Apoteker ITB Bercerita (part 2) : Ujian Apoteker

Seperti yang telah aku tulis di part 1, bahwa ujian Apoteker ITB begitu menjadi momok yang menakutkan bagi mahasiswanya. Hmm, memang seperti apa sih ujiannya? Nah, kali ini aku akan menceritakan pengalaman dalam menghadapi ujian Apoteker ITB pada bulan agustus 2013 lalu.

Ujian dibagi menjadi dua tahapan, yaitu ujian tahap 1 adalah UPP (Ujian penelusuran pustaka), dan ujian sidang komprehensif. Sementara ujian tahap 2, adalah ujian penelusuran pustaka dengan soal kasus tertentu (ujian tulis), dan ujian konseling obat kepada professional, maupun non professional (pasien).  Jadi ujiannya dua tahap, tapi masing-masing tahapan memiliki 2 step jadi total 4 step yang harus kami tempuh. Ujian dilaksanakan pada tanggal 26 agustus sampai 26 september 2013, selama sebulan.

“What, sebulan? Lama banget yah ujiannya, ujian seperti apa itu? Ckckck.” Itu kata-kata yang sering diucapkan orang begitu mendengar waktu lamanya ujian Apoteker ITB.

Persiapan Ujian

Persiapan menjelang ujian apoteker tidaklah instan, ia harus dipersiapkan jauh-jauh hari, baiknya beberapa bulan sebelum ujian. Di mulai dari pembentukan panitia ujian dari kalangan mahasiswa apoteker, aku pun menjadi salah satu panitia ujian yaitu sebagai tim pengkajian jurnal TSF. Siapin dana ya temans, karena tentu akan semakin banyak pengeluaran. Selain itu yang sangat penting adalah persiapan buku-buku pustaka untuk ujian. Kita bisa meminjam buku-buku tersebut dari kakak kelas, atau foto kopi sendiri buku-buku tebal itu. Eh ini bisa juga disiapkan, partner ujian. Hehe. Ya, partner ujian hanya untuk membantu kita mencari bahan-bahan ujian, menyalin informasi dari pustaka, dan teman diskusi. Tapi tetap kita yang pegang kendali di ujian itu. Tak boleh menggantungkan kesuksesan ujian kepada partner. Yakin akan kemampuan diri kita ya, dan selalu ingat “The Best Partner is Allah.”

Dua pekan sebelum ujian, aku masih dibebankan tugas Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA)  di RS. Hasan Sadikin Bandung (RSHS). Aaaaak, tugas Kasus PTO (Pemantauan Terapi Obat) RSHS cukup membuat stress. Harusnya menjelang ujian begini, kami tidak perlu disibukkan dengan tugas berat. Huhuhu. Sabaaar. Ya, setelah urusan PKPA selesai, saatnya fokus kembali untuk persiapan ujian. Yuhuuuu, mari berberes buku-buku berat itu agar tersusun rapi. Beli-beli bermacam-macam alat tulis, melabelkan semua buku-buku dengan nama kita, membatasi file-file berisi setumpuk kertas JSS, dll. Ini pekerjaan perintilan banyak pisan. Aku baru ngerjain ini H- beberapa hari mau ujian. Bahkan H-1, disaat orang-orang udah pada nyantai, aku masih juga ngerjain beginian. Hmm, maklum yah PKPA aku dan beberapa teman-teman selesainya paling belakangan. Hiks :’).

Persiapan menjelang ujian tak luput dari belajar, belajar, belajar, dan berdiskusi. Yang paling mudah dilakukan adalah pelajari jurnal ujian kakak kelas, pelajari jurnal dari berbagai tipe sediaan farmasi, baca curhatannya di lembar curhat ujian karena disana banyak banget info yang mungkin membantu kita. Biasanya sebelum ujian, akan ada beberapa kali simulasi UPP. Ini nih kesempatan kita untuk belajar mengkondisikan suasana seperti ujian, mengasah pikiran, dan menyusun strategi pribadi dalam menghadapi ujian. Aku hanya serius mengikuti 1 kali simulasi UPP, dan saat itu aku bertekad simulasi harus kelar jadi 1 jurnal. Alhamdulillah simulasi kelar meskipun dalam waktu beberapa hari. Namun strategi saat itu, aku langsung melibatkan partner dalam simulasi UPP sehingga pekerjaan partner, langsung aku masukan dalam 1 jurnal simulasi milikku. Dalam simulasi ini, aku sekalian menghitung perkiraan waktu yang mampu aku dan partner kerjakan sehingga aku bisa mendapat gambaran nanti UPP akan seperti apa.

buku ujian bawa ke kampus

H-1 ujian saatnya kami pindahan buku-buku pustaka ke ruang ujian. Ya, karena saat ujian penelusuran pustaka ini, kami harus membuka buku-buku pustaka yang akan menjadi acuan dalam membuat jurnal ujian. Aku membawa 2 koper buku untuk dibawa ke ruang ujian. Untuk membawa koper-koper berisi buku-buku tebal nan berat itu, tak mungkin aku pindahkan sendiri. Alhamdulillah partnerku yang baik, intan, mau membantuku pindahan buku ke kampus. Huhuhu, terharuuu. Makasih banyak dek intan. Allah sebaik-baik pemberi balasan. Sampai di kampus dengan motor, sayangnya saat itu kendaraan tak bisa masuk sampai ke gedung farmasi, karena ITB sedang car free day di hari ahad. Kami pun harus menggerek koper berat itu dari parkiran motor menuju ke gedung farmasi ITB. Huaaa, bisa kebayang hampir semua orang ngeliat kita sedang berjalan sambil menggerek koper menuju farmasi . Berasa kayak mau tereliminasi di akademi fantasi. Hahaha, lebay. Begitulah yang harus kami lakukan tepat H-1 sebelum UPP.

Kalau boleh ku simpulkan, dalam persiapan ujian ini ada dua ikhtiar yang harus dilakukan, yaitu ikhtiar bumi, dan ikhtiar langit. Ikhtiar bumi itu persiapan yang telah aku paparkan di atas. Namun ikhtiar langit ini sangat memegang kendali. Apa aja ikhtiar langit? Ya, giatkanlah ibadah, mulai dari ibadah wajib serta sunnah. Sholat qiyamul lail ini harus sering-sering dilakukan, kalau bisa setiap hari. Perbanyak shoum, in syaa allah do’a orang yang berpuasa tidak akan tertolak. Banyakin sedekah karena sedekah bisa menjadi jalan pertolongan Allah, dan banyak minta do’a dari orang tua, serta siapapun juga. Semoga Allah mudahkan urusan teman-teman yang akan menghadapi ujian Apoteker ITB.

Seringkali beberapa orang bilang, kalau dalam ujian apoteker ITB ini banyak hal yang terjadi diluar dugaan kita. Bahkan orang yang dianggap paling pintar sekalipun bisa tidak lulus dalam ujian ini. Banyak yang berkata, hanya keberuntungan atau keajaiban lah yang membawa kita untuk lulus. Namun kuyakini sesungguhnya pertolongan Allah lah yang membawa kita untuk mampu lulus dari ujian. Bukan yang lain. Dengan pertolongan-Nya, segala sesuatu akan terasa lebih mudah. Maka gantungkan segala hal hanya kepada Allah.

Saatnya, Ujian Apoteker Tahap 1

UPP 1 (26-27 Agustus 2013) :

Hari yang dinanti tiba, Ujian Penelusuran Pustaka akhirnya menyapa kami. Ini adalah ujian pengkajian obat dimulai dari A sampai Z, yaitu mulai dari pengkajian undang-undang yang mengatur tentang obat yang kami dapat, pengkajian obat dari sisi farmakologi, farmasetika, analisis farmasi, serta wadah sediaan. Kami harus menuliskan semua hal terkait pengkajian obat, di dalam 1 jurnal penelusuran pustaka. Ujian dimulai jam 8 pagi, dan setiap mahasiswa akan mengambil kocokan soal ujian. Aku berusaha untuk menenangkan diri sampai undian soal berada ditangan. Deg-degan? Lumayanlah, banyak dzikir aja friends, karena dengan banyak mengingat Allah hati akan lebih tenang. Setelah mengambil undian soal, aku cukup kaget karena mendapat obat yang belum pernah aku dengar yaitu Tablet Danazol.

Sontak ni hati bergumam, “obat apa ini? owh obat antijamur kali yah?.”

Eh tapi pas di cek lagi, bukaaan sama sekali. Ini bukan obat anti jamur, mentang-mentang ujung namanya ada –ol. Hehe. Jadi ini adalah obat golongan hormon androgen. Nah lho, soal Jackpot pisan ini mah, karena soal ini belum pernah keluar sama sekali di ujian apoteker ITB. Hwuaaa. Yang bikin agak-agak shock, pas buka index buku-buku monografi, seperti FI, BP, EP, JP, IP, hey-hey-hey, apa ga salah nih? obat aku ga ada sama sekali di buku-buku monografi tadi! Aku hanya menemukan di USP NF 32. Tapi alhamdulillahnya, data farmakologi lengkap di AHFS, USP DI, DIH, GG, Katzung. Dan data analisis juga ada di Clarks, dan Instrumental drug data for analysis. Alhamdulillaah. Walau begitu, tetap optimis, maju terus pantang mundur dengan data-data yang ada.

Hari pertama aku selesaikan bab 1 dan sebagian bab 2, desain wadah, dan daftar pustaka (hehe.., jadi pas hari kedua dah ga mikir dapus, khawatir ga sempet). Jam 5 sore waktunya ujian hari pertama berakhir. Sebagian jurnal ujian yang telah ditulis dengan tangan alias bukan diketik, dikumpulkan ke pengawas. Sehingga esok harinya, pada UPP hari kedua kami dapat kembali melanjutkan menulis jurnal sampai selesai.

Alhamdulillah, dalam menjalani ujian apoteker ini aku mantap untuk tidak menggunakan basecamp, alias tetap di kosan saja. Aku mohon pilihan yang terbaik sama Allah melalui istikhoroh, karena ini juga merupakan pilihan sulit. Ya, Allah Tau bahwa aku apabila belajar membutuhkan suasana yg lebih hening dan kondusif maka jawaban dari-Nya, “just do it in your home.”

Sampai di kosan sorenya, Alhamdulillah 3 orang partner sudah mulai sibuk mencari pustaka terkait dengan soal yang ku dapat. Sekitar jam 12 malam, partner analisis dan farmasetika sudah selesai mengerjakan bagiannya. Sementara partner farmakologi bersama aku mengerjakan bab 2 yang buanyaaak dan harus dikaji lagi, brosur obat, informasi professional, dan informasi non professional. Semua bahan yang akan ditulis untuk melengkapi jurnal esoknya saat UPP hari kedua, harus selesai malam itu juga karena khawatir kalau masih ada bahan yang dicari-cari di hari ke-2 itu, jurnal kita bisa tidak selesai. Jadi hari kedua ujian aku tinggal menyalin saja, bahan yang telah disiapkan di malam hari.

Malam itu aku dan partner farmakologi bekerja keras, berjuang untuk menyelesaikan bahan-bahan pustaka farmakologi yang sangat banyak. Hiks. Alhasil , kala itu tak terasa sudah jam 3 pagi. Dan diri ini sudah sangat mengantuk, sehingga tak sengaja tertidur di meja belajar selama 5 menit. Zzzzzzzzzzz. Aku buru-buru bangun, setelah sadar 5 menit tertidur sementara pekerjaanku masih banyak. Hiks. Saat bangun itu, kepala malah pusing sekali, maka  aku putuskan untuk tidak tidur sampai pagi. Alhamdulillah pagi hari sekitar jam 6 pekerjaan ketik-mengetik bahan sudah selesai. Tinggal ngeprint yang kurang saja, dan menyusun urutan-urutan bab yang sudah dikerjakan. Pekerjaan semalaman siap dibawa ke kampus.

buku pustaka erni

Hari kedua UPP masuk kembali jam 8 pagi, dan aku siap menyalin dengan tanganku semua pekerjaan yang telah kukerjakan semalam. Bab-bab yang belum ku kerjakan, lalu ku salin ke kertas ujian. Jam-jam awal ujian begitu semangat sekali menulis, sampai tiba jam 10 pagi nguantuuuuuuuuuk banget. Maklum ya semalam tak tidur. Aku ketiduran sejenak di meja ujianku, dengan posisi masih terduduk, dan dengan pulpen masih kupegang seperti orang menulis. Hmmmmm, hayooo bangun-bangun erni, pekerjaan tulis-menulis masih panjang. Kamu kuaaat, kuaaaat.

ISHOMA tiba saat jam menunjukkan pukul 12 sampai pukul 13 siang, sejenak merelaksasikan tanganku yang agak mulai sakit akibat menulis. Setelah ishoma, ayoooo bertempur kembali. Tulis, tulis, tulislah dengan tanganmu. Dan tak terasa waktu menunjukkan pukul 15, itu artinya dua jam lagi menuju jam 17. Aaaaak tidaaaak, dari 7 bab jurnal ujian, masih ada dua bab lagi yang belum ku tulis. Akhirnya aku ngebut, menyalin bab 3 dan bab 5. Ingin rasanya berteriak, tangan kananku sakiiiiiiiiiiiiiit sekali, hampir keram, nyaris sulit digerakan, karena tangan ini sudah dipakai menulis dari jam 8 pagi hanya istirahat 1 jam. Apa daya, dengan tangan yang begitu sakit dan kaku, aku harus terus menulis sampai semua bab pada jurnal ujian selesai. Karena kalau jurnal ujian tidak selesai, bisa-bisa tidak lulus nanti. Hiks.

Alhamdulillaah 46 halaman selesai ku tulis dengan tanganku. Ibarat kita nulis 46 halaman skripsi pakai tulisan tangan bukan diketik, coba aja rasakan bagaimana sensasinya. Ruaaarr biasa. Jadi hari kedua itu aku full hanya menulis selama 8 jam, dimulai dari jam 8 pagi, istirahat 1 jam, lanjut sampai jam 5 sore.

Akibat itu semua, jari-jari dan telapak tangan ini benar-benar ga karuan rasanya. Sampai-sampai ada beberapa teman yang menempel-nempelkan koyo di setiap ruas jari-jari tangannya karena saking pegal dan sakitnya tangan itu dipakai menulis berpuluh-puluh lembar halaman dalam dua hari. Bukan hanya jari-jari yang pegal, tapi badan ini rasanya mau patah. Hehe, lebay. Tapi memang begitulah rasanya. Karena sedari tanggal 26 agustus hari pertama ujian, aku belum rebahan di kasur sama sekali sampai di hari kedua selesai ujian ini. Hooah, Alhamdulillah, Ya Allah, akhirnya aku mampu melalui ujian tahap 1 step pertama ini. Aku bener-bener ga mau lagi  merasakan ujian kayak gini. Cukup sekali ini aja, Ya Allah. Hiks. Sudahlah, yuk bergegas lagi masih ada step 2 di ujian tahap 1 ini, yaitu sidang komprehensif.

UPP 1 hal 1

Sidang komprehensif (4 September 2013)

Tepat seminggu setelah ujian penelusuran pustaka, dilaksanakanlah sidang komprehensif. Saat sidang ini, setiap anak akan diuji oleh lebih dari 5 dosen. Awalnya aku masuk ke ruangan dengan tenang, dan saat masuk cukup kaget karena ternyata diruangan itu telah duduk 9 orang dosen. Oke, baiklah in syaa allah aku siap memulai sidang kompre. Ada 6 orang penguji yang berasal dari empat bidang yaitu 2 orang penguji dari pemerintahan, 2 orang penguji dari apotek, 1 orang penguji dari rumah sakit, dan 1 orang penguji dari industri. Mereka semua adalah para praktisi. 3 orang dosen ITB lainnya adalah pengawas ujian kompre.

Setelah ibu dari industri menanyakan beberapa hal terkait evaluasi pembuatan obat, aku masih berpikir bahwa Pak tutus akan menanyakan beberapa hal seputar analisis obat. Hwuaa, agak takut karena pak tutus ini jagonya analisis. Tapi ga taunya Pak Tutus malah bilang, “Sudah cukup yah.”

Hah, spontan aku bilang “Eh, udah selesai pak?” (dalam hati ngomong, lho koq cepet yah?).

Trus Pak Tutus jawab, “Iya udah, emangnya kamu mau lagi?”

“Hahahaha, ga pak,” jawabku dengan polos dan masih terheran-heran.

Bener-bener ga berasa lama ujian kompre kali ini, padahal sudah satu jam berlalu. Entahlah aku merasa sidang kompre ini begitu cepat, mungkin karena aku merasa menikmati prosesnya. Walau ada beberapa hal yang ga bisa dijawab, namun aku tidak merasa banyak kesulitan yang berarti dalam menghadapinya. Alhamdulillah. Terimakasih Ya Allah atas segala pertolongan Allah membuatku begitu tenang dan mudah dalam menghadapi ujian ini. Friends, tips dari aku. Kunci dalam menghadapi ujian itu yang penting tenang, yakin, dan nikmati prosesnya, ga usah pengen cepet-cepat selesai, nanti juga akan ada masa selesainya. Yang penting lakukan ikhtiar sebaik mungkin.

Sudah dua step ujian tahap 1 yang kami lalui, yaitu ujian penelusuran pustaka dan ujian sidang kompre. Akhirnya pengumuman kelulusan tahap 1 ditempel di tanggal 5 september 2013. Waaah ini dia, salah satu moment penentuan kami akan lanjut ke ujian tahap 2 atau tidak. Alhamdulillaaah aku LULUS ujian tahap 1. Makasih Ya Allah. Senaaaaang, plus sedih juga sih karena ada beberapa teman yang tidak lulus di ujian tahap 1 ini. Itu artinya mereka tidak bisa lanjut ujian ke tahap dua dan mereka harus mengulang ujian di semester berikutnya. Hiks.

Kelulusan ini tidak boleh membuat kami terlena, perjuangan kami belum selesai. Masih ada ujian tahap 2 yang harus dilalui, sebelum kami benar-benar resmi dinyatakan lulus menjadi seorang apoteker. Jalan masih panjang kawan, ini baru setengahnya. Seperti apa kelanjutan ceritanya ya?

(bersambung ke part 3)

(NajmThree)

(Unforgettable Moment)

Iklan

Apoteker ITB bercerita (Part 1)

Tulisan ini dibuat, untuk berbagi especially buat teman-teman yang ingin kuliah di Apoteker ITB atau sedang menikmati masa-masa menjadi mahasiswa Apoteker ITB. Selamat membaca 🙂

itb2Kali ini, aku ingin mengajak teman-teman memasuki dunia Apoteker ITB sejenak. Izinkan aku bercerita mengenai pengalaman berkuliah selama setahun di Apoteker ITB ini. Menapaki jejaknya, dan mengambil hikmah dari setiap perjuangan yang terlukis. Tak bisa dipungkiri, ada ungkapan yang menyatakan kalau kita kuliah di Apoteker ITB, “susah masuknya, susah pula keluarnya.”  Aku merasakan bagaimana susahnya menghadapi soal ujian masuk Apoteker ITB. Itu karena aku berasal dari S1 Farmasi non ITB, sehingga untuk dapat masuk ke Apoteker ITB aku harus mengikuti ujian masuk dahulu. Saat ujian masuk Apoteker ITB, kita harus mengerjakan soal-soal dari 4 bidang keilmuan, yaitu biologi farmasi, kimia farmasi, farmasetika, dan farmakologi. Tentu sebelumnya ikhtiar haruslah dilakukan sebaik mungkin. Penting tuk pelajari setiap bahan yang berhubungan dengan ke empat kelompok kelimuan tadi, iringi dengan do’a sungguh-sungguh, dan selanjutnya tawakkal pada-Nya.

Usai mengerjakan soal-soal sulit itu, hati ini rasanya sudah pesimis dan tak yakin. Namun aku pasrahkan segala hasil yang terbaik menurut Allah. Saat pengumuman tiba, syukurku pada Allah karena aku menjadi 1 dari 9 orang yang lolos ujian masuk Apoteker ITB. Ya, hanya 9 orang dari 48 orang peserta ujian yang diterima pada gelombang 1 ujian masuk apoteker itu. Masyaallah. Ku yakin, ini jawaban terbaik dari Allah bahwa ku mampu menjadi bagian dari Apoteker ITB. Alhamdulillah 🙂

Oktober 2012 aku dan teman-teman memulai masa pembelajaran di Apoteker ITB. Ketika itu betapa terkejutnya kami dengan sistem perkuliahan yang cukup membuat kami ngos-ngosan. Satu semester hanya ditempuh dalam waktu empat bulan. Dua bulan pertama dipakai perkuliahan dikelas, dan dua bulan selanjutnya dipakai untuk praktek kerja profesi apoteker. Hey, namun saat ini sistem perkuliahan Apoteker ITB tidak lagi seperti sebelumnya. Perkuliahan full akan ditempuh selama semester pertama, sedangkan semester kedua akan digunakan full sebagai waktu untuk praktek kerja profesi apoteker plus ujian akhir apoteker. Waktu pembelajaran seperti inilah yang umum dipakai oleh apoteker kampus-kampus lain.

Back to the story, semester pertama kami berasa seperti ‘tidak bernafas’, bayangkan saja perkuliahan di kelas hanya di kejar dalam waktu 1 bulan 2 minggu, selanjutnya 2 minggu terakhir langsung dipakai UAS. Alhasil, hampir setiap hari kami masuk dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore, dengan waktu istirahat yang singkat. Terkadang juga ada kuliah tamu sampai jam 5 sore. Belum lagi dengan tugas-tugas seabrek yang harus dikerjakan secara berkelompok. Mengatur pertemuan dengan kelompok itulah yang sulit. Biasanya kami akan gunakan waktu kosong disela-sela jadwal kuliah, untuk berkumpul. Atau sepulang kuliah, serta weekend pun dipakai untuk mengerjakan tugas kelompok. Perlu diketahui bahwa tugas-tugas selama apoteker ini, lebih banyak tugas kelompok dibandingkan dengan tugas individual. Hal tersebut salah satunya dimaksudkan untuk mempersiapkan calon apoteker agar terbiasa bekerjasama dengan orang lain.

Hikmahnya, syukurilah tugas-tugas yang kamu dapatkan semasa perkuliahan, karena tugas-tugas itu yang kan membuatmu lebih giat belajar, lebih giat mencari, lebih mengasah daya pikirmu, lebih menajamkan kepahamanmu akan ilmu, dan segudang manfaat lainnya. Walau kadang terlalu banyak keluhan, karena waktu tidurmu amat sangat sedikit, waktu refreshingmu hampir tidak ada, uangmu ikut terkuras untuk keperluan kuliah, dan setelah tugas satu selesai akan muncul tugas-tugas lainnya yang semakin tak terhitung. Haha, lebay. Tapi memang seperti itulah kenyataannya.

Guyonan anak-anak apoteker, “haduuuuuuuuh, tugas ini seperti jerawat saja. Hilang satu tumbuh seribu.” Lho, lho, lho, guyonan macam apa itu. :mrgreen:

Yah, memang seperti itulah kuliah. Dimanapun kamu kuliah, pasti akan merasakan masa-masa hectic seperti itu. Hadapi saja segalanya, nikmati setiap prosesnya, syukuri cara-Nya mendidikmu untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Nah, selain itu karena sistem perkuliahan yang begitu padat, penting banget agar kita selalu menjaga kesehatan diri. Penyakit-penyakit yang langganan terkena mahasiswa diantaranya adalah maag, ya karena mahasiswa sering banget telat makan atau makan ga teratur. Selain itu juga bisa karena faktor makanan yang tidak bersih sehingga tak jarang yang terkena gejala tifus. Jangan sampai kena ya, teman.

Qodarullah di semester pertama, baru menjalani 1 bulan perkuliahan, aku pun ‘tumbang’. Penyakit maag ku, kambuh parah. Sampai-sampai karena tidak kuat mengurus diri sendiri di bandung, aku harus dibawa pulang ke jakarta agar bisa diurus orang tua di rumah. Huhuhu. Beginilah nasib jauh dari keluarga. So, teman-teman yang masih kuliah, Please banget jaga kesehatan, dan jaga pola makan supaya bisa terus sehat dan segar dalam menjalani perkuliahan.

Setelah 2 bulan masa perkuliahan selesai, saatnya memasuki 2 bulan selanjutnya tuk Praktek Kerja Profesi Apoteker atau yang biasa disingkat PKPA. Alhamdulillah, aku mendapatkan kesempatan untuk PKPA selama sebulan di Apotek Kimia Farma Buah Batu Bandung, dan sebulan kemudian PKPA di BPOM Jakarta. Untuk mendapatkan tempat PKPA, kami harus mengambil kertas kocokan. Pada kertas kocokan tersebut, akan berisi tempat dimana kami akan PKPA. Jika ada tempat PKPA yang kurang berkenan, misalnya dikarenakan jauh sekali dari tempat tinggal, kami boleh bertukar tempat dengan teman yang lain. Namun jangan semuanya mau tukar ya friends, kasian atuh staf yang mengurusi ini jadi bingung karena saking banyaknya yang mau tukar tempat. Hehehe 😀

Finally perkuliahan semester satu selesai, dan waktunya kami liburan meski hanya 2 pekan.  Liburan singkat pun tak terasa berlalu begitu cepat, dan kami siap kembali bertempur di medan juang (gaya pisan euy). Ya, semester dua ini adalah semester akhir dari perkuliahan Profesi Apoteker, karena Program Profesi Apoteker hanya ditempuh dalam waktu 1 tahun. Bahkan isu yang telah lama berhembus bahwa Profesi Apoteker akan menjadi 2 tahun. Aduuuh, kalau profesi ditempuh dalam 2 tahun, berasa lama banget. Huhu. Makanya guys, yuk ah yang punya tekad jadi apoteker dan ada rezekinya, segera dikejar lanjut kuliah apoteker. Tapi yang lebih ingin jadi dosen, atau lebih suka ngajar, bisa segera lanjut ke S2 Farmasi.

Tak bisa dipungkiri bahwa semester dua ini adalah masa-masa penentuan, apakah kami akan dengan mudah keluar dari Apoteker ITB atau tidak. Yaaaa, ini semester bener-bener menjadi momok yang menakutkan bagi setiap mahasiswa apoteker. Karena di akhir semester inilah, kami harus menempuh ujian akhir Apoteker ITB yang begitu mengerikan, dan amat melelahkan.

Kenapa menakutkan? Karena ujian akan dilakukan selama sebulan, dan terbagi dalam 2 tahap. Jika ujian tahap 1 kami tidak lulus, maka kami tidak bisa lanjut ke ujian tahap 2, dan harus mengulang ujian di tahun depan yaitu pada semester berikutnya. Ngeri, dan tiada ampun. Jika gagal 1 kali, silahkan mengulang di semester selanjutnya. Intinya, kami tidak boleh gagal. Sedihnya, jika ujian tahap 1 kami lulus, dan berhasil masuk ke tahap 2, eh tiba-tiba di tahap 2 alias tahap akhir ujian kami tidak lulus, maka kami haruslah mengulang ujian di semester depan serta dimulai kembali ujian dari tahap 1. T_T

Huaaaaaa, nangis-nangis dah kalau ga lulus. Ujiannya itu lho, beraaat banget. Dan tentu masa tunggu ke semester berikutnya kan lama juga. Aiiiih, kejamnya. Aku ga nakutin yah. Tapi memang beginilah sistem ujian Apoteker ITB yang telah dipertahankan turun-temurun. Ujian yang amazing kayak gini, mampu buat kita jadi lebih kuat diterpa badai. Buat kita jadi tahan banting dengan segala kesulitan yang ada, dan buat kita menjadi orang yang tiba-tiba mau berubah jadi pekerja keras, jadi rajin belajar, jadi rajin banget ibadahnya, del el el. Lakukan semua itu karena Allah, in syaa allah jadi lebih ringan rasanya, dan jadi lebih ridho akan ketentuan-Nya.

Ketika kita sudah masuk Apoteker ITB, kita harus ikuti aturan mainnya, harus memacu diri agar mampu berlari dan mengejar ketertinggalan. Hal itu dilakukan agar kualitas kita mampu sebaik lulusan Apoteker ITB, sekalipun berasal dari universitas di luar ITB.

Alhamdulillah, aku sangat bersyukur karena dapat merasakan spirit belajar yang luar biasa di ITB. Disini aku menjadi lebih terpacu untuk terus belajar, terus bersemangat menapaki jalan ilmu, dan terus melatih diri menjadi pribadi yang tangguh . Sedikit berbagi, dulu sebelum aku masuk ITB, aku banyak mencari informasi tentang perkuliahan dan sistem ujian di Apoteker ITB entah dari kakak kelas, teman, googling, searching-searching sambil baca curhatan para Apoteker ITB. Hehe. Semua itu dilakukan agar aku lebih siap menghadapinya. Kudu siap mental, dan siap dana juga kalau mau kuliah disini. Tidak usah minder, tidak usah takut mencoba ya teman, justru jadikan ini semua sebagai tantangan pribadimu, seberapa mampukah kamu bertahan. Yakin kalau kamu bisa!

(bersambung ke part 2).

*Pada part 2 akan ku ceritakan seperti apa ujian akhir Apoteker ITB yang dikenal kejam itu.

(Najmthree 🙂 )

(memori yang tak kan ku lupa)

~Penggunaan masya Allah dan subhanallah yang sering terbalik~

images

Berikut ini kultweet Ust @salimafillah tentang ”Subhanallah” & ”Masyaallah”.

Al Quran menuturkan; Subhanallah digunakan dalam mensucikan Allah dari hal yang tak pantas. “Maha Suci Allah dari mempunyai anak, dari apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan, dll.”

Ayat-ayat berkomposisi ini sangatlah banyak. Juga, Subhanallah digunakan untuk mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikkan semacam syirik (QS 34: 40-41), dihinakannya Allah tersebab kita (QS 12: 108) dll.

Bukankah ada juga pe-Maha Suci-an Allah dalam hal menakjubkan? Uniknya, Al Quran menuturnya dengan kata ganti kedua (QS 3: 191), atau kata ganti ketiga yang tak langsung menyebut asma Allah (QS 17: 1 dll).

Sedangkan ia juga terpakai pada; me-Maha Suci-kan Allah dalam menyaksikan bencana & mengakui kezhaliman diri (QS 68: 29), menolak fitnah keji yang menimpa saudara (QS 24: 16). Bagaimana Hadits-nya?

“Kami apabila berjalan naik membaca takbir, & apabila berjalan turun membaca tasbih.” (HR Al Bukhari, dari Jabir).

Jadi “Subhanallah” dilekatkan dalam makna “turun”, yang kemudian sesuai dengan kebiasaan orang dalam Bahasa Arab secara umum; yakni menggunakannya tuk mengungkapkan keprihatinan atas suatu hal kurang baik di mana tak pantasAllah SWT dilekatkan padanya.

Adalah Gurunda @kupinang (Moh. Fauzil Adhim) yang pernah memiliki pengalaman memuji seorang Gurunda lain nan asli Arab dengan “SubhanaLlah”, kemudian mendapat jawaban tak dinyana.“Astaghfirullahal ‘Adhim; ‘afwan Ustadz; kalau ada yang bathil dalam diri & ucapan ana; tolong segera Ant luruskan!”, kira-kira demikian.

Bagaiamana simpulannya? Dzikir tasbih secara umum adalah utama, sebab ia dzikir semua makhluq & tertempat di waktu utama pagi & petang. Adapun dalam ucapan sehari-hari, mari membiasakan ia sebagai pe-Maha Suci-an Allah atas hal yang memang tak pantas bagi keagungan-Nya.

Bagaimana dengan “Masyaallah”?

QS 18: 39 memberi contoh; ia diucapkan atas kekaguman pada aneka kebaikan melimpah; kebun, anak, harta. Sungguh ini semua terjadi atas kehendak Allah; kebun subur menghijau jelang panen; anak-anak yang ceria menggemaskan, harta yang banyak. Lengkapnya; “Masyaallah la quwwata illa biLlah”, kalimat ke-2 menegaskan lagi; tiada kemampuan mewujudkan selain atas pertolongan Allah.

Pun demikian dalam kebiasaan lisan berbahasa Arab; mereka mengucapkan “Masyaallah” pada keadaan juga sosok yang kebaikannya mengagumkan.

Demikianlah pengalaman menghadiri acara Masyaikh; & membersamai beberapa yang empat ke Jogokariyan; dari Saudi, Kuwait, Syam, & Yaman.

Di antara mereka ada yang berkata, “Masyaallah” nyaris tanpa henti, kala di Air Terjun Tawangmangu, Bonbin Gembiraloka, & Gunung Merapi.

Simpulannya; “Masyaallah” adalah ungkapan ketakjuban pada hal-hal yang indah; dan memang hal indah itu dicinta & dikehendaki oleh Allah. Demi ketepatan makna keagungan-Nya & menghindari kesalahfahaman; mari biasakan mengucap “Subhanallah” & ”MasyaaLlah” seperti seharusnya.

Membiasakan bertutur sesuai makna pada bahasa asli insyaallah lebih tepat & bermakna. Tercontoh; orang Indonesia bisa senyum gembira padahal sedang dimaki. Misalnya dengan kalimat; “Allahu yahdik!”. Arti harfiahnya; ”Semoga Allah memberi hidayah padamu!” Bagus bukan? Tetapi untuk diketahui; makna kiasan dari “Allahu yahdik!” adalah “Dasar gebleg!” ;D

Jadi, mari belajar tanpa henti & tak usah memaki 😉
Yuk kita belajar menggunakan kata subhanallah dan masya Allah dengan benar, sering salah memang penggunaannya, bahkan seorang ustadz ternama sekalipun masih seringkali salah dalam penempatan penggunaan kalimat subhanallah dan masya Allah ini.

Tapi kebenaran itu hanya ada 1, dan ia bisa diperoleh hanya dengan 2 hal yaitu akal yang cerdas dan hati nurani yang bersih, semoga kita salah satunya yah .

*Repost from FB Oki Setiana Dewi. Moga bermanfaat 🙂