telah kafir. Barangsiapa yang meninggalkan shalat karena menganggap remeh atau malas, maka wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah. Rasulullah bersabda :

” Pemisah di antara kita dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka sungguh dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah).

Shalat adalah ibadah yang pertama kali diwajibkan Allah dan nantinya akan menjadi amalan pertama yang dihisab diantara amalan-amalan manusia.

Yuk, lihat bagaimana dengan sholat kita..Ada beberapa hal yang sering tidak diperhatikan, berkaitan dengan gerakan sholat. Diantaranya :

1. Memandang Tempat Sujud

Pada saat mengerjakan sholat, Rasulullah menundukkan kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke tempat sujud. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin ’Aisyah : ”Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam tidak mengalihkan pandangannya dari tempat sujud (di dalam sholat).” (HR. Baihaqi dan dishahihkan oleh Syaikh Albani)

Rasulullah juga melarang seseorang menoleh ke kanan atau ke kiri ketika sholat, beliau bersabda : ”Jika kalian sholat, janganlah menoleh ke kanan atau ke kiri karena Allah akan senantiasa menghadapkan wajah-Nya kepada hamba yang sedang sholat selama ia tidak menoleh ke kanan atau ke kiri.” (HR. Tirmidzi dan Hakim)

2. Menegakkan telapak kaki dan saling merapatkan/menempel antara dua tumit.

Berkata ’Aisyah : ”Aku kehilangan Rasulullah shalallahu ’alaihi wasallam padahal beliau tadi tidur bersamaku, kemudian aku dapati beliau tengah sujud dengan merapatkan kedua tumitnya (dan) menghadapkan ujung-ujung jarinya ke kiblat,….”(Diriwayatkan oleh Imam Al hakim dan Ibnu Huzaimah)

3. Merapatkan shaf

– Berdasarkan hadits Rasulullah, berkata Anas : ”Salah seorang diantara kami dahulu menempelkan bahu kami dengan bahu orang lain (disampingnya) dan kakinya dengan kaki orang lain (disampingnya). (HR. Bukhari)

– Berkata An-Nu’man : ”Saya melihat salah seorang kami menempelkan tumitnya dengan tumit orang lain disampingnya.” (HR. Bukhari)

– “Rapatkanlah shaf2 kalian dan saling mendekatlah di antara barisan. Dan luruskanlah (barisan) dengan leher. Karena demi Dzat Yang Jiwaku berada dalam genggamanNya, sesungguhnya aku meliahat setan masuk di lobang shaf. Setan itu seakan-akan seperti kambing kecil yang berwarna hitam.” (Hr. Abu Dawud  dan Ibnu Khuzaimah ).

Masih banyak lagi hal yang harus kita perhatikan dalam sholat, semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat dalam penerapan sholat kita. Wallahu’alam bish-showab. (najm)

Maraji’ : Sifat dan karakter Solat Nabi Sholallahu ‘alahi wasallam

NB : karena untuk bahan buletin dikampus jd nggak bisa panjang2 tulisannya..semoga bermanfaat 🙂

“Ketika Tertipu Dua Nikmat”

Kembali mengutip tulisan penuh makna dari majalah tarbawi edisi lama mengenai akan pentingnya memanfaatkan waktu. So, Kudu harus musti baca tulisan yang satu ini….

Semoga bermanfaat….. 🙂

Dua nikmat yang banyak orang tertipu adalah waktu luang dan kesehatan. Rosulullah telah memperingatkna kita dengan hadits itu. Namun berlambat-lambat dalam nikmat waktu luang nampaknya kini menjadi amat wajar. Berlambat-lambat dalam nikmat kesehatan, nampaknya kini menjadi amat lumrah. Tertipu dalam kedua nikmat itu, kita seringkali merada beruntung. Merasa punya banyak waktu beristirahat, meski belum lagi bekerja keras. Belum lagi menuntaskan kerja dengan cepat dan matang dalam kualitas maksimum. Merasa bisa melakukan segalanya, lantas menabrak dan menyimpang sekenanya.

Nafas bergegas berkompetisi dengan waktu dalam wadah kebajikan berubah menjadi aroma asing. Meski itulah yang membuat kita jadi punya arti. Dan manusia yang hidup tanpa arti, kematiannya sebenarnya sudah tiba. ”Takbirkan saja empat kali,” kata Imam Syafi’i. Maksudnya kiasan untuk sholat jenazah.

Tertipu dalam nikmat waktu luang, akan menggiring kita makin jauh. Jadi tukang khayal. Jadi panjang angan-angan. Alih-alih bersegera memangkas semua itu, kita justru tenggelam. Tertipu bualan angan-angan. Orang-orang sholeh terdahulu berkata, ”Siapa yang suka berangan-angan, maka buruk amal perbuatannya.” Tertipu dalam lantunan angan-angan dalam lingkup yang lebih ”ringan”, boleh jadi kita ada di dalamnya. Dan kita tak cepat-cepat membebaskan diri. Kita masih berlambat-lambat merombak diri dalam kondisi darurat. Kondisi ketika jiwa bernafas pengkhayal, lalai dan tertipu.

Kita tertipu dalam rasa akan kekal di dunia, hingga kerja kita hanya sesuai dorongan duniawi. Kita menghabiskan waktu malam dan siang hanya untuk memperbaiki kehidupan dunia. Hati dan jasad hanyut dalam usaha itu. Lupa dan lalai pada kehidupan akhirat dan berlambat-lambat melakukan amal sholeh untuk akhirat. Bersemangat dan antusias dalam urusan keduniaan. Sedang dalam urusan akhirat, kita berlambat-lambat dan menundanya, tapi kita tetap saja merasa puas.

Padahal Rosulullah bersabda, ”maut adalah hal ghaib yang paling dekat ditunggu kehadirannya.” Padahal orang-orang sholeh terdahulu berkata, ”Seandainya kalian melihat ajal dan prosesnya, niscaya kalian akan benci dengan angan-angan dan tipu dayanya.” Mereka juga berujar, ”Berapa banyak manusia yang menyongsong harinya tanpa bisa melewati hari itu dengan sempurna. Dan berapa banyak manusia yang berangan-angan hidup pada hari esok sedangkan dia tidak mengalaminya lagi.” Dan, ”Berapa banyak orang yang tertawa lebar, padahal kain kafannya telah dikeluarkan dari tempat pemutihan kain.”

Sungguh fatal bila kita masih terkekang sikap berlambat-lambat melakukan amal sholeh. Sungguh fatal jika kita tak bergegas bertaubat dari kesalahan. Dan hanya berlindung dibalik kata ’akan’. Seorang ulama salaf berujar, ”Saya mengingatkanmu tentang perkataan ’akan’, sebab kata itu sudah banyak mencegah terjadinya kebaikan dan menunda dilakukannya perbaikan.”

Taubat itu niscaya. Lihatlah bagaimana Umar Bin Khattab radhiyallahuanhu, yang begitu cepat bertaubat ketika membaca surat Thoha. Membaca dari awal hingga kahir, pandangannya berubah ketika sampai pada ayat, ”Akulah Allah, tidak ada Tuhan menlainkan Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingatku.” (Q.S. Thoha:14). Hati yang membatu seketika cair. Kapan kita akan bersegera mencairkan hati?

Sungguh tragis jika di alam nanti, yang bisa kita lakukan cuma kembali berangan-angan : andai datangnya kematian ditangguhkan. Itu mustahil adanya. Bergegas dan bersegera Cuma bisa kita lakukan di dunia. Hari ini, dalam sependek waktu yang tersisa..

Wallahu’alam bish-showab..

*Najm_Three*

(Waktu adalah kehidupan)

“Jangan berlambat-lambat di saat harus bertindak cepat”

Judul di atas kuambil dari majalah tarbawi edisi lama, saat itu tengah syuro diantara hijab dengan rak berisi buku-buku bagus..Majalah ini menyita perhatianku, karena pada saat itu kakak kelasku sedang membacanya pula..Hmm, sangat menarik dan begitu menantang rasanya membaca majalah ini…Yaa, yang pasti menantang hati kita untuk selalu siap menerima dan menjadi lebih lembut setelah membaca majalah tarbawi, menantang mata kita apakah akan keluar air mata kesadaran dari diri kita..Dan alhamdulillah, ketika membaca majalah ini ada rasa yang luar biasa berbeda, begitu menyentuh hati dan tanpa sadar sering sekali air mata jatuh mengalir lembut…Subhanallah…

Sungguh, tulisan yang menyadarkan…karena tak dapat dipungkiri begitu seringnya kita berlambat-lambat dalam segala hal, menunda-nunda pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan, berpikir telalu lama apakah harus mengerjakan atau tidak, melalaikan waktu, tidak bersegera dalam melaksanakan kebaikan..Aah, terlalu sering bahkan sudah menjadi hal yang lumrah….Kapan kita mau bangkit dari semua itu? Kapan penyakit-penyakit seperti mau kita sembuhkan dari di kita? Kapan? Semua jawabannya kembali kepada diri kita…Padahal di dalam Al-Qur’an Allah sering sekali bersumpah dengan waktu, hal itu menunjukkan betapa pentingnya memanfaatkan waktu dengansebaik-baiknya…

Allah mengingatkan kita dengan surat cinta-Nya :

Demi waktu, sesungguhnya manusia itu rugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih , yang saling nasihat menasehati dalam kebenaran dan saling nasihat dalam kesabaran. (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Aku juga sedang belajar untuk merubah diri..karena sebelumnya aku merasakan semua hal itu..Ingin sekali beranjak, bergegas, berubah menjadi lebih baik dan menghargai waktu..tapi mengapa begitu sulit? Mungkin keinginan kita, niat kita, azzam kita untuk berubah belum begitu kuat..Sampai pada akhirnya, ujian itu datang…Allah begitu sayang padaku…sehingga Allah memeberikan aku sakit..Yaah, semua itu baru terasa ketika kita sakit, ketika kita ditimpa suatu musibah, mungkin kita akan berharap seandainya dulu pada saat sehat bisa melakukan semuanya, kan jadinya tidak begini..Penyesalan selalu hadir belakangan, dan semua itu sudah tiada guna..

Tapi kusyukuri semuanya, karena jika Allah tidak menegurku..Aku mungkin tidak akan pernah berubah..Coba lihat betapa sayangnya Allah pada kita, namun kita yang sering sekali mengacuhkan Allah…Maka, jika bisa berubah dari sekarang, cepatlah melakukan perubahan itu, lebih menghargai waktu,,,,jangan sampai Allah timpakan kita dengan penyakit, musibah, atau ujian lain dulu baru kita akan tersadar dari setiap kelalaian kita..

Selagi masih Allah kasih nikmat sehat, masih diberikan umur sampai saat ini, cepat bergegas..karena sesungguhnya kematian adalah hal yang paling dekat dengan kita, kita tidak akan pernah tau kapan ajal menjemput kita…kematian tidak akan menunggu kita untuk berubah dulu baru datang, tapi bisa kapan saja…Oleh karena itu, mari kita sama-sama memperbaiki diri, menyadari setiap kesalahan yang kita lakukan, diantaranya kelalaian dalam memanfaatkan waktu, berlambat-lambat dalam setiap hal, tidak bersegera dalam berbuat kebaikan atau berbagai kesalahan-kesalahan lain, mengintrospeksi diri kembali sehingga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, pribadi yang mencintai Allah dan Allah pun mencintainya…Amiin…

Sedikit kutipan tulisan yang aku dapatkan dari tarbawi :

”Jika kamu menyongsong pagi, maka janganlah menunggu waktu sore. Jika kamu berada pada waktu sore, maka janganlah menunggu waktu pagi.” Demikian Ibnu Umar berkata. Dalam banyak hal, sesungguhnya berlamba-lambat itu menipu dan melukai diri serta orang lain. Setidaknya berlambat-lambat dalam konteks tabiat manusia yang lebih suka berleha-leha, malas, dan tak mau segera berbuat.

Maka kita selalu butuh kebergegasan dalam tindakan cepat dan matang, ketika berlambat-lambat berarti petaka bagi diri dan orang lain. Kita perlu kebergegasan dalam tindakan cepat dan matang, ketika keadaan darurat tidak sedang menunggu kita berlambat-lambat.

Semoga Allah memudahkan langkah-langkah kita untuk bersegera dalam kebaikan, dan menjauhkan dari egala hal yang mencegah kita bergegas…

Wallahu’alam bish-showab..

*Najm_Three*

(Fastaqim!)  🙂