Mozaik Hikmah RS Part 1 “Tarbiyah madal hayah”

Akhir januari, menjadi awal catatan pembuka berjuta mozaik hikmah yang akan diselami selama hari berganti hari. Merajut benang-benang kenangan yang tak sirna dimakan waktu. Mataharipun kala itu, menyambut dengan sinarnya yang gagah menyapa 50 mahasiswa yang kan memulai perjuangan mencari mutiara indah ditengah gelombang keramaian aktivitas bernama Rumah Sakit.

Semua dinamika yang terjadi, memberikan warna tersendiri khususnya bagi saya, seorang calon farmasis yang tengah diberikan kesempatan untuk menimba ilmu di RSUD Tangerang ini. Semua dilakukan dalam rangka praktik kerja lapangan, yaitu sebagai syarat untuk memenuhi nilai mata kuliah praktik RS yang nilainya 2 sks. Tak banyak mahasiswa S1 farmasi yang diberikan kesempatan semacam ini, karena mereka baru akan merasakannya pada saat melanjutkan kuliah profesi Apoteker. Itulah salah satu nilai lebih yang dapat saya rasakan berada di Farmasi UIN Jakarta, patutlah disyukuri semua pemberian Alloh ini..

Mozaik pertama berawal dari tempat bernama Apotek, disana terdapat salah satu ruangan di lantai atas tempat kami berdiskusi mengumpulkan banyak bahan dan literatur untuk mempersiapkan penyuluhan tentang salah satu topik yang kami pilih yaitu mengenai DM (Diabetes Mellitus). Penyakit ini sungguh ramai penderitanya, bahkan Indonesia tengah bertahta pada peringkat ke-4 Negara dengan penderita DM terbanyak di dunia. Maka penting sekali memberikan edukasi, pendidikan atau “tarbiyah” sedini mungkin untuk para masyarakat, baik pasien yang sudah terkena maupun yang belum terkena.

DM dengan segala seluk-beluknya pun kami jelaskan kepada pasien yang saat itu sedang menunggu antrian pendaftaran rawat jalan dan juga akan mengambil obat, karena saat itu kami memberikan penyuluhan di ruang tunggu pasien. Semuanya mengalir bak air yang tenang mengisi ruang-ruang pikiran semua orang agar kembali penuh dengan aliran informasi yang bermanfaat kelak. Indahnya dapat berbagi informasi dengan pasien, aktif berinteraksi dengan mereka yang begitu malu-malu dan tak jarang pula penuh daya kritis. 🙂

Sedikit informasi yang bisa kami berikan, berharap bisa membantu pasien agar lebih menjaga kesehatannya. Untuk yang belum terkena, agar lebih berhati-hati, dan menjaga pola hidupnya, karena kebanyakan pasien DM dengan prosentasi mencapai 90-95% dari keseluruhan populasi penderita diabetes adalah DM tipe 2 yang disebabkan karena gaya hidup yang salah, tidak mengatur asupan makanan dan minuman, tidak berolahraga, obesitas (kegemukan), dan sebagainya.

Sementara DM tipe 1 yang disebabkan karena genetik, ataupun penyakit tertentu yang membuat sel-sel ß pancreas rusak dan tidak bisa memproduksi insulin hanya diperkirakan kurang dari 5-10% dari keseluruhan populasi penderita diabetes. Jadi, berhati-hatilah buat semuanya karena penyakit ini bisa saja menghampiri kita walaupun tidak saat ini. Mengatur pola makan, berolahraga, juga mencoba cek kadar gula darah, dapat mencegah terkenanya penyakit DM dari sekarang. Semoga Alloh menjauhkan kita semua dari penyakit tersebut. 😉

Salah satu nilai penting lain, tak sengaja saya temukan pada seuntai kata bijak di bagian penutup saat melahap buku saku kecil setebal 70 halaman berjudul “Pharmaceutical Care untuk Penyakit Diabetes Mellitus”.

Begini bunyinya : “Jika Anda ingin memberikan 10, milikilah 100”. Artinya Anda harus belajar jauh lebih banyak dari pada apa yang ingin dan harus Anda sampaikan kepada pasien.

Subhanalloh, sontak terkejut dan sedikit merenungi kembali akan pentingnya mengupgrade diri dengan ilmu-ilmu-Nya yang sangat luas tersebar di alam ini. Ya, saya sangat setuju dengan pernyataan tersebut, karena hal tersebut langsung saya alami pada saat memberikan penyuluhan itu, saat berinteraksi dengan pasien dimana kita harus memiliki pengetahuan yang lebih daripada pasien. Tentunya belajar lebih banyak, mencari ilmu lebih banyak karena informasi yang kita berikan harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya agar kita tidak memberikan sesuatu yang menyesatkan, apalagi ini menyangkut kesehatan pasien atau seperti yang orang sering bilang ini urusan nyawa pasien, jadi tidak bisa main-main.

Rasanya kata-kata bijak tersebut tidak hanya cocok untuk saya sendiri atau untuk teman-teman yang berprofesi di bidang kesehatan. Namun cocok pula untuk siapa saja yang merasa sedang belajar, menyelami keindahan ilmu Alloh, dan membaginya dengan sesama. Saya jadi teringat akan surat cinta-Nya yang memotivasi kita untuk terus bersemangat dalam mencari ilmu…

“…Alloh akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu, beberapa derajat. Dan Alloh Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadilah : 11)

Merasa begitu sedikitnya ilmu yang saya miliki, merasa begitu banyak hal yang belum dicapai.. Merasa banyaknya ilmu yang telah menguap, melayang jauh entah kemana. Mungkin karena tak menyimpannya dengan baik, mungkin karena banyaknya maksiat yang dilakukan, mungkin karena tak serius menimbanya, dan banyak faktor penyebab yang lain…

Biarlah semua menjadi pembelajaran berharga yang semakin membangkitkan semangat mengejar ilmu yang sebagian hilang itu. Yang jelas kita tak kan boleh bosan untuk terus belajar, belajar, dan belajar walaupun kegagalan sering hinggap. Yakinlah, bahwa itu semua bagian dari proses belajar hingga suatu saat nanti kita akan memetik buahnya yang manis..

Tak ada kata terlambat untuk belajar.. Siapapun tak kan lepas dari proses pembelajaran itu.. Dan tak ada batas waktu untuk berhenti belajar, sepanjang ruh masih menyatu dengan raga… Maka, semua juga sepakat dengan kata-kata ajaib ini, “Tarbiyah madal hayah”. Teruslah menjadi pembelajar sejati, sepanjang zaman.. 🙂

 

<bersambung>

Najm_Three

(Belajar menjadi pembelajar sejati)

Iklan

Farmasis Masuk Bangsal? Why Not?…

Bismillaahirrohmaanirrohiim..

Anehkah jika mahasiswa farmasi, yang masih S1 dan belum lulus pula harus ikut ke bangsal pasien? Tau kan bangsal? Itu lho, kamar-kamar pasien yang ada nama ruangannya..  Anehkah jika mahasiswa S1 farmasi beredar di rumah sakit, duduk bersama para dokter Co. Ass, dokter ruangan, perawat-perawat, dan sama-sama kunjungan (visit) ke pasien. Berdiskusi dengan apoteker penanggung jawab di bangsal, berdiskusi dengan dokter juga perawat mengenai pengobatan pasien tersebut. Dan diluar bangsal pun farmasi menyiapkan bahan untuk melakukan penyuluhan mengenai penyakit dan obat-obatan ke pasien disana. Itulah yang saya rasakan selama 2 minggu ini PKL di RSUD tangerang dan akan saya jalani selama 5 minggu ini. 🙂

Kegiatan praktik RS atau PKL bagi mahasiswa S1 farmasi memang hanya ada di UIN Jakarta, kenapa dibilang seperti itu karena kegiatan ini seharusnya hanya dilakukan pada saat mahasiswa lulusan S1 farmasi melanjutkan program profesi Apoteker. Kegiatan PKL ini sebagai syarat untuk memenuhi nilai Praktik RS semester 7 yang juga diberi bobot 2 sks. Tentunya kegiatan ini akan sangat seruuu.. Kegiatan ini mirip dengan kegiatan akhir dari mahasiswa program profesi Apoteker, yaitu PKPA ( Praktik kerja profesi apoteker) walaupun tidak sama persis karena kami lebih banyak bergelut di bangsal pasien ketimbang di apotek atau gudang obat.

Makanya dalam kegiatan PKL ini, farmasi UIN jakarta hanya baru bekerjasama dengan dua RS Pemerintah, yaitu RSUD Tangerang dan RS. Fatmawati. Karena kebanyakan RS belum menerima adanya banyak farmasis di bangsal pasien. Apoteker yang ada di RS pun jumlahnya terbatas. Di RSUD Tangerang sendiri hanya ada 12 orang apoteker dari begitu banyaknya pasien. Seharusnya seperti yang telah saya saya ketahui bahwa perbandingan antara farmasis dan pasien itu adalah 1 apoteker banding 13 pasien. Di luar negeri, untuk yang telah menjalankan prinsip pharmaceutical care ke pasien sudah menerapkan seperti itu..

Selama ini yang orang tau bahwa apoteker itu adanya ya di apotek, ngurusin obat, ngejelasin cara penggunaan obat ke pasien. Pokoknya hanya di belakang layar lah. Sedangkan yang show up ke pasien itu ya dokter, juga beberapa perawat yang selalu stand by ngurusin pasien dengan kebutuhan yang berkaitan dengan perawatannya.

Padahal ternyata apoteker atau farmasis itu juga dibutuhkan di bangsal, makanya ada juga yang namanya visit apoteker, bukan dokter aja yang visit ke pasien.. Visit  apoteker yaitu untuk mengetahui regimen terapi obat, misalnya apakah dosisnya tepat, indikasinya tepat, penderitanya tepat, pemberiannya juga tepat, dan yang tidak kalah penting untuk mengetahui apakah ada efek samping obat atau tidak atau biasa dibilang waspada ESO (efek samping obat), apakah pasien ada alergi obat, apakah obat-obatannya selalu ditebus pasien. Walaupun terkadang data-data tersebut ada di status pasien (buku riwayat pengobatan pasien), tapi tetep aja biar semuanya jelas apoteker juga kudu visit langsung. Itulah hal paling seru yang bisa saya rasakan yaitu berkomunikasi langsung dengan pasien, bahkan mereka sampai curhat segala..Tak apa lah, insyaalloh mereka akan merasa terbantu dengan adanya komunikasi itu.. :mrgreen:

Selain itu apoteker dapat mengkaji apakah ada interaksi antar obat satu dengan obat yang lain, apoteker juga lah yang seharusnya menyiapkan dan mencampur obat-obatan suntik di bangsal pasien itu, dan diberikan ke perawat untuk dapat disuntikkan ke pasien. Kenyataannya yang kita lihat adalah perawat yang mencampurkan obat tersebut di bangsal, tidak dalam ruangan steril. Hal itu dikarenakan tenaga farmasis memang tidak dipersiapkan sebanyak itu di bangsal, sangat terbatas dan memang fasilitas yang ada saat ini di RS kebanyakan belum mendukung untuk berjalannya pencampuran obat di bangsal secara aseptis yagn dilakukan oleh apoteker. Menyiapkan obat-obatan kanker dalam ruangan khusus pun merupakan kerjaannya apoteker nih..Dan beberapa kerjaan lain yang tidak saya sebutkan.. Pokoknya kerjaan apoteker di RS tuh ternyata banyak.. 😀

Tentunya banyak hal yang saya dapatkan mengenai perlunya farmasis masuk bangsal, sehingga terjadi sinergisitas lintas profesi antara dokter, apoteker, dan perawat. Sehingga berdampak pada kemajuan dalam pengobatan pasien karena adanya kerjasama itu. Semuanya jadi sama-sama di untungkan, karena dengan berjamaah pekerjaan akan lebih ringan, setuju ya? Semoga segala aktivitas, dalam profesi apapun yang kita jalani saat ini dapat memberikan manfaat yang besar untuk ummat.. aamiin.. Jadi semuanya udah tau kan? Farmasis masuk bangsal? Why Not ?..

Najm_Three

( Calon Apoteker , Always Keep Spirit  )