Apoteker ITB Bercerita (part 2) : Ujian Apoteker


Seperti yang telah aku tulis di part 1, bahwa ujian Apoteker ITB begitu menjadi momok yang menakutkan bagi mahasiswanya. Hmm, memang seperti apa sih ujiannya? Nah, kali ini aku akan menceritakan pengalaman dalam menghadapi ujian Apoteker ITB pada bulan agustus 2013 lalu.

Ujian dibagi menjadi dua tahapan, yaitu ujian tahap 1 adalah UPP (Ujian penelusuran pustaka), dan ujian sidang komprehensif. Sementara ujian tahap 2, adalah ujian penelusuran pustaka dengan soal kasus tertentu (ujian tulis), dan ujian konseling obat kepada professional, maupun non professional (pasien).  Jadi ujiannya dua tahap, tapi masing-masing tahapan memiliki 2 step jadi total 4 step yang harus kami tempuh. Ujian dilaksanakan pada tanggal 26 agustus sampai 26 september 2013, selama sebulan.

“What, sebulan? Lama banget yah ujiannya, ujian seperti apa itu? Ckckck.” Itu kata-kata yang sering diucapkan orang begitu mendengar waktu lamanya ujian Apoteker ITB.

Persiapan Ujian

Persiapan menjelang ujian apoteker tidaklah instan, ia harus dipersiapkan jauh-jauh hari, baiknya beberapa bulan sebelum ujian. Di mulai dari pembentukan panitia ujian dari kalangan mahasiswa apoteker, aku pun menjadi salah satu panitia ujian yaitu sebagai tim pengkajian jurnal TSF. Siapin dana ya temans, karena tentu akan semakin banyak pengeluaran. Selain itu yang sangat penting adalah persiapan buku-buku pustaka untuk ujian. Kita bisa meminjam buku-buku tersebut dari kakak kelas, atau foto kopi sendiri buku-buku tebal itu. Eh ini bisa juga disiapkan, partner ujian. Hehe. Ya, partner ujian hanya untuk membantu kita mencari bahan-bahan ujian, menyalin informasi dari pustaka, dan teman diskusi. Tapi tetap kita yang pegang kendali di ujian itu. Tak boleh menggantungkan kesuksesan ujian kepada partner. Yakin akan kemampuan diri kita ya, dan selalu ingat “The Best Partner is Allah.”

Dua pekan sebelum ujian, aku masih dibebankan tugas Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)  di RS. Hasan Sadikin Bandung (RSHS). Aaaaak, tugas Kasus PTO (Pemantauan Terapi Obat) RSHS cukup membuat stress. Harusnya menjelang ujian begini, kami tidak perlu disibukkan dengan tugas berat. Huhuhu. Sabaaar. Ya, setelah urusan PKPA selesai, saatnya fokus kembali untuk persiapan ujian. Yuhuuuu, mari berberes buku-buku berat itu agar tersusun rapi. Beli-beli bermacam-macam alat tulis, melabelkan semua buku-buku dengan nama kita, membatasi file-file berisi setumpuk kertas JSS, dll. Ini pekerjaan perintilan banyak pisan. Aku baru ngerjain ini H- beberapa hari mau ujian. Bahkan H-1, disaat orang-orang udah pada nyantai, aku masih juga ngerjain beginian. Hmm, maklum yah PKPA aku dan beberapa teman-teman selesainya paling belakangan. Hiks :’).

Persiapan menjelang ujian tak luput dari belajar, belajar, belajar, dan berdiskusi. Yang paling mudah dilakukan adalah pelajari jurnal ujian kakak kelas, pelajari jurnal dari berbagai tipe sediaan farmasi, baca curhatannya di lembar curhat ujian karena disana banyak banget info yang mungkin membantu kita. Biasanya sebelum ujian, akan ada beberapa kali simulasi UPP. Ini nih kesempatan kita untuk belajar mengkondisikan suasana seperti ujian, mengasah pikiran, dan menyusun strategi pribadi dalam menghadapi ujian. Aku hanya serius mengikuti 1 kali simulasi UPP, dan saat itu aku bertekad simulasi harus kelar jadi 1 jurnal. Alhamdulillah simulasi kelar meskipun dalam waktu beberapa hari. Namun strategi saat itu, aku langsung melibatkan partner dalam simulasi UPP sehingga pekerjaan partner, langsung aku masukan dalam 1 jurnal simulasi milikku. Dalam simulasi ini, aku sekalian menghitung perkiraan waktu yang mampu aku dan partner kerjakan sehingga aku bisa mendapat gambaran nanti UPP akan seperti apa.

buku ujian bawa ke kampus

H-1 ujian saatnya kami pindahan buku-buku pustaka ke ruang ujian. Ya, karena saat ujian penelusuran pustaka ini, kami harus membuka buku-buku pustaka yang akan menjadi acuan dalam membuat jurnal ujian. Aku membawa 2 koper buku untuk dibawa ke ruang ujian. Untuk membawa koper-koper berisi buku-buku tebal nan berat itu, tak mungkin aku pindahkan sendiri. Alhamdulillah partnerku yang baik, intan, mau membantuku pindahan buku ke kampus. Huhuhu, terharuuu. Makasih banyak dek intan. Allah sebaik-baik pemberi balasan. Sampai di kampus dengan motor, sayangnya saat itu kendaraan tak bisa masuk sampai ke gedung farmasi, karena ITB sedang car free day di hari ahad. Kami pun harus menggerek koper berat itu dari parkiran motor menuju ke gedung farmasi ITB. Huaaa, bisa kebayang hampir semua orang ngeliat kita sedang berjalan sambil menggerek koper menuju farmasi . Berasa kayak mau tereliminasi di akademi fantasi. Hahaha, lebay. Begitulah yang harus kami lakukan tepat H-1 sebelum UPP.

Kalau boleh ku simpulkan, dalam persiapan ujian ini ada dua ikhtiar yang harus dilakukan, yaitu ikhtiar bumi, dan ikhtiar langit. Ikhtiar bumi itu persiapan yang telah aku paparkan di atas. Namun ikhtiar langit ini sangat memegang kendali. Apa aja ikhtiar langit? Ya, giatkanlah ibadah, mulai dari ibadah wajib serta sunnah. Sholat qiyamul lail ini harus sering-sering dilakukan, kalau bisa setiap hari. Perbanyak shoum, in syaa allah do’a orang yang berpuasa tidak akan tertolak. Banyakin sedekah karena sedekah bisa menjadi jalan pertolongan Allah, dan banyak minta do’a dari orang tua, serta siapapun juga. Semoga Allah mudahkan urusan teman-teman yang akan menghadapi ujian Apoteker ITB.

Seringkali beberapa orang bilang, kalau dalam ujian apoteker ITB ini banyak hal yang terjadi diluar dugaan kita. Bahkan orang yang dianggap paling pintar sekalipun bisa tidak lulus dalam ujian ini. Banyak yang berkata, hanya keberuntungan atau keajaiban lah yang membawa kita untuk lulus. Namun kuyakini sesungguhnya pertolongan Allah lah yang membawa kita untuk mampu lulus dari ujian. Bukan yang lain. Dengan pertolongan-Nya, segala sesuatu akan terasa lebih mudah. Maka gantungkan segala hal hanya kepada Allah.

Saatnya, Ujian Apoteker Tahap 1

UPP 1 (26-27 Agustus 2013) :

Hari yang dinanti tiba, Ujian Penelusuran Pustaka akhirnya menyapa kami. Ini adalah ujian pengkajian obat dimulai dari A sampai Z, yaitu mulai dari pengkajian undang-undang yang mengatur tentang obat yang kami dapat, pengkajian obat dari sisi farmakologi, farmasetika, analisis farmasi, serta wadah sediaan. Kami harus menuliskan semua hal terkait pengkajian obat, di dalam 1 jurnal penelusuran pustaka. Ujian dimulai jam 8 pagi, dan setiap mahasiswa akan mengambil kocokan soal ujian. Aku berusaha untuk menenangkan diri sampai undian soal berada ditangan. Deg-degan? Lumayanlah, banyak dzikir aja friends, karena dengan banyak mengingat Allah hati akan lebih tenang. Setelah mengambil undian soal, aku cukup kaget karena mendapat obat yang belum pernah aku dengar yaitu Tablet Danazol.

Sontak ni hati bergumam, “obat apa ini? owh obat antijamur kali yah?.”

Eh tapi pas di cek lagi, bukaaan sama sekali. Ini bukan obat anti jamur, mentang-mentang ujung namanya ada –ol. Hehe. Jadi ini adalah obat golongan hormon androgen. Nah lho, soal Jackpot pisan ini mah, karena soal ini belum pernah keluar sama sekali di ujian apoteker ITB. Hwuaaa. Yang bikin agak-agak shock, pas buka index buku-buku monografi, seperti FI, BP, EP, JP, IP, hey-hey-hey, apa ga salah nih? obat aku ga ada sama sekali di buku-buku monografi tadi! Aku hanya menemukan di USP NF 32. Tapi alhamdulillahnya, data farmakologi lengkap di AHFS, USP DI, DIH, GG, Katzung. Dan data analisis juga ada di Clarks, dan Instrumental drug data for analysis. Alhamdulillaah. Walau begitu, tetap optimis, maju terus pantang mundur dengan data-data yang ada.

Hari pertama aku selesaikan bab 1 dan sebagian bab 2, desain wadah, dan daftar pustaka (hehe.., jadi pas hari kedua dah ga mikir dapus, khawatir ga sempet). Jam 5 sore waktunya ujian hari pertama berakhir. Sebagian jurnal ujian yang telah ditulis dengan tangan alias bukan diketik, dikumpulkan ke pengawas. Sehingga esok harinya, pada UPP hari kedua kami dapat kembali melanjutkan menulis jurnal sampai selesai.

Alhamdulillah, dalam menjalani ujian apoteker ini aku mantap untuk tidak menggunakan basecamp, alias tetap di kosan saja. Aku mohon pilihan yang terbaik sama Allah melalui istikhoroh, karena ini juga merupakan pilihan sulit. Ya, Allah Tau bahwa aku apabila belajar membutuhkan suasana yg lebih hening dan kondusif maka jawaban dari-Nya, “just do it in your home.”

Sampai di kosan sorenya, Alhamdulillah 3 orang partner sudah mulai sibuk mencari pustaka terkait dengan soal yang ku dapat. Sekitar jam 12 malam, partner analisis dan farmasetika sudah selesai mengerjakan bagiannya. Sementara partner farmakologi bersama aku mengerjakan bab 2 yang buanyaaak dan harus dikaji lagi, brosur obat, informasi professional, dan informasi non professional. Semua bahan yang akan ditulis untuk melengkapi jurnal esoknya saat UPP hari kedua, harus selesai malam itu juga karena khawatir kalau masih ada bahan yang dicari-cari di hari ke-2 itu, jurnal kita bisa tidak selesai. Jadi hari kedua ujian aku tinggal menyalin saja, bahan yang telah disiapkan di malam hari.

Malam itu aku dan partner farmakologi bekerja keras, berjuang untuk menyelesaikan bahan-bahan pustaka farmakologi yang sangat banyak. Hiks. Alhasil , kala itu tak terasa sudah jam 3 pagi. Dan diri ini sudah sangat mengantuk, sehingga tak sengaja tertidur di meja belajar selama 5 menit. Zzzzzzzzzzz. Aku buru-buru bangun, setelah sadar 5 menit tertidur sementara pekerjaanku masih banyak. Hiks. Saat bangun itu, kepala malah pusing sekali, maka  aku putuskan untuk tidak tidur sampai pagi. Alhamdulillah pagi hari sekitar jam 6 pekerjaan ketik-mengetik bahan sudah selesai. Tinggal ngeprint yang kurang saja, dan menyusun urutan-urutan bab yang sudah dikerjakan. Pekerjaan semalaman siap dibawa ke kampus.

buku pustaka erni

Hari kedua UPP masuk kembali jam 8 pagi, dan aku siap menyalin dengan tanganku semua pekerjaan yang telah kukerjakan semalam. Bab-bab yang belum ku kerjakan, lalu ku salin ke kertas ujian. Jam-jam awal ujian begitu semangat sekali menulis, sampai tiba jam 10 pagi nguantuuuuuuuuuk banget. Maklum ya semalam tak tidur. Aku ketiduran sejenak di meja ujianku, dengan posisi masih terduduk, dan dengan pulpen masih kupegang seperti orang menulis. Hmmmmm, hayooo bangun-bangun erni, pekerjaan tulis-menulis masih panjang. Kamu kuaaat, kuaaaat.

ISHOMA tiba saat jam menunjukkan pukul 12 sampai pukul 13 siang, sejenak merelaksasikan tanganku yang agak mulai sakit akibat menulis. Setelah ishoma, ayoooo bertempur kembali. Tulis, tulis, tulislah dengan tanganmu. Dan tak terasa waktu menunjukkan pukul 15, itu artinya dua jam lagi menuju jam 17. Aaaaak tidaaaak, dari 7 bab jurnal ujian, masih ada dua bab lagi yang belum ku tulis. Akhirnya aku ngebut, menyalin bab 3 dan bab 5. Ingin rasanya berteriak, tangan kananku sakiiiiiiiiiiiiiit sekali, hampir keram, nyaris sulit digerakan, karena tangan ini sudah dipakai menulis dari jam 8 pagi hanya istirahat 1 jam. Apa daya, dengan tangan yang begitu sakit dan kaku, aku harus terus menulis sampai semua bab pada jurnal ujian selesai. Karena kalau jurnal ujian tidak selesai, bisa-bisa tidak lulus nanti. Hiks.

Alhamdulillaah 46 halaman selesai ku tulis dengan tanganku. Ibarat kita nulis 46 halaman skripsi pakai tulisan tangan bukan diketik, coba aja rasakan bagaimana sensasinya. Ruaaarr biasa. Jadi hari kedua itu aku full hanya menulis selama 8 jam, dimulai dari jam 8 pagi, istirahat 1 jam, lanjut sampai jam 5 sore.

Akibat itu semua, jari-jari dan telapak tangan ini benar-benar ga karuan rasanya. Sampai-sampai ada beberapa teman yang menempel-nempelkan koyo di setiap ruas jari-jari tangannya karena saking pegal dan sakitnya tangan itu dipakai menulis berpuluh-puluh lembar halaman dalam dua hari. Bukan hanya jari-jari yang pegal, tapi badan ini rasanya mau patah. Hehe, lebay. Tapi memang begitulah rasanya. Karena sedari tanggal 26 agustus hari pertama ujian, aku belum rebahan di kasur sama sekali sampai di hari kedua selesai ujian ini. Hooah, Alhamdulillah, Ya Allah, akhirnya aku mampu melalui ujian tahap 1 step pertama ini. Aku bener-bener ga mau lagi  merasakan ujian kayak gini. Cukup sekali ini aja, Ya Allah. Hiks. Sudahlah, yuk bergegas lagi masih ada step 2 di ujian tahap 1 ini, yaitu sidang komprehensif.

UPP 1 hal 1

Sidang komprehensif (4 September 2013)

Tepat seminggu setelah ujian penelusuran pustaka, dilaksanakanlah sidang komprehensif. Saat sidang ini, setiap anak akan diuji oleh lebih dari 5 dosen. Awalnya aku masuk ke ruangan dengan tenang, dan saat masuk cukup kaget karena ternyata diruangan itu telah duduk 9 orang dosen. Oke, baiklah in syaa allah aku siap memulai sidang kompre. Ada 6 orang penguji yang berasal dari empat bidang yaitu 2 orang penguji dari pemerintahan, 2 orang penguji dari apotek, 1 orang penguji dari rumah sakit, dan 1 orang penguji dari industri. Mereka semua adalah para praktisi. 3 orang dosen ITB lainnya adalah pengawas ujian kompre.

Setelah ibu dari industri menanyakan beberapa hal terkait evaluasi pembuatan obat, aku masih berpikir bahwa Pak tutus akan menanyakan beberapa hal seputar analisis obat. Hwuaa, agak takut karena pak tutus ini jagonya analisis. Tapi ga taunya Pak Tutus malah bilang, “Sudah cukup yah.”

Hah, spontan aku bilang “Eh, udah selesai pak?” (dalam hati ngomong, lho koq cepet yah?).

Trus Pak Tutus jawab, “Iya udah, emangnya kamu mau lagi?”

“Hahahaha, ga pak,” jawabku dengan polos dan masih terheran-heran.

Bener-bener ga berasa lama ujian kompre kali ini, padahal sudah satu jam berlalu. Entahlah aku merasa sidang kompre ini begitu cepat, mungkin karena aku merasa menikmati prosesnya. Walau ada beberapa hal yang ga bisa dijawab, namun aku tidak merasa banyak kesulitan yang berarti dalam menghadapinya. Alhamdulillah. Terimakasih Ya Allah atas segala pertolongan Allah membuatku begitu tenang dan mudah dalam menghadapi ujian ini. Friends, tips dari aku. Kunci dalam menghadapi ujian itu yang penting tenang, yakin, dan nikmati prosesnya, ga usah pengen cepet-cepat selesai, nanti juga akan ada masa selesainya. Yang penting lakukan ikhtiar sebaik mungkin.

Sudah dua step ujian tahap 1 yang kami lalui, yaitu ujian penelusuran pustaka dan ujian sidang kompre. Akhirnya pengumuman kelulusan tahap 1 ditempel di tanggal 5 september 2013. Waaah ini dia, salah satu moment penentuan kami akan lanjut ke ujian tahap 2 atau tidak. Alhamdulillaaah aku LULUS ujian tahap 1. Makasih Ya Allah. Senaaaaang, plus sedih juga sih karena ada beberapa teman yang tidak lulus di ujian tahap 1 ini. Itu artinya mereka tidak bisa lanjut ujian ke tahap dua dan mereka harus mengulang ujian di semester berikutnya. Hiks.

Kelulusan ini tidak boleh membuat kami terlena, perjuangan kami belum selesai. Masih ada ujian tahap 2 yang harus dilalui, sebelum kami benar-benar resmi dinyatakan lulus menjadi seorang apoteker. Jalan masih panjang kawan, ini baru setengahnya. Seperti apa kelanjutan ceritanya ya?

(bersambung ke part 3)

(NajmThree)

(Unforgettable Moment)

8 comments on “Apoteker ITB Bercerita (part 2) : Ujian Apoteker

  1. Salam kenal putri andini 🙂

    Aku beli buku DIH fotokopi sama teman-teman. Biasanya nanti kolektif koq put, buat persiapan UPP pada fotokopi buku.

  2. makasih kaka udah ngasih gambaran kuliah apoteker di itb hehe, doakan saya juga bisa kayak kakak apoteker di itb aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s