Mozaik Hikmah RS Part 2 “Ibarat satu tubuh”

Sebulan ini, waktu seolah giat mengantarkan mozaik-mozaik hikmah dalam ruang bisu nan ramai bernama Rumah Sakit. Disana berkumpul berbagai macam orang yang menantang hidup dalam balutan luka hati, pikiran, jiwa maupun raga. Bertarung nyawa antara hidup dan mati, bergolak suka maupun duka. Riuh ramai menemani hari-hari  bersahaja para pencari ilmu yang haus akan jiwa empati dengan sesamanya….

Perjalanan mencari mozaik-mozaik hikmah yang terpencar dimulai kembali pada suatu tempat bernama Seruni. Ia merupakan bangsal kelas I dan kelas II tempat perawatan pasien penyakit dalam dengan rupa-rupa derita yang mengikutinya. Saya bersama satu orang teman bertugas selama seminggu di paviliun tersebut. Beragam lika-liku yang kami lalui selama berada di bangsal seruni, dan semuanya memberikan arti mendalam yang tak terlupa bagi kami.

Aktivitas pagi, kami sebagai calon farmasis di bangsal selalu dimulai dengan pengecekan loker obat pasien, mengecek persediaan obat yang ada, selanjutnya membantu mempersiapkan obat siang berupa obat oral (obat minum) dan obat suntik untuk pasien bersama-sama dengan perawat. Alhamdulillah, kami bersyukur karena telah mendapatkan pengalaman baru yaitu bisa belajar mempersiapkan obat langsung ke pasien, melarutkan obat suntik, setelah itu mendistribusikan obat oral ke pasien serta dijelaskan cara penggunaan obatnya, waktu untuk meminum obatnya apakah sebelum makan, sesudah makan, pada saat makan, dan beragam hal lain yang penting diketahui terkait dengan terapi pasien.

Ketika matahari sudah semakin tinggi memperlihatkan sinarnya, barulah dokter dan beberapa koass datang (visit) untuk memeriksa pasien. Kami yang secara penampilan tidak terlalu berbeda dengan koass karena sama-sama memakai jas putih berlengan pendek khas dokter, ikut visit bersama mereka. Maka tak jarang kami juga dikira dokter koass oleh pasien, maupun oleh koass yang bertugas disana pada saat-saat awal keberadaan kami di bangsal. Keikutsertaan kami dalam visit dokter dimaksudkan agar kami mengetahui perkembangan terapi atau pengobatan pasien sehingga jika ada perubahan, kami lebih mudah memantaunya.

Saya dan teman membagi tugas sebagai penanggung jawab pengobatan pasien dan masing-masing memegang 12 orang pasien. Saya mendapatkan pasien dengan nomor kamar genap. Dikamar-kamar itu beragam sekali penyakit pasien saya, mulai dari demam, sakit kepala berat, lemas sampai akhirnya harus dirawat, Diabetes biasa sampai berat yang terkena luka gangren (luka, jaringan mati) pada bagian kaki yang berbau busuk, pasien dengan penyakit leptospirosis yang sudah tidak bisa makan dan minum, pasien dengan penyakit hati yang terlihat dari tubuh dan bola mata yang menguning, pasien ascites (akumulasi cairan pada rongga perut) sehingga perut terlihat sangat besar seperti hamil dan yang terbanyak adalah pasien CKD (chronic kidney disease) atau gagal ginjal kronis sampai harus di hemodialis (cuci darah).

CKD menjadi hal yang biasa di bangsal seruni, karena saking banyaknya pasien dengan penyakit tersebut. Setiap pasien CKD sudah sampai tahap harus di HD (hemodialisis) rutin untuk untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme protein dan koreksi gangguan keseimbangan air dan elektrolit tubuh, karena jika tidak di HD maka pasien akan merasakan drop, lemas, kesulitan bernafas sampai parah, badan membengkak (udem), perut membuncit (ascites), terkadang suhu badan tinggi (demam), dan lain sebagainya. Sampai salah satu dokter residen (masih menempuh program spesialis) penyakit dalam yang selalu visit disana, sempat saya dengar beliau berkata,

”Duh, Pasien HD mulu ya.. Bosen saya. ”

Wajarlah dokter tersebut berkata seperti itu, karena saking berjubelnya pasien yang harus di HD baik yang rawat jalan maupun rawat inap, belum lagi karena tempat HD di RSUD Tangerang sangat terbatas sehingga mereka harus mengantri bahkan tak jarang yang batal HD padahal sudah jauh-jauh datang dengan ongkos pas-pasan. Miris sekali hati ini mendengarnya..

Saat saya visit ke pasien untuk mengecek obat oral apakah sudah diminum atau belum, perhatian saya seketika tertuju pada pasien CKD yang sedang menggigil dengan suara khas kesakitannya juga sesaknya nafas sedang menghimpit beliau.

Perawat yang sedang menyuntik pasien lain bertanya ke ibu tersebut ”Bu, kenapa?”

Dengan kesulitan, si ibu menjawab ”Haduuh, haduuh, saya menggigil..”

Seketika perawat tersebut mengambil obat penurun panas di loker, dan menyuruh saya meminumkannya ke pasien itu.

”Bantuin nih, kamu yang kasih minum obatnya ke pasien, ” kata perawat tersebut..

Seketika saya bingung, karena saya saat itu sendirian dan pasien dalam kondisi parah. Salah seorang keluarga pasien lain memberitahu bahwa anak beliau pagi ini belum datang, jadi beliau belum minum obat.

”Oh Ya Alloh, kasihan sekali ibu ini..sedang kesakitan tapi belum ada anaknya yang datang.” saya membatin dalam hati..

Akhirnya saya memanggil teman untuk membantu meminumkan obatnya, namun ternyata ibu tersebut belum juga makan pagi. Maka dengan tertatih kami berdua membangunkan ibu tersebut untuk duduk lalu saya suapi dulu makan paginya pelan-pelan. Anggap saja ini bagian dari kewajiban untuk menolong sesama, bayangkan jika itu adalah ibu kita sendiri, pasti kita tidak akan sanggup menolak untuk mengurusinya.

Setelah 3 suap bubur sum-sum khas makanan rumah sakit, ibu itu tidak mau makan lagi dan meminta langsung minum obatnya..Ya sudah tidak mengapa.. Sebutir parasetamol dapat diminum oleh ibu tersebut, diselingi dengan 5 sendok air putih untuk membantu menelannya. Sedih rasanya jika mengingat kejadian itu terlebih jika membayangkan jika beliau adalah anggota keluarga sendiri.

Anehnya, malah saya benar-benar sakit di malam harinya. Sepulang dari RSUD Tangerang, saya memutuskan untuk pulang ke rumah di palmerah, Slipi dengan menempuh perjalanan dua jam. Memang, sedari siang tadi saya sudah agak pusing berada di RS dan sampai rumah badan saya sudah mulai tidak enak sehingga di malam harinya badan saya panas. Jadi malam itu saya pun juga meminum parasetamol, obat penurun panas yang sama dengan yang tadi pagi saya minumkan ke pasien tersebut

”Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang dengan sesama mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakit.” (HR. Bukhari & Muslim).

Tak terasa butir bening keluar dari sudut mata saya, saat berbaring merehatkan tubuh yang lemah ini. Baru sakit seperti saja sudah tidak enak rasanya, apalagi jika benar-benar merasakan sakit seperti ibu tadi.. Inikah yang dinamakan, bahwa setiap muslim itu ibarat satu tubuh? Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota lain ikut merasakannya.. Nikmati saja kesakitan yang terasa ini. Semoga ini menjadi bagian penggugur dosa saya, sambil berharap agar esok saya sudah diberi kesehatan sehingga bisa melihat indahnya mentari pagi dan menggapai kembali mozaik-mozaik hikmah itu.

Tidak terbayang rasanya bagaimana menjadi mereka yang harus terbaring lemah begitu lamanya terlebih dengan keterbatasan biaya.. Bersyukurlah kita karena Alloh masih memberikan  nikmat sehat itu. Sungguh, nikmat sehat begitu berharga dan mahal harganya. Maka pantaslah jika Rosululloh mengatakan bahwa dua nikmat yang banyak orang tertipu adalah waktu luang dan kesehatan. Maka jagalah ia, agar kita bisa terus merasakan nikmat Alloh yang tiada tara ini..

Najm_Three 🙂

(Yuk, kita jaga bersama nikmat ini)

Iklan
By najmthree Posted in Hikmah

10 Orang Dijamin ke Surga..

Subhanallah..Segala Puji hanya Bagi Allah Robb semesta alam , yang menciptakan bumi ini terhampar luas sebagai tempat bagi hamba-hamba-Nya untuk leluasa beribadah pada-Nya..

10 Orang yang dijamin ke Surga..Siapakah mereka???

“yang pasti, kita tidak termasuk dalam 10 orang yang mendapat jaminan Allah ke Surga. tapi yakinlah bahwa kita bisa menjadi orang setelah mereka yang akan ditempatkan Allah ke surga-Nya. Salah satunya,  dengan cara meneladani mereka…”

Alhamdulillah, buku ini bisa kita baca untuk mengambil berbagai ibroh dan keteladanan dari orang-orang yang sudah dijanjikan surga oleh-Nya..

Selamat membaca…Semoga bermanfaat… 🙂

“10 Orang Dijamin ke Surga oleh Abdullatif Ahmad ‘Aasyur..

By najmthree Posted in Hikmah