CANTIK..

422049_359663157388144_1029910316_n

“Sesungguhnya kecantikan yang sebenarnya bukan hanya terletak pada kecantikan paras, tetapi yang terpenting adalah kecantikan hati, kecantikan akal, kecantikan akhlaq, kecantikan ruhiah. Betapa banyak orang yang cantik parasnya, tapi tidak bernilai cantik dimata Allah. Karena yang harus kita lakukan adalah membuat kecantikan ini bernilai dimata Allah. “

(NajmThree)

Iklan

Menjadi Muslimah Bercahaya

Cahaya yang sesungguhnya bukan hanya terletak pada cahaya kecantikan paras, tetapi yang terpenting adalah cahaya kecantikan hati, cahaya kecantikan akal, cahaya kecantikan akhlaq, dan cahaya kecantikan iman.

Berbicara mengenai wanita, pasti tidak akan ada habisnya. Ia seolah menjadi sosok yang akan terus menjadi sorotan bagi manusia manapun. Wanita, tidak heran selalu menjadi subjek dari setiap produk perkembangan zaman karena keindahan yang dimiliki. Produk zaman telah berhasil mengubah paradigma wanita, bahwa cantik fisik menjadi modal utama. Segenap manusia berhasil disihir dengan pandangan bahwa wanita cantiklah yang akan sangat bercahaya karena sorotan setiap pasang mata. Sampai-sampai karena pandangan yang salah itu, setiap wanita berlomba-lomba untuk mempercantik fisiknya tanpa memperhatikan aspek lain dalam dirinya. Padahal Islam telah menggariskan pedoman yang sangat jelas untuk menuntun para wanita berjalan pada koridor ketentuan-Nya.

Berbeda dengan wanita biasa, wanita yang telah mengaku Islam sebagai tuntunan hidupnya, akan sangat bahagia bila dipanggil dengan sebutan muslimah. Saya, kamu, dan mereka adalah muslimah yang telah Allah ciptakan dengan sebaik-baik penciptaan. Maka sudah menjadi keharusan bagi setiap muslimah untuk menjaga semua hal yang Allah berikan pada kita dengan kesungguhan. Muslimah harus menepis setiap pandangan yang mengatakan bahwa ia harus terkenal dan bercahaya hanya karena kecantikan dzhohir (fisik) semata. Namun, muslimah dituntut untuk bercahaya pula pada aspek kecantikan lain yaitu kecantikan ghoiru dzhohir (bukan fisik) seperti kecantikan hati, kecantikan akhlaq, dan kecantikan iman.

Bercahaya karena outer beauty itu biasa, namun bercahaya karena inner beauty itu baru luar biasa. Hanya muslimah yang cerdas, yang mampu merawat setiap kecantikan yang telah Allah gariskan dalam dirinya menjadi pancaran cahaya yang begitu indah dilihat. Maka sebagai muslimah, kita harus mengetahui hal apa saja yang dapat dilakukan agar kita mampu menjadi muslimah yang bercahaya di mata-Nya. Saudariku, mari kita cermati bersama hal-hal tersebut sebagai sarana untuk saling berlomba-lomba dalam kebaikan.

1. Bercahayalah karena pancaran kecantikan ruhiyah/iman

Aspek inilah yang utama dan paling utama, wahai muslimah. Sungguh kecantikan ini diperoleh atas dasar hubungan yang kuat dengan Allah, maka teruslah mendekat pada-Nya dengan segala ibadah wajib dan sunnah yang mampu kita kerjakan. Muslimah yang ingin bercahaya karena kecantikan ruhiyah harus selalu meluruskan niat dalam segala aktivitasnya agar ia hanya melakukan semata-mata karena Allah. Kecantikan ruhiyah atau kecantikan iman, akan berbuah pada terpancarnya kecantikan akhlaq. Maka pantaslah seseorang yang menjaga kecantikan ruhiyah diberi gelar tertinggi dengan sebutan wanita sholihah. Sebagaimana yang tercantum pada pesan cinta-Nya, “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah.”  (H. R. Muslim)

2. Bercahayalah karena pancaran kecantikan fikriyah/akal

Allah telah memberikan sebaik-baik akal kepada kita sebagai muslimah untuk dapat berpikir, untuk dapat membedakan mana yang baik dan buruk, untuk dapat melihat setiap potensi pada diri agar mampu dikembangkan. Muslimah haruslah cerdas, ia harus selalu mengisi waktunya dengan ilmu, mengisi hari-harinya dengan segala aktivitas yang manfaat, dan ia mampu mengembangkan setiap potensi yang Allah berikan agar menjadi muslimah berprestasi. Dengan begitu, ia akan sangat bercahaya karena cerdas memanfaatkan setiap titik kelebihan yang Allah titipkan.

3. Bercahayalah karena pancaran kecantikan jasadiyah/fisik

Kecantikan jasadiyah ini bukan berarti muslimah harus cantik secara fisik. Namun, saya lebih senang menyebut bahwa muslimah yang bercahaya karena kecantikan jasadiyah adalah seseorang yang mampu menjaga kesehatan tubuh dan kecantikan fisik. Pertama, hal yang harus didahulukan adalah kesehatan tubuh. Mengapa? Ya, karena aspek ini sering diabaikan oleh para muslimah bila dibandingkan dengan mengurus kecantikan fisiknya. “Dua nikmat yang banyak manusia lalaikan yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi)

Cara menjaga kesehatan tubuh yaitu dengan memberikan asupan makanan sehat, bergizi serta halal dan thoyyib. Beristirahat cukup, berolahraga ataupun melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari, menghindari stress, menjaga kesehatan lingkungan, serta banyak berpuasa merupakan sederet aktivitas yang dapat pula kita terapkan untuk menjaga kesehatan tubuh kita.

Kedua, hal yang harus diperhatikan adalah menjaga kecantikan fisik. Menjaga kecantikan fisik yaitu dengan menjaga kebersihan tubuh, merawat tubuh dan wajah, serta menjaga kerapihan dalam berpenampilan. Sesungguhnya setiap muslimah itu cantik, karena Allah telah menciptakannya dengan sebaik-baik rupa. Maka menjaga kecantikan yang Allah berikan, adalah salah satu bentuk rasa syukur atas karunia-Nya.

Gambar

Dengan memperhatikan setiap aspek penciptaan yang Allah berikan, maka muslimah akan menjadi sosok mulia yang menjadi inspirasi bagi siapapun. Muslimah harus mendahulukan penilaian di mata Allah daripada penilaian di mata manusia. Ia harus sadar, bahwa Allah menjadikan kita mulia bukan karena kecantikan fisik semata namun karena ketaqwaan kepada-Nya. Seperti yang disebutkan dalam surat cinta-Nya, ”Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” (Al-Hujurat:13)

Betapa banyak manusia yang cantik fisiknya, namun tak bernilai dimata Allah. Tugas kita sebagai muslimah yaitu menjadikan segala pancaran kecantikan ruhiyah, fikriyah, dan jasadiyah ini menjadi bernilai dimata-Nya. Muslimah sepatutnya menjadi makhluk indah yang tidak hanya cantik, namun juga cerdas serta sholihah. Bagaikan cahaya, Ia mampu menjadi penerang bagi lingkungan sekitarnya. Maka saudariku, jadilah muslimah yang bercahaya bukan hanya dari peran-peran fitrahnya, tetapi ia juga bercahaya dalam segala hal yang berkaitan dengan pencapaian hidupnya dalam rangka penghambaan kepada Allah. Semoga Allah menetapkan saya, kamu, dia, dan mereka agar menjadi muslimah yang bercahaya karena pancaran kecantikan, kecerdasan, dan kesholihan sesuai dengan pandangan-Nya. Aamiin.

Wallahu’alam bish-shawab.

Writing Competition ini merupakan salah satu rangkaian acara dari Indonesia Muslimah Fest bekerjasama dengan FLP Bandung. Ikuti lomba & Audisi lainnya seperti Lomba Menyanyi, Model Muslimah, Rancang Hijab dengan Hadiah Utama Tour Eropa, Asia dan Umroh juga Hadiah Ratusan Juta lainnya. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui:

web            : www.festivalmuslimah.com

Twitter       : @MuslimahFest

Fb              : www.facebook.com/FestivalMuslimah

 

*Boleh juga bantu di like, comment, dan share di link FB ini :

http://www.facebook.com/notes/tri-erniati/menjadi-muslimah-bercahaya/10151088087922167

Alhamdulillah, Aku Berjilbab..

#World Hijab Day_4 sept. Izinkanku membagi kisah hijab yang menjadi memori terdalam bagi datangnya berbagai limpahan cinta-Nya padaku. Semoga tulisan ini, bermanfaat…..

******

Hari ini pikiranku berkelana ke suatu masa dimana aku baru mengenal benda bernama jilbab. Aku membiarkan pikiranku melayang menuju memori terdalam yang membawaku pada hidayah itu. Membiarkannya larut menyelami ingatan akan kebersamaan dengan insan-insan mulia perantara hidayah cinta-Nya padaku. Sungguh, betapa inginnya aku membagi-bagikan butiran-butiran hikmah ini kepada siapa saja.

Tepat 11 tahun yang lalu, saat aku masih duduk dibangku kelas 2 SMP. Aku teringat dengan satu pribadi yang mempesona, sosok wanita sholihah, ramah, anggun, nan cantik itu. Ya, beliau adalah kakak sepupuku. Sebut saja ia Teh Yanti. Di masa itu saat jilbab lebar begitu asing terlihat, ia telah mengenakannya. Perempuan berparas cantik, berhidung mancung, berkulit putih, dan berperawakan tinggi bak model itu, sungguh-sungguh membuatku terpesona dengan keanggunannnya berjilbab. Teh yanti begitu rapat menutup tubuhnya dengan pakaian longgar, lengkap dengan manset yang menutup pergelangan tangannya yang putih, jilbab lebar, serta berkaos kaki. Penampilannya begitu indah dilihat, karena ia pun pandai memadupadankan warna jilbab dengan pakaiannya.

“Subhanallah, cantik dan anggunnya.. Inginnya nanti bisa belajar banyak dari Teh Yanti,” gumamku dalam hati.

“Betapa beruntungnya, laki-laki yang mendapatkan wanita seperti ini.. Sudah sholihah, cantik, anggun, ramah dan baik, juga berasal dari keluarga yang Allah berikan rizki berlebih,” gumamku terus bergelayutan.

Betapa senangnya aku, saat Teh Yanti memberikan aku beberapa jilbab serta manset beraneka warna. Ia mengajarkan aku bagaimana menggunakan jilbab sepertinya. Sungguh, alangkah bahagianya aku.

“Saat di sekolah nanti, aku ingin mencoba memakai jilbab lebar,” pikirku saat itu.

Ekspresi keinginanku untuk bisa berjilbab akhirnya sampai pada suatu kesempatan dimana aku tertatih untuk belajar membiasakan diri. Setiap hari jum’at, para siswa dan siswi diharuskan memakai pakaian muslim. Tak seperti kebanyakan siswi lain yang ogah-ogahan memakai jilbab karena gerah, diriku begitu semangat menggunakan baju dan rok panjang, serta jilbab lebar ditambah manset berwarna.

“Ah, sungguh aneh diriku ini. Tiap hari senin sampai kamis memakai baju lengan pendek, rok pendek, dan gaul abis. Eh, tiap jum’at, tiba-tiba seperti ‘mendadak sholihah’. Hmm.., Ga apa-apa deh, namanya juga masih belajar,” pikirku beralasan.

Tak bisa kupungkiri ada sedikit keresahan dalam hati untuk bisa menyempurnakan penampilanku dalam menutup aurat. Namun, saat itu aku masih belum mantap untuk berjilbab.

Jum’at itu, suasana cerah. Ia menjadi hari yang terasa begitu berbeda. Nampaknya, teman-teman dan guru pun juga terlihat berbeda saat itu. Mereka seperti lebih ramah dan sopan padaku. Ah, bahkan ada hal yang tak pernah ku lupa sampai saat ini. Ibu guru yang mengajarkan pelajaran tata niaga, pernah berkata padaku saat aku sedang berbincang-bincang hangat dengannya di ruang guru siang itu.

“Yaah, Erni cantiknya kalau hari jum’at aja nih..” Kata Ibu guru.

“Ah, ibu bisa aja.. Jadi kalau hari biasa, ga cantik donk Bu? Hehehe..” Jawabku ngeles.

Dalam hati, sejujurnya aku merasa tertohok akan kata-kata itu. Ia seolah mengajakku untuk kembali melihat diri bahwa perempuan berjilbab itu cantik, perempuan berjilbab itu anggun, perempuan berjilbab itu memiliki derajat yang tinggi di sisi-Nya, karena ia bersedia taat akan perintah-Nya.

Tak tanggung-tanggung, Abangku yang ikhwan pun selalu mengingatkan aku untuk bisa segera menutup aurat. Abangku selalu complain jika pakaianku agak ketat. Ia begitu perhatian dengan penampilanku.

“Erni, bajunya jangan pake yang itu donk. Ganti yang lain aja.. Kan ga enak diliat orang,” tuturnya.

“Iiiih, biarin aja kenapa sih? Cerewet banget deh,” kataku.

Betapa nakalnya aku saat itu. Kini, saat aku teringat masa itu, aku sadar bahwa Abangku begitu sayang padaku. Ia menginginkanku agar belajar menjadi muslimah yang sesungguhnya. Semoga Allah menjaga Ia dan keluarga nun jauh disana.

Kini tiba masanya saat kemantapan hatiku membuncah untuk berjilbab. Aku telah lulus dari SMP. Alhamdulillah aku diterima di SMA 70, salah satu SMA favorit di jakarta. Aku mantap untuk berjilbab saat masuk SMA. Keinginanku berjilbab, aku utarakan dengan hati-hati saat sedang berbincang-bincang santai di ruang tengah bersama Papa dan Mama.

“Ma, aku ingin berjilbab. Saat masuk SMA nanti, aku ingin berjilbab ya..”

“Aku risih selama ini kalau jalan sering sekali diganggu orang, aku risih dengan pakaian biasa yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh. Dengan berjilbab, aku merasa lebih aman dan nyaman, Ma..” jelasku saat itu.

Namun, aku tidak pernah menduga jawaban dari orang tuaku ini.

“Ga,,, ga usah, kamu ga usah berjilbab.. Nanti-nanti saja berjilbabnya..” kata Ibuku

“Nanti kapan Ma? Dan kenapa?” tanyaku.

“Kalau pakai jilbab itu harus selamanya, ga boleh di lepas-lepas lagi.. Nanti kamu susah lagi, mau ini itu,” kata Ibuku.

“Ma, iya aku ngerti koq.. Aku insyaallah pakai jilbab selamanya. Ga akan buka tutup. Aku udah mantap sama keinginanku. Lagipula, aku ga tau umurku sampai kapan. Aku ga mau kalau nanti aku dipanggil Allah, aku belum berjilbab. Boleh ya Ma? ” Pintaku memelas.

Ibuku masih tetap dengan pendiriannya. Tiba-tiba Ayahku bilang, “Udah, insyaallah kamu panjang umur koq”

“Astaghfirullah.. namanya umur kan ga ada yang tau kecuali Allah Pa,” jawabku sedih.

Saat itu aku sudah tidak tahan lagi, rasanya ingin sekali menangis. Aku langsung masuk ke kamar. Di dalam kamar, tangisanku sungguh tak terbendung. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa ayah dan ibu menolak keinginanku berjilbab. Sayangnya abangku tidak ada disitu, jadi tidak ada yang membelaku.

Saat itu aku hanya bisa mengadu pada-Nya. Berharap agar Allah membukakan hati kedua orangtuaku. Betapa sedihnya aku saat itu. Tangisanku mengurai deras bersama alunan do’aku pada-Nya.

Hari-hari berlalu, dan aku tidak menyerah. Saat membeli seragam sekolah, aku berbicara lembut. “Ma, aku jadi beli seragam lengan panjang dan rok panjang ya,” pintaku.

Walau dengan wajah yang kurang ramah, Alhamdulillah, Ibu akhirnya membelikanku seragam lengan panjang dan rok panjang. Sungguh bahagianya aku. Rasa syukurku tiada terkira. Allah, Dialah yang Maha membolak-balikan hati. Begitu mudahnya Dia mengabulkan do’a hamba-Nya yang sungguh-sungguh.

“Alhamdulillah, aku berjilbab. ” ucap syukurku.

Dengan segala perjuangan yang harus dilalui terlebih dahulu, akhirnya aku resmi memakai jilbab sejak masuk SMA. Jilbab ini akan terus kupertahankan bersemi indah, sampai akhir hayat. Jilbab ini menjadi bukti bahwa aku siap tunduk dan patuh akan perintah-Nya. Jilbab ini yang menjadi identitasku sebagai seorang muslimah.

Jika teringat kembali pengalamanku dulu, aku memaklumi mengapa kala itu orangtua tidak menyetujui jika aku berjilbab. Dulu, memakai jilbab saat muda terasa begitu dini dan asing. Mereka kebanyakan memahami kewajiban berjilbab setelah naik haji. Lain dulu, lain kini. Semakin berjalan tahun, perkembangan jilbab begitu pesat. Jilbab bukan lagi menjadi hal yang tabu. Alhamdulillah, semakin banyak orang yang menyadari bahwa berjilbab itu wajib.

Tengoklah surat cinta dari-Nya berikut ini : “Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).

Maka muslimah, apalagi yang menghalangimu untuk berjilbab? Sungguh, perintah itu telah jelas. Tuntunan ini adalah bukti betapa derasnya kasih sayang Allah pada kita. Hidayah itu, keyakinan itu, kemantapan itu harus dicari, bukan ditunggu. Mohonlah kemantapan hati pada-Nya untuk membawamu menunaikan kewajiban yang satu ini. Luruskanlah niatmu untuk memakai jilbab hanya karena-Nya.

Dan teruntuk muslimah yang telah menutup auratnya, semoga Allah memberikan keistiqomahan dalam menjalani amanah ini. Biarkan jilbabmu bersemi indah, jagalah ia selamanya. Biarkan ia mengantarkanmu bertemu dengan-Nya di Syurga nanti. Aamiin. “Thanks to Allah, for the deepest memories of hijab in my life. For all of  my sister in Islam, love you all cause Allah, and Be sure that hijab is our identity! Hijab, I’m in love.

(Najmthree)

(karya on imss fsldk_27 april 2012)