Alhamdulillah, Aku Berjilbab..

#World Hijab Day_4 sept. Izinkanku membagi kisah hijab yang menjadi memori terdalam bagi datangnya berbagai limpahan cinta-Nya padaku. Semoga tulisan ini, bermanfaat…..

******

Hari ini pikiranku berkelana ke suatu masa dimana aku baru mengenal benda bernama jilbab. Aku membiarkan pikiranku melayang menuju memori terdalam yang membawaku pada hidayah itu. Membiarkannya larut menyelami ingatan akan kebersamaan dengan insan-insan mulia perantara hidayah cinta-Nya padaku. Sungguh, betapa inginnya aku membagi-bagikan butiran-butiran hikmah ini kepada siapa saja.

Tepat 11 tahun yang lalu, saat aku masih duduk dibangku kelas 2 SMP. Aku teringat dengan satu pribadi yang mempesona, sosok wanita sholihah, ramah, anggun, nan cantik itu. Ya, beliau adalah kakak sepupuku. Sebut saja ia Teh Yanti. Di masa itu saat jilbab lebar begitu asing terlihat, ia telah mengenakannya. Perempuan berparas cantik, berhidung mancung, berkulit putih, dan berperawakan tinggi bak model itu, sungguh-sungguh membuatku terpesona dengan keanggunannnya berjilbab. Teh yanti begitu rapat menutup tubuhnya dengan pakaian longgar, lengkap dengan manset yang menutup pergelangan tangannya yang putih, jilbab lebar, serta berkaos kaki. Penampilannya begitu indah dilihat, karena ia pun pandai memadupadankan warna jilbab dengan pakaiannya.

“Subhanallah, cantik dan anggunnya.. Inginnya nanti bisa belajar banyak dari Teh Yanti,” gumamku dalam hati.

“Betapa beruntungnya, laki-laki yang mendapatkan wanita seperti ini.. Sudah sholihah, cantik, anggun, ramah dan baik, juga berasal dari keluarga yang Allah berikan rizki berlebih,” gumamku terus bergelayutan.

Betapa senangnya aku, saat Teh Yanti memberikan aku beberapa jilbab serta manset beraneka warna. Ia mengajarkan aku bagaimana menggunakan jilbab sepertinya. Sungguh, alangkah bahagianya aku.

“Saat di sekolah nanti, aku ingin mencoba memakai jilbab lebar,” pikirku saat itu.

Ekspresi keinginanku untuk bisa berjilbab akhirnya sampai pada suatu kesempatan dimana aku tertatih untuk belajar membiasakan diri. Setiap hari jum’at, para siswa dan siswi diharuskan memakai pakaian muslim. Tak seperti kebanyakan siswi lain yang ogah-ogahan memakai jilbab karena gerah, diriku begitu semangat menggunakan baju dan rok panjang, serta jilbab lebar ditambah manset berwarna.

“Ah, sungguh aneh diriku ini. Tiap hari senin sampai kamis memakai baju lengan pendek, rok pendek, dan gaul abis. Eh, tiap jum’at, tiba-tiba seperti ‘mendadak sholihah’. Hmm.., Ga apa-apa deh, namanya juga masih belajar,” pikirku beralasan.

Tak bisa kupungkiri ada sedikit keresahan dalam hati untuk bisa menyempurnakan penampilanku dalam menutup aurat. Namun, saat itu aku masih belum mantap untuk berjilbab.

Jum’at itu, suasana cerah. Ia menjadi hari yang terasa begitu berbeda. Nampaknya, teman-teman dan guru pun juga terlihat berbeda saat itu. Mereka seperti lebih ramah dan sopan padaku. Ah, bahkan ada hal yang tak pernah ku lupa sampai saat ini. Ibu guru yang mengajarkan pelajaran tata niaga, pernah berkata padaku saat aku sedang berbincang-bincang hangat dengannya di ruang guru siang itu.

“Yaah, Erni cantiknya kalau hari jum’at aja nih..” Kata Ibu guru.

“Ah, ibu bisa aja.. Jadi kalau hari biasa, ga cantik donk Bu? Hehehe..” Jawabku ngeles.

Dalam hati, sejujurnya aku merasa tertohok akan kata-kata itu. Ia seolah mengajakku untuk kembali melihat diri bahwa perempuan berjilbab itu cantik, perempuan berjilbab itu anggun, perempuan berjilbab itu memiliki derajat yang tinggi di sisi-Nya, karena ia bersedia taat akan perintah-Nya.

Tak tanggung-tanggung, Abangku yang ikhwan pun selalu mengingatkan aku untuk bisa segera menutup aurat. Abangku selalu complain jika pakaianku agak ketat. Ia begitu perhatian dengan penampilanku.

“Erni, bajunya jangan pake yang itu donk. Ganti yang lain aja.. Kan ga enak diliat orang,” tuturnya.

“Iiiih, biarin aja kenapa sih? Cerewet banget deh,” kataku.

Betapa nakalnya aku saat itu. Kini, saat aku teringat masa itu, aku sadar bahwa Abangku begitu sayang padaku. Ia menginginkanku agar belajar menjadi muslimah yang sesungguhnya. Semoga Allah menjaga Ia dan keluarga nun jauh disana.

Kini tiba masanya saat kemantapan hatiku membuncah untuk berjilbab. Aku telah lulus dari SMP. Alhamdulillah aku diterima di SMA 70, salah satu SMA favorit di jakarta. Aku mantap untuk berjilbab saat masuk SMA. Keinginanku berjilbab, aku utarakan dengan hati-hati saat sedang berbincang-bincang santai di ruang tengah bersama Papa dan Mama.

“Ma, aku ingin berjilbab. Saat masuk SMA nanti, aku ingin berjilbab ya..”

“Aku risih selama ini kalau jalan sering sekali diganggu orang, aku risih dengan pakaian biasa yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh. Dengan berjilbab, aku merasa lebih aman dan nyaman, Ma..” jelasku saat itu.

Namun, aku tidak pernah menduga jawaban dari orang tuaku ini.

“Ga,,, ga usah, kamu ga usah berjilbab.. Nanti-nanti saja berjilbabnya..” kata Ibuku

“Nanti kapan Ma? Dan kenapa?” tanyaku.

“Kalau pakai jilbab itu harus selamanya, ga boleh di lepas-lepas lagi.. Nanti kamu susah lagi, mau ini itu,” kata Ibuku.

“Ma, iya aku ngerti koq.. Aku insyaallah pakai jilbab selamanya. Ga akan buka tutup. Aku udah mantap sama keinginanku. Lagipula, aku ga tau umurku sampai kapan. Aku ga mau kalau nanti aku dipanggil Allah, aku belum berjilbab. Boleh ya Ma? ” Pintaku memelas.

Ibuku masih tetap dengan pendiriannya. Tiba-tiba Ayahku bilang, “Udah, insyaallah kamu panjang umur koq”

“Astaghfirullah.. namanya umur kan ga ada yang tau kecuali Allah Pa,” jawabku sedih.

Saat itu aku sudah tidak tahan lagi, rasanya ingin sekali menangis. Aku langsung masuk ke kamar. Di dalam kamar, tangisanku sungguh tak terbendung. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa ayah dan ibu menolak keinginanku berjilbab. Sayangnya abangku tidak ada disitu, jadi tidak ada yang membelaku.

Saat itu aku hanya bisa mengadu pada-Nya. Berharap agar Allah membukakan hati kedua orangtuaku. Betapa sedihnya aku saat itu. Tangisanku mengurai deras bersama alunan do’aku pada-Nya.

Hari-hari berlalu, dan aku tidak menyerah. Saat membeli seragam sekolah, aku berbicara lembut. “Ma, aku jadi beli seragam lengan panjang dan rok panjang ya,” pintaku.

Walau dengan wajah yang kurang ramah, Alhamdulillah, Ibu akhirnya membelikanku seragam lengan panjang dan rok panjang. Sungguh bahagianya aku. Rasa syukurku tiada terkira. Allah, Dialah yang Maha membolak-balikan hati. Begitu mudahnya Dia mengabulkan do’a hamba-Nya yang sungguh-sungguh.

“Alhamdulillah, aku berjilbab. ” ucap syukurku.

Dengan segala perjuangan yang harus dilalui terlebih dahulu, akhirnya aku resmi memakai jilbab sejak masuk SMA. Jilbab ini akan terus kupertahankan bersemi indah, sampai akhir hayat. Jilbab ini menjadi bukti bahwa aku siap tunduk dan patuh akan perintah-Nya. Jilbab ini yang menjadi identitasku sebagai seorang muslimah.

Jika teringat kembali pengalamanku dulu, aku memaklumi mengapa kala itu orangtua tidak menyetujui jika aku berjilbab. Dulu, memakai jilbab saat muda terasa begitu dini dan asing. Mereka kebanyakan memahami kewajiban berjilbab setelah naik haji. Lain dulu, lain kini. Semakin berjalan tahun, perkembangan jilbab begitu pesat. Jilbab bukan lagi menjadi hal yang tabu. Alhamdulillah, semakin banyak orang yang menyadari bahwa berjilbab itu wajib.

Tengoklah surat cinta dari-Nya berikut ini : “Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).

Maka muslimah, apalagi yang menghalangimu untuk berjilbab? Sungguh, perintah itu telah jelas. Tuntunan ini adalah bukti betapa derasnya kasih sayang Allah pada kita. Hidayah itu, keyakinan itu, kemantapan itu harus dicari, bukan ditunggu. Mohonlah kemantapan hati pada-Nya untuk membawamu menunaikan kewajiban yang satu ini. Luruskanlah niatmu untuk memakai jilbab hanya karena-Nya.

Dan teruntuk muslimah yang telah menutup auratnya, semoga Allah memberikan keistiqomahan dalam menjalani amanah ini. Biarkan jilbabmu bersemi indah, jagalah ia selamanya. Biarkan ia mengantarkanmu bertemu dengan-Nya di Syurga nanti. Aamiin. “Thanks to Allah, for the deepest memories of hijab in my life. For all of  my sister in Islam, love you all cause Allah, and Be sure that hijab is our identity! Hijab, I’m in love.

(Najmthree)

(karya on imss fsldk_27 april 2012)