Apoteker ITB bercerita (Part 1)


Tulisan ini dibuat, untuk berbagi especially buat teman-teman yang ingin kuliah di Apoteker ITB atau sedang menikmati masa-masa menjadi mahasiswa Apoteker ITB. Selamat membaca 🙂

itb2Kali ini, aku ingin mengajak teman-teman memasuki dunia Apoteker ITB sejenak. Izinkan aku bercerita mengenai pengalaman berkuliah selama setahun di Apoteker ITB ini. Menapaki jejaknya, dan mengambil hikmah dari setiap perjuangan yang terlukis. Tak bisa dipungkiri, ada ungkapan yang menyatakan kalau kita kuliah di Apoteker ITB, “susah masuknya, susah pula keluarnya.”  Aku merasakan bagaimana susahnya menghadapi soal ujian masuk Apoteker ITB. Itu karena aku berasal dari S1 Farmasi non ITB, sehingga untuk dapat masuk ke Apoteker ITB aku harus mengikuti ujian masuk dahulu. Saat ujian masuk Apoteker ITB, kita harus mengerjakan soal-soal dari 4 bidang keilmuan, yaitu biologi farmasi, kimia farmasi, farmasetika, dan farmakologi. Tentu sebelumnya ikhtiar haruslah dilakukan sebaik mungkin. Penting tuk pelajari setiap bahan yang berhubungan dengan ke empat kelompok kelimuan tadi, iringi dengan do’a sungguh-sungguh, dan selanjutnya tawakkal pada-Nya.

Usai mengerjakan soal-soal sulit itu, hati ini rasanya sudah pesimis dan tak yakin. Namun aku pasrahkan segala hasil yang terbaik menurut Allah. Saat pengumuman tiba, syukurku pada Allah karena aku menjadi 1 dari 9 orang yang lolos ujian masuk Apoteker ITB. Ya, hanya 9 orang dari 48 orang peserta ujian yang diterima pada gelombang 1 ujian masuk apoteker itu. Masyaallah. Ku yakin, ini jawaban terbaik dari Allah bahwa ku mampu menjadi bagian dari Apoteker ITB. Alhamdulillah 🙂

Oktober 2012 aku dan teman-teman memulai masa pembelajaran di Apoteker ITB. Ketika itu betapa terkejutnya kami dengan sistem perkuliahan yang cukup membuat kami ngos-ngosan. Satu semester hanya ditempuh dalam waktu empat bulan. Dua bulan pertama dipakai perkuliahan dikelas, dan dua bulan selanjutnya dipakai untuk praktek kerja profesi apoteker. Hey, namun saat ini sistem perkuliahan Apoteker ITB tidak lagi seperti sebelumnya. Perkuliahan full akan ditempuh selama semester pertama, sedangkan semester kedua akan digunakan full sebagai waktu untuk praktek kerja profesi apoteker plus ujian akhir apoteker. Waktu pembelajaran seperti inilah yang umum dipakai oleh apoteker kampus-kampus lain.

Back to the story, semester pertama kami berasa seperti ‘tidak bernafas’, bayangkan saja perkuliahan di kelas hanya di kejar dalam waktu 1 bulan 2 minggu, selanjutnya 2 minggu terakhir langsung dipakai UAS. Alhasil, hampir setiap hari kami masuk dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore, dengan waktu istirahat yang singkat. Terkadang juga ada kuliah tamu sampai jam 5 sore. Belum lagi dengan tugas-tugas seabrek yang harus dikerjakan secara berkelompok. Mengatur pertemuan dengan kelompok itulah yang sulit. Biasanya kami akan gunakan waktu kosong disela-sela jadwal kuliah, untuk berkumpul. Atau sepulang kuliah, serta weekend pun dipakai untuk mengerjakan tugas kelompok. Perlu diketahui bahwa tugas-tugas selama apoteker ini, lebih banyak tugas kelompok dibandingkan dengan tugas individual. Hal tersebut salah satunya dimaksudkan untuk mempersiapkan calon apoteker agar terbiasa bekerjasama dengan orang lain.

Hikmahnya, syukurilah tugas-tugas yang kamu dapatkan semasa perkuliahan, karena tugas-tugas itu yang kan membuatmu lebih giat belajar, lebih giat mencari, lebih mengasah daya pikirmu, lebih menajamkan kepahamanmu akan ilmu, dan segudang manfaat lainnya. Walau kadang terlalu banyak keluhan, karena waktu tidurmu amat sangat sedikit, waktu refreshingmu hampir tidak ada, uangmu ikut terkuras untuk keperluan kuliah, dan setelah tugas satu selesai akan muncul tugas-tugas lainnya yang semakin tak terhitung. Haha, lebay. Tapi memang seperti itulah kenyataannya.

Guyonan anak-anak apoteker, “haduuuuuuuuh, tugas ini seperti jerawat saja. Hilang satu tumbuh seribu.” Lho, lho, lho, guyonan macam apa itu. :mrgreen:

Yah, memang seperti itulah kuliah. Dimanapun kamu kuliah, pasti akan merasakan masa-masa hectic seperti itu. Hadapi saja segalanya, nikmati setiap prosesnya, syukuri cara-Nya mendidikmu untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Nah, selain itu karena sistem perkuliahan yang begitu padat, penting banget agar kita selalu menjaga kesehatan diri. Penyakit-penyakit yang langganan terkena mahasiswa diantaranya adalah maag, ya karena mahasiswa sering banget telat makan atau makan ga teratur. Selain itu juga bisa karena faktor makanan yang tidak bersih sehingga tak jarang yang terkena gejala tifus. Jangan sampai kena ya, teman.

Qodarullah di semester pertama, baru menjalani 1 bulan perkuliahan, aku pun ‘tumbang’. Penyakit maag ku, kambuh parah. Sampai-sampai karena tidak kuat mengurus diri sendiri di bandung, aku harus dibawa pulang ke jakarta agar bisa diurus orang tua di rumah. Huhuhu. Beginilah nasib jauh dari keluarga. So, teman-teman yang masih kuliah, Please banget jaga kesehatan, dan jaga pola makan supaya bisa terus sehat dan segar dalam menjalani perkuliahan.

Setelah 2 bulan masa perkuliahan selesai, saatnya memasuki 2 bulan selanjutnya tuk Praktek Kerja Profesi Apoteker atau yang biasa disingkat PKPA. Alhamdulillah, aku mendapatkan kesempatan untuk PKPA selama sebulan di Apotek Kimia Farma Buah Batu Bandung, dan sebulan kemudian PKPA di BPOM Jakarta. Untuk mendapatkan tempat PKPA, kami harus mengambil kertas kocokan. Pada kertas kocokan tersebut, akan berisi tempat dimana kami akan PKPA. Jika ada tempat PKPA yang kurang berkenan, misalnya dikarenakan jauh sekali dari tempat tinggal, kami boleh bertukar tempat dengan teman yang lain. Namun jangan semuanya mau tukar ya friends, kasian atuh staf yang mengurusi ini jadi bingung karena saking banyaknya yang mau tukar tempat. Hehehe 😀

Finally perkuliahan semester satu selesai, dan waktunya kami liburan meski hanya 2 pekan.  Liburan singkat pun tak terasa berlalu begitu cepat, dan kami siap kembali bertempur di medan juang (gaya pisan euy). Ya, semester dua ini adalah semester akhir dari perkuliahan Profesi Apoteker, karena Program Profesi Apoteker hanya ditempuh dalam waktu 1 tahun. Bahkan isu yang telah lama berhembus bahwa Profesi Apoteker akan menjadi 2 tahun. Aduuuh, kalau profesi ditempuh dalam 2 tahun, berasa lama banget. Huhu. Makanya guys, yuk ah yang punya tekad jadi apoteker dan ada rezekinya, segera dikejar lanjut kuliah apoteker. Tapi yang lebih ingin jadi dosen, atau lebih suka ngajar, bisa segera lanjut ke S2 Farmasi.

Tak bisa dipungkiri bahwa semester dua ini adalah masa-masa penentuan, apakah kami akan dengan mudah keluar dari Apoteker ITB atau tidak. Yaaaa, ini semester bener-bener menjadi momok yang menakutkan bagi setiap mahasiswa apoteker. Karena di akhir semester inilah, kami harus menempuh ujian akhir Apoteker ITB yang begitu mengerikan, dan amat melelahkan.

Kenapa menakutkan? Karena ujian akan dilakukan selama sebulan, dan terbagi dalam 2 tahap. Jika ujian tahap 1 kami tidak lulus, maka kami tidak bisa lanjut ke ujian tahap 2, dan harus mengulang ujian di tahun depan yaitu pada semester berikutnya. Ngeri, dan tiada ampun. Jika gagal 1 kali, silahkan mengulang di semester selanjutnya. Intinya, kami tidak boleh gagal. Sedihnya, jika ujian tahap 1 kami lulus, dan berhasil masuk ke tahap 2, eh tiba-tiba di tahap 2 alias tahap akhir ujian kami tidak lulus, maka kami haruslah mengulang ujian di semester depan serta dimulai kembali ujian dari tahap 1. T_T

Huaaaaaa, nangis-nangis dah kalau ga lulus. Ujiannya itu lho, beraaat banget. Dan tentu masa tunggu ke semester berikutnya kan lama juga. Aiiiih, kejamnya. Aku ga nakutin yah. Tapi memang beginilah sistem ujian Apoteker ITB yang telah dipertahankan turun-temurun. Ujian yang amazing kayak gini, mampu buat kita jadi lebih kuat diterpa badai. Buat kita jadi tahan banting dengan segala kesulitan yang ada, dan buat kita menjadi orang yang tiba-tiba mau berubah jadi pekerja keras, jadi rajin belajar, jadi rajin banget ibadahnya, del el el. Lakukan semua itu karena Allah, in syaa allah jadi lebih ringan rasanya, dan jadi lebih ridho akan ketentuan-Nya.

Ketika kita sudah masuk Apoteker ITB, kita harus ikuti aturan mainnya, harus memacu diri agar mampu berlari dan mengejar ketertinggalan. Hal itu dilakukan agar kualitas kita mampu sebaik lulusan Apoteker ITB, sekalipun berasal dari universitas di luar ITB.

Alhamdulillah, aku sangat bersyukur karena dapat merasakan spirit belajar yang luar biasa di ITB. Disini aku menjadi lebih terpacu untuk terus belajar, terus bersemangat menapaki jalan ilmu, dan terus melatih diri menjadi pribadi yang tangguh . Sedikit berbagi, dulu sebelum aku masuk ITB, aku banyak mencari informasi tentang perkuliahan dan sistem ujian di Apoteker ITB entah dari kakak kelas, teman, googling, searching-searching sambil baca curhatan para Apoteker ITB. Hehe. Semua itu dilakukan agar aku lebih siap menghadapinya. Kudu siap mental, dan siap dana juga kalau mau kuliah disini. Tidak usah minder, tidak usah takut mencoba ya teman, justru jadikan ini semua sebagai tantangan pribadimu, seberapa mampukah kamu bertahan. Yakin kalau kamu bisa!

(bersambung ke part 2).

*Pada part 2 akan ku ceritakan seperti apa ujian akhir Apoteker ITB yang dikenal kejam itu.

(Najmthree 🙂 )

(memori yang tak kan ku lupa)

Iklan

10 comments on “Apoteker ITB bercerita (Part 1)

  1. lumayan susah ternyata masuk ITB, aq aja coba test gel I gak lulus, coz aq blm tau gmbrn soal ITB itu kayak gmn. rncnanya mau coba gel II ge, smoga aja bisa lulus. mbak punya kiat2 spya bisa lulus ujian masuk atw contoh soal tahun2 kmrn gak….mohon bantuannya, coz zq pengen bgt kul d ITB.

  2. iya rizka, memang masuk Apoteker ITB lumayan susah. Tapi insyaa allah kalau rezeki nggak kemana koq. rizka S1 farmasi dari manakah? 🙂
    Kuncinya tetap semangat untuk mempelajari mata kuliah 4 bidang keilmuan, biologi farmasi, kimia farmasi, farmasetika, dan farmakologi dek. Sama keep do’a, do’a, do’a, and tawakkal pada-Nya. Selamat berjuang! ^^

  3. Halo kak, salam kenal saya ayu. Tahun depan saya juga mulai kuliah apoteker di itb nih kak, rasanya nano-nano ya, apalagi ngebayangin ujian akhirnya. Hehe. Semoga bisa melewatinya kayak kk juga. Btw, saya kenal kak Ria dan kak Wenny dari foto di atas lho kak (satu almamater). 😀

  4. halo ka, kenalin, saya alya mahasiswa tingkat akhir farmasi. insya alloh rencananya saya ingin daftar apt itb bulan juni ini. ka, boleh share soal apt itb ga ka? makasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s