Mozaik Hikmah RS Part 2 “Ibarat satu tubuh”

Sebulan ini, waktu seolah giat mengantarkan mozaik-mozaik hikmah dalam ruang bisu nan ramai bernama Rumah Sakit. Disana berkumpul berbagai macam orang yang menantang hidup dalam balutan luka hati, pikiran, jiwa maupun raga. Bertarung nyawa antara hidup dan mati, bergolak suka maupun duka. Riuh ramai menemani hari-hari  bersahaja para pencari ilmu yang haus akan jiwa empati dengan sesamanya….

Perjalanan mencari mozaik-mozaik hikmah yang terpencar dimulai kembali pada suatu tempat bernama Seruni. Ia merupakan bangsal kelas I dan kelas II tempat perawatan pasien penyakit dalam dengan rupa-rupa derita yang mengikutinya. Saya bersama satu orang teman bertugas selama seminggu di paviliun tersebut. Beragam lika-liku yang kami lalui selama berada di bangsal seruni, dan semuanya memberikan arti mendalam yang tak terlupa bagi kami.

Aktivitas pagi, kami sebagai calon farmasis di bangsal selalu dimulai dengan pengecekan loker obat pasien, mengecek persediaan obat yang ada, selanjutnya membantu mempersiapkan obat siang berupa obat oral (obat minum) dan obat suntik untuk pasien bersama-sama dengan perawat. Alhamdulillah, kami bersyukur karena telah mendapatkan pengalaman baru yaitu bisa belajar mempersiapkan obat langsung ke pasien, melarutkan obat suntik, setelah itu mendistribusikan obat oral ke pasien serta dijelaskan cara penggunaan obatnya, waktu untuk meminum obatnya apakah sebelum makan, sesudah makan, pada saat makan, dan beragam hal lain yang penting diketahui terkait dengan terapi pasien.

Ketika matahari sudah semakin tinggi memperlihatkan sinarnya, barulah dokter dan beberapa koass datang (visit) untuk memeriksa pasien. Kami yang secara penampilan tidak terlalu berbeda dengan koass karena sama-sama memakai jas putih berlengan pendek khas dokter, ikut visit bersama mereka. Maka tak jarang kami juga dikira dokter koass oleh pasien, maupun oleh koass yang bertugas disana pada saat-saat awal keberadaan kami di bangsal. Keikutsertaan kami dalam visit dokter dimaksudkan agar kami mengetahui perkembangan terapi atau pengobatan pasien sehingga jika ada perubahan, kami lebih mudah memantaunya.

Saya dan teman membagi tugas sebagai penanggung jawab pengobatan pasien dan masing-masing memegang 12 orang pasien. Saya mendapatkan pasien dengan nomor kamar genap. Dikamar-kamar itu beragam sekali penyakit pasien saya, mulai dari demam, sakit kepala berat, lemas sampai akhirnya harus dirawat, Diabetes biasa sampai berat yang terkena luka gangren (luka, jaringan mati) pada bagian kaki yang berbau busuk, pasien dengan penyakit leptospirosis yang sudah tidak bisa makan dan minum, pasien dengan penyakit hati yang terlihat dari tubuh dan bola mata yang menguning, pasien ascites (akumulasi cairan pada rongga perut) sehingga perut terlihat sangat besar seperti hamil dan yang terbanyak adalah pasien CKD (chronic kidney disease) atau gagal ginjal kronis sampai harus di hemodialis (cuci darah).

CKD menjadi hal yang biasa di bangsal seruni, karena saking banyaknya pasien dengan penyakit tersebut. Setiap pasien CKD sudah sampai tahap harus di HD (hemodialisis) rutin untuk untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme protein dan koreksi gangguan keseimbangan air dan elektrolit tubuh, karena jika tidak di HD maka pasien akan merasakan drop, lemas, kesulitan bernafas sampai parah, badan membengkak (udem), perut membuncit (ascites), terkadang suhu badan tinggi (demam), dan lain sebagainya. Sampai salah satu dokter residen (masih menempuh program spesialis) penyakit dalam yang selalu visit disana, sempat saya dengar beliau berkata,

”Duh, Pasien HD mulu ya.. Bosen saya. ”

Wajarlah dokter tersebut berkata seperti itu, karena saking berjubelnya pasien yang harus di HD baik yang rawat jalan maupun rawat inap, belum lagi karena tempat HD di RSUD Tangerang sangat terbatas sehingga mereka harus mengantri bahkan tak jarang yang batal HD padahal sudah jauh-jauh datang dengan ongkos pas-pasan. Miris sekali hati ini mendengarnya..

Saat saya visit ke pasien untuk mengecek obat oral apakah sudah diminum atau belum, perhatian saya seketika tertuju pada pasien CKD yang sedang menggigil dengan suara khas kesakitannya juga sesaknya nafas sedang menghimpit beliau.

Perawat yang sedang menyuntik pasien lain bertanya ke ibu tersebut ”Bu, kenapa?”

Dengan kesulitan, si ibu menjawab ”Haduuh, haduuh, saya menggigil..”

Seketika perawat tersebut mengambil obat penurun panas di loker, dan menyuruh saya meminumkannya ke pasien itu.

”Bantuin nih, kamu yang kasih minum obatnya ke pasien, ” kata perawat tersebut..

Seketika saya bingung, karena saya saat itu sendirian dan pasien dalam kondisi parah. Salah seorang keluarga pasien lain memberitahu bahwa anak beliau pagi ini belum datang, jadi beliau belum minum obat.

”Oh Ya Alloh, kasihan sekali ibu ini..sedang kesakitan tapi belum ada anaknya yang datang.” saya membatin dalam hati..

Akhirnya saya memanggil teman untuk membantu meminumkan obatnya, namun ternyata ibu tersebut belum juga makan pagi. Maka dengan tertatih kami berdua membangunkan ibu tersebut untuk duduk lalu saya suapi dulu makan paginya pelan-pelan. Anggap saja ini bagian dari kewajiban untuk menolong sesama, bayangkan jika itu adalah ibu kita sendiri, pasti kita tidak akan sanggup menolak untuk mengurusinya.

Setelah 3 suap bubur sum-sum khas makanan rumah sakit, ibu itu tidak mau makan lagi dan meminta langsung minum obatnya..Ya sudah tidak mengapa.. Sebutir parasetamol dapat diminum oleh ibu tersebut, diselingi dengan 5 sendok air putih untuk membantu menelannya. Sedih rasanya jika mengingat kejadian itu terlebih jika membayangkan jika beliau adalah anggota keluarga sendiri.

Anehnya, malah saya benar-benar sakit di malam harinya. Sepulang dari RSUD Tangerang, saya memutuskan untuk pulang ke rumah di palmerah, Slipi dengan menempuh perjalanan dua jam. Memang, sedari siang tadi saya sudah agak pusing berada di RS dan sampai rumah badan saya sudah mulai tidak enak sehingga di malam harinya badan saya panas. Jadi malam itu saya pun juga meminum parasetamol, obat penurun panas yang sama dengan yang tadi pagi saya minumkan ke pasien tersebut

”Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang dengan sesama mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakit.” (HR. Bukhari & Muslim).

Tak terasa butir bening keluar dari sudut mata saya, saat berbaring merehatkan tubuh yang lemah ini. Baru sakit seperti saja sudah tidak enak rasanya, apalagi jika benar-benar merasakan sakit seperti ibu tadi.. Inikah yang dinamakan, bahwa setiap muslim itu ibarat satu tubuh? Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota lain ikut merasakannya.. Nikmati saja kesakitan yang terasa ini. Semoga ini menjadi bagian penggugur dosa saya, sambil berharap agar esok saya sudah diberi kesehatan sehingga bisa melihat indahnya mentari pagi dan menggapai kembali mozaik-mozaik hikmah itu.

Tidak terbayang rasanya bagaimana menjadi mereka yang harus terbaring lemah begitu lamanya terlebih dengan keterbatasan biaya.. Bersyukurlah kita karena Alloh masih memberikan  nikmat sehat itu. Sungguh, nikmat sehat begitu berharga dan mahal harganya. Maka pantaslah jika Rosululloh mengatakan bahwa dua nikmat yang banyak orang tertipu adalah waktu luang dan kesehatan. Maka jagalah ia, agar kita bisa terus merasakan nikmat Alloh yang tiada tara ini..

Najm_Three 🙂

(Yuk, kita jaga bersama nikmat ini)

Iklan
By najmthree Posted in Hikmah

Copast.. Surat Cinta Untuk Akhi..

sumber : oaseimani.com and juga pernah baca disalah satu buku.. Subhanalloh, semoga bermanfaat…

Malam telah larut terbentang. Sunyi. Dan aku masih berfikir tentang dirimu, akhi. Jangan salah sangka ataupun menaruh prasangka. Semua semata-mata hanya untuk muhasabah terutama bagi diriku, makhluk yang Rasulullah SAW sinyalirkan sebagai pembawa fitnah terbesar.—Suratmu sudah kubaca dan disimpan. Surat yang membuatku gementar. Tentunya kau sudah tahu apa yang membuatku nyaris tidak boleh tidur kebelakangan ini.

“Ukhti, saya sering memperhatikan anti. Kalau sekiranya tidak dianggap lancang, saya berniat berta’aruf dengan anti.”

Jujur kukatakan bahwa itu bukan perkataan pertama yang dilontarkan ikhwan kepadaku. Kau orang yang kesekian. Tetap saja yang ‘kesekian’ itu yang membuatku diamuk perasaan tidak menentu. Astaghfirullahaladzim. Bukan, bukan perasaan melambung kerana merasakan diriku begitu mendapat perhatian. Tetapi kerana sikapmu itu mencampak ke arah jurang kepedihan dan kehinaan. ‘Afwan kalau yang terfikir pertama kali di benak bukannya sikap memeriksa, tapi malah sebuah tuduhan: ke mana ghaddhul bashar-mu?
Akhifillah, Alhamdulillah Allah mengaruniakan dzahir yang jaamilah. Dulu, di masa jahiliyah, karunia itu sentiasa membawa fitnah. Setelah hijrah, kufikir semua hal itu tidak akan berulang lagi. Dugaanku ternyata salah. Mengapa fitnah ini justeru menimpa orang-orang yang ku hormati sebagai pengemban risalah da’wah ? Siapakah di antara kita yang salah?
***********

“Adakah saya kurang menjaga hijab, ukh?” tanyaku kepada Aida, teman sebilikku yang sedang mengamati diriku. Lama. Kemudian, dia menggeleng.

“Atau baju saya? Sikap saya?”—“Tidak, tidak,” sergahnya menenangkanku yang mulai berurai air mata.

“Memang ada perubahan sikap di kampus ini.”

“Termasuk diri saya?”

“Jangan menyalahkan diri sendiri meskipun itu bagus, senantiasa merasa kurang iman. Tapi tidak dalam hal ini. Saya cukup lama mengenali anti dan di antara kita telah terjalin komitmen untuk saling memberi tausiyah jika ada yang lemah iman atau salah. Ingat?”

Aku mengangguk. Aida menghela nafas panjang.

“Saya rasa ikhwan itu perlu diberi tausiyah. Hal ini bukan perkara baru kan ? Maksud saya dalam meng-cam akhwat di kampus.” Sepi mengembang di antara kami. Sibuk dengan fikiran masing-masing… .

“Apa yang diungkapkan dalam surat itu?”

“Ia ingin berta’aruf. Katanya dia sering melihat saya memakai jilbab putih. Anti tahu bila dia bertekad untuk menulis surat ini? Ketika saya sedang menjemur pakaian di depan rumah ! Masya Allah…. dia melihat sedetail itu.”

“Ya.. di samping itu tempoh masa anti keluar juga tinggi.”

“Ukhti…,” sanggahku, “Anti percaya kan kalau saya keluar rumah pasti untuk tujuan syar’ie?”

“InsyaAllah saya percaya. Tapi bagi anggapan orang luar, itu masalah yang lain.”

Aku hanya mampu terdiam. Masalah ini senantiasa hadir tanpa ada suatu penyelesaian. Jauh dalam hati selalu tercetus keinginan, keinginan yang hadir semenjak aku hijrah bahwa jika suatu saat ada orang yang memintaku untuk mendampingi hidupnya, maka hal itu hanya dia lakukan untuk mencari keridhaan Rabb-nya dan dien-ku sebagai tolok ukur, bukan wajahku. Kini aku mulai risau mungkinkah harapanku akan tercapai?

************

Akhifillah, Maaf kalau saya menimbulkan fitnah dalam hidupmu. Namun semua bukan keinginanku untuk beroleh wajah seperti ini. Seharusnya di antara kita ada tabir yang akan membersihkan hati dari penyakitnya. Telah ku coba dengan segenap kemampuan untuk menghindarkan mata dari bahaya maksiat. Alhamdulillah hingga kini belum hadir sosok putera impian yang hadir dalam angan-angan. Semua ku serahkan kepada Allah ta’ala semata.
Akhi, Tentunya antum pernah mendengar hadits yang tersohor ini. Bahwa wanita dinikahi karena empat perkara: kecantikannya, hartanya, keturunannya, atau diennya. Maka pilihlah yang terakhir kerana ia akan membawa lelaki kepada kebahagiaan yang hakiki.

Kalaulah ada yang mendapat keempat-empatnya, ibarat ia mendapat syurga dunia. Sekarang, apakah yang antum inginkan? Wanita shalihah pembawa kedamaian atau yang cantik tapi membawa kesialan? Maaf kalau di sini saya terpaksa berburuk sangka bahwa antum menilai saya cuma sekadar fisik belaka. Bila masanya antum tahu bahwa dien saya memenuhi kriteria yang bagus? Apakah dengan melihat frekuensi kesibukan saya? Frekuensi di luar rumah yang tinggi?
Tidak. Antum tidak akan pernah tahu bila masanya saya berbuat ikhlas lillahi ta’ala dan bila masanya saya berbuat kerana riya’. Atau adakah antum ingin mendapatkan isteri wanita cantik yang memiliki segudang prestasi tetapi akhlaknya masih menjadi persoalan?Saya yakin sekiranya antum diberikan pertanyaan demikian, niscaya tekad antum akan berubah.

Akhifillah, Tanyakan pada setiap akhwat kalau antum mampu. Yang tercantik sekalipun, maukah ia diperisterikan seseorang kerana dzahirnya belaka? Jawabannya, insya Allah tidak. Tahukah antum bahwa kecantikan zahir itu adalah mutlak pemberian Allah; Insya Allah antum tahu. Ia satu anugerah yang mutlak yang tidak boleh ditawar-tawar jika diberikan kepada seseorang atau dihindarkan dari seseorang. Jadi, manusia tidak mendapatkannya melalui pengorbanan. Lain halnya dengan kecantikan bathiniyyah. Ia melewati proses yang panjang. Berliku. Melalui pengorbanan dan segala macam pengalaman pahit. Ia adalah intisari dari manisnya kata, sikap, tindak tanduk dan perbuatan. Apabila seorang lelaki menikah wanita kerana kecantikan batinnya, maka ia telah amat sangat menghargai perjuangan seorang manusia dalam mencapai kemuliaan jati dirinya. Faham?

Akhifillah, Tubuh ini hanya pinjaman yang terpulang pada-Nya bila-bila masa mengambilnya. Tapi ruh, kecantikannya menjadi milik kita yang abadi. Kerananya, manusia diperintahkan untuk merawat ruhiyahnya bukan hanya jasmaninya yang boleh usang dan koyak sampai waktunya.

Akhifillah, Kalau antum ingin mencari akhwat yang cantik, antum juga seharusnya menilai pihak yang lain. Mungkin antum tidak memerhatikannya dengan teliti. (Alhamdulillah, tercapai maksudnya untuk keluar rumah tanpa menimbulkan perhatian orang). Pakaiannya sederhana, ia hanya memiliki beberapa helai. Dalam waktu seminggu antum akan menjumpainya dalam jubah-jubah yang tidak banyak koleksinya. Tempoh masanya untuk keluar rumah tidak lama. Ia lebih suka memasak dan mengurus rumah demi membantu kepentingan saudari-saudarinya yang sibuk da’wah di luar. Ia nyaris tidak mempunyai keistimewaan apa-apa kecuali kalau antum sudah melihat shalatnya. Ia begitu khusyu’. Malam-malamnya dihiasi tahajjud dengan uraian air mata. Dibaca Qur’an dengan terisak. Ia begitu tawadhu’ dan zuhud.

Ah, saya iri akan kedekatan dirinya dengan Allah. Benar, ia mengenal Rabbnya lebih dari saya. Dalam ketenangannya, ia tampak begitu cantik di mata saya. Beruntung ikhwan yang kelak memperisterikannya… (saya tidak perlu menyebut namanya.)

**********

Malam semakin beranjak. Kantuk yang menghantar ke alam tidur tidak menyerang saat surat panjang ini belum usai. Tapi, sudah menjadi kebiasaanku tidak boleh tidur tenang bila saudaraku tercinta tidak hadir menemani. Aku tergugat apabila merasakan bantal dan guling di samping kanan telah kehilangan pemilik. Rasa penat yang belum ternetral menyebabkan tubuhku terhempas di sofa.

Aida sedang diam dalam kekhusyu’kan. Wajahnya begitu syahdu, tertutup oleh deraian air mata. Entah apa yang terlintas dalam qalbunya. Sudah pasti ia merasakan aku tidak heran saat menyaksikannya. Tegak dalam rakaatnya atau lama dalam sujudnya.

“Ukhti, tidak solat malam? “ tanyanya lembut seusai melirik mata.

“Ya, sekejap,” kupandang wajahnya. Ia menatap jauh keluar jendela ruang tamu yang dibiarkan terbuka. “Dzikrul maut lagi?”

“Khusnudzan anti terlalu tinggi.”

Aku tersenyum. Sikap tawadhu’mu, Aida, menyebabkan bertambah rasa rendah diriku. Angin malam berhembus dingin. Aku belum mau beranjak dari tempat duduk. Aida pun nampaknya tidak meneruskan shalat. Ia kelihatan seperti termenung menekuri kegelapan malam yang kelam.

“Saya malu kepada Allah,” ujarnya lirih.

“Saya malu meminta sesuatu yang sebenarnya tidak patut tapi rasanya keinginan itu begitu mendesak dada. Siapa lagi tempat kita meminta kalau bukan diri-Nya?”

“Apa keinginan anti, Aida?”

Aida menghela nafas panjang.

“Saya membaca buku Syeikh Abdullah Azzam pagi tadi,” lanjutnya seolah tidak menghiraukan. “Entahlah, tapi setiap kali membaca hasil karyanya, selalu hadir simpati tersendiri. Hal yang sama saya rasakan tiap kali mendengar nama Hasan al-Banna, Sayyid Quthb atau mujahid lain saat nama mereka disebut. Ah, wanita macam mana yang dipilihkan Allah untuk mereka? Tiap kali nama Imaad Aql disebut, saya bertanya dalam hati: Wanita macam mana yang telah Allah pilih untuk melahirkannya?”

Aku tertunduk dalam-dalam.

“Anti tahu,” sambungnya lagi, “Saya ingin sekiranya boleh mendampingi orang-orang sekaliber mereka. Seorang yang hidupnya semata-mata untuk Allah. Mereka tak tergoda rayuan harta dan benda apalagi wanita. Saya ingin sekiranya boleh menjadi seorang ibu bagi mujahid-mujahid semacam Immad Aql…”

Air mataku menitis perlahan. Itu adalah impianku juga, impian yang kini mulai kuragui kenyataannya. Aida tak tahu berapa jumlah ikhwan yang telah menaruh hati padaku. Dan rasanya hal itu tak berguna diketahui. Dulu, ada sebongkah harapan kalau kelak lelaki yang mendampingiku adalah seorang mujahid yang hidupnya ikhlas kerana Allah. Aku tak menyalahkan mereka yang menginginkan isteri yang cantik. Tidak. Hanya setiap kali bercermin, ku tatap wajah di sana dengan perasaan duka. Serendah inikah nilaiku di mata mereka? Tidakkah mereka ingin menilaiku dari sudut kebagusan dien-ku?

“Ukhti, masih tersisakah ikhwah seperti yang kita impikan bersama?” desisku.

Aida meramas tanganku. “Saya tidak tahu. Meskipun saya sentiasa berharap demikian. Bukankah wanita baik untuk lelaki baik dan yang buruk untuk yang buruk juga?”

“Anti tak tahu,” air mata mengalir tiba-tiba. “Anti tak tahu apa-apa tentang mereka.”

“Mereka?”

“Ya, mereka,” ujarku dengan kemarahan terpendam. “Orang-orang yang saya kagumi selama ini banyak yang jatuh berguguran. Mereka menyatakan ingin ta’aruf. Anti tak tahu betapa hancur hati saya menyaksikan ikhwan yang qowiy seperti mereka takluk di bawah fitnah wanita.”

“Ukhti!”

“Sungguh, saya terfikir bahwa mereka yang aktif da’wah di kampus adalah mereka yang benar-benar mencintai Allah dan Rasulnya semata. Ternyata mereka mempunyai sekelumit niat lain.”

“Ukhti, jangan su’udzan dulu. Setiap manusia punya kelemahan dan saat-saat penurunan iman. Begitu juga mereka yang menyatakan perasaan kepada anti. Siapa yang tidak ingin punya isteri cantik dan shalihah?”

“Tapi, kita tahukan bagaimana prosedurnya?”

“Ya, memang…”

“Saya merasa tidak dihargai. Saya berasa seolah-olah dilecehkan. Kalau ada pelecehan seksual, maka itu wajar kerana wanita tidak menjaga diri. Tapi saya…. Samakah saya seperti mereka?”

“Anti berprasangka terlalu jauh.”

“Tidak,” aku menggelengkan kepala. “Tiap kali saya keluar rumah, ada sepasang mata yang mengawasi dan siap menilai saya mulai dari ujung rambut -maksud saya ujung jilbab- hingga ujung sepatu. Apakah dia fikir saya boleh dinilai melalui nilaian fisik belaka..”

“Kita berharap agar ia bukan jenis ikhwan seperti yang kita maksudkan.”

“Ia orang yang aktif berda’wah di kampus ini, ukh.”

Aida memejamkan mata. Bisa kulihat ujung matanya basah. Kurebahkan kepala ke bahunya. Ada suara lirih yang terucap,

“Kasihan risalah Islam. Ia diemban oleh orang-orang seperti kita. Sedang kita tahu betapa berat perjuangan pendahulu kita dalam menegakkannya. Kita disibukkan oleh hal-hal sampingan yang sebenarnya telah diatur Allah dalam kitab-Nya. Kita tidak menyibukkan diri dalam mencari hidayah. Kasihan bocah-bocah Palestin itu. Kasihan saudara-saudara kita di Bosnia . Adakah kita boleh menolong mereka kalau kualitas diri masih seperti ini? Bahkan cinta yang seharusnya milik Allah masih berpecah-pecah. Maka, kekuatan apa yang masih ada pada diri kita?”

Kami saling bertatapan kemudian. Melangkau seribu makna yang tidak mampu dikatakan oleh kosa kata. Ada janji. Ada mimpi. Aku mempunyai impian yang sama seperti Aida: mendukung Islam di jalan kami. Aku ingin mempunyai anak-anak seperti Asma punyai. Anak-anak seperti Immad Aql. Aku tahu kualiti diri masih sangat jauh dari sempurna. Tapi seperti kata Aida; Meskipun aku lebih malu lagi untuk meminta ini kepada-Nya. Aku ingin menjadi pendamping seorang mujahid ulung seperti Izzuddin al-Qassam.

Akhifillah, Mungkin antum tertawa membaca surat ini. Ah akhwat, berapa nilaimu sehingga mengimpikan mendapat mujahid seperti mereka? Boleh jadi tuntutanku terlalu besar. Tapi tidakkah antum ingin mendapat jodoh yang setimpal? Afwan kalau surat antum tidak saya layani. Saya tidak ingin masalah hati ini berlarutan. Satu saja yang saya minta agar kita saling menjaga sebagai saudara. Menjaga saudaranya agar tetap di jalan yang diridhai-Nya. Tahukah antum bahwa tindakan antum telah menyebabkan saya tidak lagi berada di jalan-Nya? Ada riya’, ada su’udzhan, ada takabur, ada kemarahan, ada kebencian, itukah jalan yang antum bukakan untuk saya, jalan neraka? –‘Afwan.
Akhifillah, Surat ini seolah menempatkan antum sebagai tertuduh. Saya sama sekali tidak bermaksud demikian. Kalau antum mahu cara seperti itu, silakan. Afwan, tapi bukan saya orangnya. Jangan antum kira kecantikan lahir telah menjadikan saya merasa memiliki segalanya. Jesteru, kini saya merasa iri pada saudari saya. Ia begitu sederhana. Tapi akhlaknya bak lantera yang menerangi langkah-langkahnya. Ia jauh dari fitnah. Sementara itu, apa yang saya punyai sangat jauh nilainya. Saya bimbang apabila suatu saat ia berhasil mendapatkan Abdullah Azzam impiannya, sedangkan saya tidak.

Akhifillah, ‘Afwan kalau saya menimbulkan fitnah bagi antum. Insya Allah saya akan lebih memperbaiki diri. Mungkin semua ini sebagai peringatan Allah bahwa masih banyak amalan saya yang riya’ maupun tidak ikhlas. Wallahua’lam. Simpan saja cinta antum untuk isteri yang telah dipilihkan Allah. Penuhilah impian ratusan akhwat, ribuan ummat yang mendambakan Abdullah Azzam dan Izzuddin al-Qassam yang lain. Penuhilah harapan Islam yang ingin generasi tangguh seperti Imaad Aql. Insya Allah antum akan mendapat pasangan yang bakal membawa hingga ke pintu jannah.

Akhifillah, Malam bertambah-dan bertambah larut. Mari kita shalat malam dan memandikan wajah serta mata kita dengan air mata. Mari kita sucikan hati dengan taubat nasuha. Pesan saya, siapkan diri antum menjadi mujahid. Insya Allah, akan ada ratusan Asma dan Aisyah yang akan menyambut uluran tangan antum untuk berjihad bersama-sama.

Salam dari ukhtukum fillah.