Apoteker ITB bercerita (part 3) : Ujian Apoteker


Alhamdulillah, berhasil melalui tahap 1 ujian Apoteker ITB dengan predikat lulus itu rasanya bersyukuuuur banget, senaaang. Tapi senangnya belum lega, ibarat kalau kita mau menuju ke puncak gunung kita masih di setengah perjalanan. Puncaknya sih udah keliatan deket, tapi ternyata masih ada jalan terjal yang harus dilewati. Aku jadi teringat dengan tulisan penyemangat yang aku buat 3 hari sebelum ujian apoteker tahap 1 dimulai. Seperti inilah untaian hati yang terlukis kala itu, semoga mampu menyemangati teman-teman yang juga akan menghadapi ujian.

 kata2 ujian apt itb

 

Persiapan Ujian Tahap 2

Ujian tahap 2 Apoteker ITB akan dilaksanakan tepat 11 hari setelah pengumuman kelulusan tahap 1. Waktu yang singkat itu sebaik mungkin aku pergunakan untuk persiapan ujian. Jadi ujian tahap 2 ini akan dilakukan selama 3 hari, dimana 2 hari pertama merupakan ujian penelusuran pustaka (ini mirip dengan ujian tahap 1 yang harus menulis jurnal berpuluh-puluh halaman dengan tulisan tangan), dan 1 hari terakhir merupakan ujian praktik konseling ke professional kesehatan, serta konseling ke pasien.

Persiapan ujian aku mulai dengan mengetik segala informasi mengenai soal ujian tahap 1 yang ku dapat, yaitu tablet danazol dan penyakit endometriosis. Informasi tersebut lalu diprint dan selanjutnya digunakan untuk bekal ujian penelusuran pustaka 2 (UPP 2). Mengapa harus ditulis lagi informasi tentang obat dan penyakit yang kita dapat saat ujian tahap 1? Ya, karena ujian tahap 2 ini adalah pengembangan dari ujian tahap 1 namun berupa soal kasus pengobatan pasien. Segala materi yang tercantum pada ujian tahap 2 ini adalah full mengenai obat, penyakit, farmakologi, dan farmakoterapi dari kasus tersebut alias tidak ada lagi tuh materi mengenai farmasetika maupun analisis farmasi. Alhamdulillah ya, jadi belajarnya bisa lebih fokus hanya terkait penyakit, dan terapinya.

Setelah informasi tentang danazol, dan endometriosis selesai ditulis, aku pahami dan pelajari lagi dengan baik. Alhamdulillah aku bersyukur karena mendapatkan soal mengenai suatu penyakit yang berkaitan dengan wanita. Hmm, jadi apa itu endometriosis? Mengutip teori yang terdapat dalam pustaka Ilmu Kandungan halaman 315, bahwa endometriosis adalah suatu keadaan dimana jaringan endometrium (dinding rahim) yang masih berfungsi, terdapat di luar kavum uteri (rongga rahim). Begitu friends, duh maaf yak jadi bawa-bawa teori gini. Hehe. Jujur, saat itu aku makin penasaran dengan penyakit ini. Iya karena penyakit tersebut banyak menyebabkan infertilitas (ketidaksuburan) pada wanita.

Masyaa Allah, bersyukur pada-Nya akan skenario soal ujian yang Allah pilihkan. Itulah skenario Allah yang terbaik. Allah menginginkanku untuk belajar lebih banyak mengenai ilmu kandungan. Allah Tau bahwa hal itu kelak pasti akan berguna untuk diriku. Thanks Allah. Aku jadi makin semangat belajar untuk ujian tahap 2 ini. Aku bener-bener tidak merasakan keterpaksaan dalam belajar, tapi malah bahagia melewati setiap proses pembelajarannya. Terkagum-kagum akan setiap informasi yang kudapat selama mempelajari ilmu kandungan, takjub akan keajaiban penciptaan tubuh kita oleh-Nya yang begitu sempurna. Sungguh ilmu manusia begitu sedikit, makanya kita harus terus belajar.

Kalau ingin belajar untuk ujian, mulailah dengan mempelajari penyakitnya karena dengan tau penyakitnya maka kita akan lebih mudah mempelajari pengobatannya. Aku mencoba tuk pahami teori mengenai endometriosis, klasifikasinya, etiologi, faktor resiko penyakit, patofisiologi, manifestasi klinis, sampai pada terapinya atau obat-obatan yang digunakan untuk penyakit ini, termasuk kaitannya dengan hormon-hormon tubuh. Pokoknya pelajari apapun bahan yang kira-kira bakal nyambung ke kasus kita. Dan jangan lupa, estimasikan segala kemungkinan-kemungkinan kasus yang keluar di soal UPP 2 dan konseling pasien nanti. Ya begitulah kita para peserta ujian apoteker, dituntut paham mengenai kasus yang kita dapat sehingga mempelajarinya pun harus dalam, dan penuh semangat.

 Selanjutnya, untuk dapat mengerjakan ujian penelusuran pustaka (UPP 2), tentu aku butuh buku-buku banyak nan berat itu lagi. Kabar baiknya, buku-buku pustaka untuk ujian tahap 2 ini agak berbeda dengan saat ujian tahap 1. Buku-buku yang aku persiapkan adalah buku-buku mengenai farmakologi, farmakoterapi, penyakit, sampai buku-buku kedokteran punya abangku pun kubawa serta ke bandung. Hehe. Ternyata buku-buku kedokteran itu sangat bermanfaat juga lho sebagai bahan pustaka. Contohnya buku ilmu penyakit dalam, dan ilmu kandungan ini lumayan membantuku dalam mempelajari segala hal tentang penyakit.

 buku-buku ujian UPP 2

 

Persiapan ujian tahap 2 selain belajar mandiri, aku juga belajar bareng teman-teman yang mendapatkan soal dengan tema yang sama, yaitu organ reproduksi. Belajar bersama penting karena akan memudahkan kita untuk memahami penyakit dan obat-obatan sesuai soal yang didapat. Selain itu, kegiatan bareng tersebut akan jadi sarana kita untuk praktek konseling. Yup, ujian hari ketiga kan praktek konseling, maka persiapkan praktek konseling dari sekarang. Termasuk persiapkan jas putih apoteker, serta obat atau kotak obat dummy (tiruan) sebagai alat peraga saat konseling ke pasien. Siaaaaap? Kalau sudah siap, yuk ah kita melangkah ke medan pertempuran.

Ujian Tahap 2 : Ujian Penelusuran Pustaka 2 (16-17 September 2013)

Ujian tahap 2 akhirnya tiba. Kali ini aku merasa lebih tenang, tidak seperti ujian tahap 1 dahulu yang lumayan deg-degan saat akan mengambil undian soal. Pada ujian penelusuran pustaka 2 ini, kami tidak lagi mengambil undian soal yang dikocok, namun tiap anak akan dibagikan soal kasus sesuai dengan obat dan penyakit yang telah didapat saat ujian tahap 1. Namaku dipanggil untuk mengambil soal, dan saat membuka kertas soal, wow, lagi-lagi aku dikejutkan dengan kasus yang diluar dugaan. Kasus yang kudapat adalah mengenai seorang pasien wanita berusia 25 tahun mengalami endometriosis, dan menerima pengobatan danazol, namun juga mengalami urtikaria dengan pengobatan salep deksamethasone. Aku tak pernah membayangkan kalau soal penyakit 1, dan obat 1 yang kudapat akan disandingkan dengan penyakit 2 yaitu urtikaria, dan obat 2 yang merupakan salep kortikosteroid topikal. Apakah teka-teki yang terdapat dalam soal ini? Tugasku untuk menyelesaikan masalahnya. Bismillah, aku pasti bisa!

Saatnya, ujian tulis-menulis dengan tangan dimulai lagi. Pagi hari setelah menerima soal, aku langsung bersegera menyalin informasi yang telah dibuat tentang obat danazol dan penyakit endometriosis ke dalam kertas ujian. Di sela-sela waktu menulis, aku manfaatkan untuk mencari bahan di buku pustaka mengenai urtikaria dan obat salep deksamethasone. Jam 5 sore ujian hari pertama berakhir, dan alhamdulillah aku sudah selesai menyalin semua bahan mengenai danazol dan endometriosis. Tinggal melanjutkan pekerjaan mengkaji dan mengumpulkan bahan penyakit, dan obat lainnya di kosan bersama partnerku yang baik.

Sejujurnya soal kasus ini membuatku dilema, karena pasien wanita tersebut mendapatkan urtikaria (reaksi hipersensitifitas) gampangnya seperti alergi namun tidak diketahui secara pasti apakah alergi disebabkan obat danazol ini atau bukan. Kalau urtikaria disebabkan oleh danazol, maka obat danazol harus diganti dengan obat lain. Aaah tidaaaak. Informasi dalam kasus sangat minim, sehingga aku hanya bisa memberikan beberapa rekomendasi berdasarkan asumsi-asumsi kondisi yang mungkin terjadi pada pasien. Selain itu dilematisku bertambah karena dalam guideline pengobatan urtikaria, pasien seharusnya diberikan antihistamin oral. Yang tambah bikin kening berkerut itu, koq dikasihnya salep deksamethasone ya. Salep deksamethasone ini kan tidak ada sediaannya, yang tersedia adalah salep betamethasone ataupun yang mirip-mirip namun beda potensinya ada juga salep desoximethasone. Makin puyeng. Hehe. Inilah seninya sebuah soal ujian, memang ia tidak dirancang semudah mungkin, namun ia dirancang agar kita menjadi seseorang yang cerdas dalam menyelesaikan masalah ajaib ini.

Sepulang ujian hari pertama, aku dan partner mengubek-ubek semua bahan di buku pustaka mengenai urtikaria dan kortikosteroid topikal. Aku berusaha mengkaji segala kemungkinan-kemungkinan kasus ini. Aku bersyukur karena di tengah kegalauan kasus ujian itu, Allah mengarahkanku untuk berdiskusi dengan seorang dokter. Aku tak bertanya dengan abangku yang dokter, tapi aku lebih memilih menelepon mba dr.huda, kakak kelasku di FKIK UIN Syarifhidayatullah Jakarta, yang sedang internship di suatu daerah. Setelah berdiskusi sebentar via telepon, aku sedikit mendapat pencerahan. Alhamdulillah.

Ujian kali ini tidak seperti UPP 1 yang membuatku tidak tidur. Pada UPP 2 ini, aku bisa lebih lega, dan memiliki waktu untuk tidur. Itu semua karena informasi tentang kasus tambahan yang harus kutulis saat ujian hari kedua esok, sudah selesai kubuat sampai jam 2 malam. Akhirnya aku bisa istirahat sampai pagi.

Saat hari kedua ujian, aku menyalin bahan yang sudah dibuat tadi malam. Alhamdulillaah, pekerjaan tulis-menulis ini sudah selesai jam 4 sore, cepat juga ya. Eh, pas ngecek halaman di kertas ujian, ternyata jurnal ujian yang kutulis 2 hari ini hanya 42 lembar halaman. Hehe, beda tipis ya dengan jurnal tahap 1 yang mencapai 46 halaman.

UPP 2 erni

Hmm, masih ada sisa waktu sejam lagi sebelum jam 5 sore ujian dikumpul. Akhirnya, aku manfaatkan untuk tidur saja sambil menunggu pulang. Hahaha. Iya tidur ini untuk menghilangkan pusing, dan berat di kepalaku yang sudah dirasa sedari siang, bukan tidur sesungguhnya lho. Dan malam harinya, aku kembali merefresh persiapan untuk ujian hari ketiga besok. Ya, besok adalah hari terakhir ujian tahap 2, yaitu ujian praktek konseling. Semangaaat!

Ujian Praktik Konseling

Bagiku ujian praktik konseling ini adalah ujian yang cukup unik, karena kita melakukan praktik seolah-olah berhadapan langsung dengan teman sejawat kesehatan, ataupun dengan pasien yang bertanya kepada kita mengenai obat yang didapat. Ruangan tempat praktik pun dirancang sedemikian rupa seperti ruang khusus apoteker, dilengkapi pula alat peraga lainnnya. Uniknya di ruangan tersebut telah dipasang 1 buah kamera yang kan menjadi sarana para dosen untuk melakukan penilaian terhadap praktik konseling yang kita kerjakan. Hihihi. Jadi diruangan itu kita akan berakting layaknya seorang apoteker yang sedang memberikan edukasi kepada pasien, dan kepada profesional kesehatan. Ini kalau kita salah sikap atau salah bicara, pasti keliatan banget di kamera. Makanya sebelum ujian, banyak-banyak latihan konseling deh sama temen, and tentu banyak do’a juga ya friends, minta dilancarkan sama Allah. Pupuk terus rasa percaya diri kita, karena ini bisa jadi salah satu hal yang memudahkan kita berakting. 🙂

Pagi hari, aku melakukan praktik konseling dengan profesional kesehatan yang tak lain adalah apoteker praktisi dari sebuah rumah sakit di bandung. Saat konseling dengan profesional ini ada beberapa hal yang harus disampaikan, yaitu terkait obat kita, indikasinya, dosis, aturan pakai, efek samping, kontra indikasi, interaksi obat, dan perhatian-perhatian khusus. Pelajari pula semua hal mengenai obat 1 dan obat 2, serta penyakit 1 dan penyakit 2 kasus kita. Pertanyaan saat konseling ini tiap orang bisa beda-beda lho, tergantung siapa profesionalnya. Intinya, siapapun lawan bicaranya, kita harus siap memberikan sebaik mungkin informasi. Kalau di praktik konseling dengan profesional kesehatan, kita seperti orang yang sedang tukar pikiran atau sedang berdiskusi antar sejawat. Kadang ada saja pertanyaan yang tidak bisa kita jawab dalam diskusi tersebut, keep calm ya. Kalau sempat waktunya kita boleh kok buka buku yang ada diruangan konseling itu. Akhirnya waktu 30 menit berlalu, selesai sudah ujian praktik bersama profesional kesehatan. Siap-siap melangkah ke tahap selanjutnya.

Ditengah-tengah menunggu giliran konseling pasien, aku sempatkan menelepon dr.huda untuk kembali memperjelas situasi kasus yang aku dapat. Dan beliau pun memberikan advices yang semakin meyakinkan diriku bahwa jawaban yang kupilih itu tepat. Thank you so much mba huda. Allah lah sebaik-baik pemberi balasan.

Siang hari saatnya aku melakukan praktik konseling kepada pasien. Ini bukan pasien beneran ya, tapi settingan. Pada konseling pasien inilah segalanya menjadi lebih jelas, karena kita tau kondisi pasien yang sebenarnya di kasus itu seperti apa. Nah, seorang pasien wanita datang ke ruangan konselingku membawa resep bertuliskan obat danazol dan salep deksamethasone. Pasien ceritanya mau nebus obat di apotek. Aku bertugas sebagai apoteker yang menyerahkan obat sambil memberikan konseling obat kepada pasien. Sebelum memberikan obat pastinya kita harus re-check informasi dari pasien, disinilah pasien bilang kalau baru-baru ini ia mengeluh gatal-gatal disekujur tubuh. Pasien agak-agak alergi sama makanan yang tidak segar. Tapi koq pasien ragu-ragu gitu ngomongnya, jadi bikin aku galau. Hmm, tapi aku merasa ada sedikit titik terang.

“Pasien urtikaria bukan karena obat danazol. Jadi obat danazol tak perlu diganti, obat lain ini yang harus diganti” gumamku dalam hati.

Aku putuskan cepat untuk menelepon dokter. Aku ambil gagang telepon, lalu seolah menelepon dokter yang memberi resep.

Aku mulai bicara, “halo selamat siang dokter x, saya Erni Apoteker di rumah sakit ini…bla..bla..bla…,”

Yah, intinya aku menyarankan agar kortikosteroid topikal diganti dengan antihistamin oral karena pasien mengeluhkan gejala urtikaria disekujur tubuh baru-baru ini. Dan si dokter menyetujui usulanku untuk mengganti obat kortikosteroid topikal dengan cetirizine. Hehehe, That’s my scenario.

Begitulah ujian yang unik ini, kita sebagai apoteker harus cerdas memberi solusi atas setiap permasalahan yang ada. Disini terlihat bagaimana seharusnya apoteker dan dokter bekerja sama dengan baik untuk membantu pengobatan pasien. Tak terasa, jam di ruangan konseling menandakan hampir 15 menit berlalu, dan konseling harus diakhiri. Selepas konseling pasien, aku masih bimbang apakah keputusanku benar atau tidak. Ya Allah, kalau salahnya fatal bisa-bisa tidak lulus nanti. Hiks. Hiks. Aku serahkan semuanya sama Allah.

Sore hari saat ujian praktik konseling usai, di depan lift aku bertemu dengan teteh yang tadi jadi pasien konselingku. Beliau adalah salah satu staff farmasi ITB.

Eh beliau nyeletuk, “kamu tangannya dingin banget tadi.”

Hwuaaaa, saat mengakhiri konseling kan kami bersalaman, jadi ketauan deh kalau aku sejujurnya agak galau saat ngasih konseling ke pasien. Hadeuh.

Aku jawab aja, “hehehe, abis grogi teh.”

Si teteh, senyum-senyum aja.

Alhamdulillah ujian tahap 2 ini berakhir juga, berasa banget melelahkannya karena 3 hari harus berjuang tiada henti. Tinggal menunggu pengumuman lulus deh. Ya Allah, ini pengumuman berasa lama betul. Menunggu hasil kelulusan ini kita dihadapkan dengan kegalauan yang lebih besar dari sebelumnya (Apapula ini orang-orang pada galau-galau terus), hahaha. Tapi aku ga mau ambil pusing, ga mau dipikirin. Aku tawakkal sama Allah. Sambil terus berdo’a mohon jawaban yang terbaik dari-Nya. Dan tentunya nikmati hari-hari yang Allah berikan pada kita dengan memaanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Tanggal 26 september 2013, tibalah pengumuman kelulusan Ujian Apoteker ITB. Kali ini memang sedikit berbeda, karena pengumuman ujian ditempel di mading padahal biasanya disebutkan satu persatu. Dan Alhamdulillaah, Tri Erniati LULUS. Bersyukur pada-Mu Ya Allah karena atas izin Allah lah ini semua dapat terjadi.

Tak lupa kuucapkan terimakasih pada siapapun yang telah mendo’akanku, yang telah memberikan supportnya, memberikan segala bantuannya. Terutama untuk kedua orangtuaku tercinta yang tak lelah mendo’akanku dari sana, Untuk keluarga besarku, sahabatku, partner-partnerku yang solid, Jhia (analisis), Aura (Farmasetika), dan Intan (Farmakologi, dan setia menemaniku begadang sampai pagi). Terimakasiih banyaaak. Hanya Allah lah sebaik-baik pemberi balasan. Semoga Allah mudahkan langkah teman-teman yang sedang berjuang untuk menempuh ujian Apoteker ITB. Yakin, Yakin Semangat!

Tepat tanggal 24 Oktober 2013, kami resmi dilantik sebagai Apoteker lulusan Sekolah Farmasi ITB. Semoga kami mampu menjalankan profesi ini sebaik mungkin, dan semoga ilmu ini dapat bermanfaat bagi ummat. Aamiin.

Apoteker itb

Baarokallahufiikum, Semoga Allah memberkahi kita semua. Selamat berjuang temans, In syaa Allah kita bertemu di gerbang kesuksesan!

(Selesai)

(Tri Erniati, S.Far, Apt)

 

4 comments on “Apoteker ITB bercerita (part 3) : Ujian Apoteker

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s