hari penuh cahaya..(part 1)

Subhanallah, di saat sedang pertemuan rutinan di masjid PI banyak kejadian-kejadian yang tak terduga…

Pertama, bertemunya  kakakku dengan seorang ibu yang sangat membutuhkan bantuan…

yaah, aku memang tidak tahu persis kejadiannya seperti apa karena pada saat aku datang, mereka bertiga sedang asyiik makan ketoprak dan berbincang bersama sang ibu..

Sungguh, begitu akrabnya..ibu itu begitu ramah..padahal kita semua baru saja kenal…

Ibu tersebut meminta kita juga ikut mendoakan langkah2nya..amiin, semoga Allah memudahkan langkah2 hidup yang ibu ambil…

“Memang, sungguh miris jika kita tidak punya anggota keluarga lagi, harta terkuras habis, anak angkat yang selama ini dirawat sampai dewasa, disekolahkan sampai S2 bahkan mengkhianati kita dan mengeruk keuntungan dari diri kita yang mungkin sudah seharusnya ia anggap sebagai ibunya, lalu ia meninggalkan dan menelantarkan begitu saja..” Astaghfirullahaladzhiim…

Ya Allah, terenyuh hati ini mendengarnya..sakit rasanya jika diri ini berada di posisi tersebut.. 😦  Kupikir cerita seperti itu hanya ada pada kisah-kisah di sinetron, namun ternyata hal itu terjadi dalam kehidupan nyata disekitar  kita…Kuatkanlah beliau, Ya Allah…

Seharusnya kita sebagai hamba Allah yang beriman, tau bagaimana bersikap baik terhadap orang lain terlebih lagi jika orang tersebut yang telah merawat kita dari kecil, membesarkan kita dengan penuh kasih sayang, menyekolahkan kita sampai kita menjadi orang yang berhasil, dan semua itu dilakukan tulus tanpa pamrih..

Ya Allah, jadi teringat dengan ibuku..ayahku…Moga Allah menjaga mereka..

Balik lagi ke cerita tadi,,,perjalanan beliau yang begitu panjang membawa beliau ke masjid itu..Beliau saat itu sedang  linglung, sedih, menangis, bingung harus bagaimana, tanpa sadar pun setelah menempuh perjalanan jauh, ongkos pulang pun tinggal seribu rupiah..masyaallah..

Dan, alhamdulillah…Allah memang Maha Tau akan kesulitan hamba-Nya, Allah yang mempertemukan ibu itu dengan kakak di tempat wudhu..

setelah kakak sholat dzuhur, barulah ibu itu bercerita dengan kakak..

ukhtiku yang lain datang pertama dan beliau pun akhirnya berkenalan..dan beberapa lama kemudian aku datang, ikut bergabung bersama hangatnya suasana itu…

Subhanallah..indahnya persaudaraan seaqidah, kita bisa begitu akrabnya….

Dari pengalaman tadi…

Hmm..membayangkan posisi tersebut, bagaimana klo kejadian tadi dirasakan oleh ibu kita sendiri..pasti sedih rasanya, karena itu tidak ada rasa segan untuk mendengar cerita ibu tersebut, membantu beliau, menghibur beliau, menguatkan beliau…

Mencoba untuk saling mengingatkan bahwa manusia kadang di atas kadang di bawah..Allah bisa saja memutarbalikkan posisi hidup kita..karena apapun mudah bagi Allah… “Man jadda wa jadd”

Senantiasa syukuri apapun yang Allah berikan pada kita, tak lupa saling berbagi pada yang lain sebagai wujud rasa syukur pada Allah karena sesungguhnya harta yang kita miliki hanya titipan…

Alhamdulillah…sedang mengumpulkan kembali secercah cahaya bintang yang kilaunya bertaburan..

dari pengalaman ini mudah2an satu cahayanya telah kudapati..amiin… 🙂

But, ini baru sesi pertama dalam satu hari menggapai cahaya bintang…

ada sesi selanjutnya..hehe :mrgreen:

*najm_three*

(Mudahkanlah jalannya, Ya Allah)

mulai asyik dengan blogwalking

Alhamdulillah, ternyata asyiik bgt ya ngeblog..seneng bisa berbagi dengan yang lain, bisa nambah banyak saudara, nambah ilmu juga dengan ngeblog..Senang juga udah bisa bagi2 ilmu tentang ngeblog sama temen2 akhwat waktu ngisi agenda keputrian,,, :). Hmm, padahal ilmunya masih cetek bgt..tapi gpp, yang penting mau bagi2 ilmu walaupun sedikit namun manfaat..

Setelah itu, jadi penasaran aja sama para blogger2 yaing lain..pengen mampir2 ke blog mereka, lagi2 mau  memperbanyak saudara, baca2 tulisan mereka..daaan, Wow..banyak bgt dapetin sesuatu.. Bisa jadi mereka juga jadi sumber inspirasi, inspirasi utk bisa semangat menulis, inspirasi untuk bisa mengambil nilai positif dari pribadi mereka, dari tulisan mereka  dan lain-lainnya..

Jadii, mulai asyik nih dengan blogwalking… :mrgreen:

Apalagi semenjak punya MP,,,waah, serasa ngeblog jadi makin seru..

bisa kunjungi MPku : http://www.najmthree.multiply.com

walaupun accountku di MP masih terbilang baru, tp tetep semangat lah utk cari saudara dari para MP’ers yang lain, share dengan mereka, baca2 tulisan mereka yang luar biasa, tulisan yang bagus..bagus..penuh manfaat..menyentuh hati…dan banyak lagi dech…

Lho koq jd ngomongin MP?hehe..maaph ya WP..

Don’t worry be happy..aku masih setia koq dengan dirimu..hihi

Tulisanku masih blm terlalu byk nih, masih harus menempa diri lagi utk lebih serius dan semangat menulis dlm menebarkan cahaya kebaikan…SEMANGAT! 🙂

So, Blogging, Blogwalking,blogtalking (Apaan tuch, bikin istilah sendiri! :mrgreen:) ) Emang Asyiik…!

yang lain mau coba?atau udah nyoba?

yang udah nyoba, hayoo terus tingkatkan..

yang belum nyoba…hayuu atuh di coba..

terutama buat temen2 akhwatku yang udah sempet share ttg blogging..

*Mulai asyik dengan blogwalking :mrgreen:, meninggalkan jejak bintang di langit-langit mereka…So, yang blogwalking and mampir-mampir ke rumah bintang ini, lebih baik lagi klo meninggalkan jejaknya ya…Supaya persaudaraan ini, makin erat..*

Najm_Three

(Oh blogwalking)

“Ketika Tertipu Dua Nikmat”

Kembali mengutip tulisan penuh makna dari majalah tarbawi edisi lama mengenai akan pentingnya memanfaatkan waktu. So, Kudu harus musti baca tulisan yang satu ini….

Semoga bermanfaat….. 🙂

Dua nikmat yang banyak orang tertipu adalah waktu luang dan kesehatan. Rosulullah telah memperingatkna kita dengan hadits itu. Namun berlambat-lambat dalam nikmat waktu luang nampaknya kini menjadi amat wajar. Berlambat-lambat dalam nikmat kesehatan, nampaknya kini menjadi amat lumrah. Tertipu dalam kedua nikmat itu, kita seringkali merada beruntung. Merasa punya banyak waktu beristirahat, meski belum lagi bekerja keras. Belum lagi menuntaskan kerja dengan cepat dan matang dalam kualitas maksimum. Merasa bisa melakukan segalanya, lantas menabrak dan menyimpang sekenanya.

Nafas bergegas berkompetisi dengan waktu dalam wadah kebajikan berubah menjadi aroma asing. Meski itulah yang membuat kita jadi punya arti. Dan manusia yang hidup tanpa arti, kematiannya sebenarnya sudah tiba. ”Takbirkan saja empat kali,” kata Imam Syafi’i. Maksudnya kiasan untuk sholat jenazah.

Tertipu dalam nikmat waktu luang, akan menggiring kita makin jauh. Jadi tukang khayal. Jadi panjang angan-angan. Alih-alih bersegera memangkas semua itu, kita justru tenggelam. Tertipu bualan angan-angan. Orang-orang sholeh terdahulu berkata, ”Siapa yang suka berangan-angan, maka buruk amal perbuatannya.” Tertipu dalam lantunan angan-angan dalam lingkup yang lebih ”ringan”, boleh jadi kita ada di dalamnya. Dan kita tak cepat-cepat membebaskan diri. Kita masih berlambat-lambat merombak diri dalam kondisi darurat. Kondisi ketika jiwa bernafas pengkhayal, lalai dan tertipu.

Kita tertipu dalam rasa akan kekal di dunia, hingga kerja kita hanya sesuai dorongan duniawi. Kita menghabiskan waktu malam dan siang hanya untuk memperbaiki kehidupan dunia. Hati dan jasad hanyut dalam usaha itu. Lupa dan lalai pada kehidupan akhirat dan berlambat-lambat melakukan amal sholeh untuk akhirat. Bersemangat dan antusias dalam urusan keduniaan. Sedang dalam urusan akhirat, kita berlambat-lambat dan menundanya, tapi kita tetap saja merasa puas.

Padahal Rosulullah bersabda, ”maut adalah hal ghaib yang paling dekat ditunggu kehadirannya.” Padahal orang-orang sholeh terdahulu berkata, ”Seandainya kalian melihat ajal dan prosesnya, niscaya kalian akan benci dengan angan-angan dan tipu dayanya.” Mereka juga berujar, ”Berapa banyak manusia yang menyongsong harinya tanpa bisa melewati hari itu dengan sempurna. Dan berapa banyak manusia yang berangan-angan hidup pada hari esok sedangkan dia tidak mengalaminya lagi.” Dan, ”Berapa banyak orang yang tertawa lebar, padahal kain kafannya telah dikeluarkan dari tempat pemutihan kain.”

Sungguh fatal bila kita masih terkekang sikap berlambat-lambat melakukan amal sholeh. Sungguh fatal jika kita tak bergegas bertaubat dari kesalahan. Dan hanya berlindung dibalik kata ’akan’. Seorang ulama salaf berujar, ”Saya mengingatkanmu tentang perkataan ’akan’, sebab kata itu sudah banyak mencegah terjadinya kebaikan dan menunda dilakukannya perbaikan.”

Taubat itu niscaya. Lihatlah bagaimana Umar Bin Khattab radhiyallahuanhu, yang begitu cepat bertaubat ketika membaca surat Thoha. Membaca dari awal hingga kahir, pandangannya berubah ketika sampai pada ayat, ”Akulah Allah, tidak ada Tuhan menlainkan Aku. Maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingatku.” (Q.S. Thoha:14). Hati yang membatu seketika cair. Kapan kita akan bersegera mencairkan hati?

Sungguh tragis jika di alam nanti, yang bisa kita lakukan cuma kembali berangan-angan : andai datangnya kematian ditangguhkan. Itu mustahil adanya. Bergegas dan bersegera Cuma bisa kita lakukan di dunia. Hari ini, dalam sependek waktu yang tersisa..

Wallahu’alam bish-showab..

*Najm_Three*

(Waktu adalah kehidupan)

“Jangan berlambat-lambat di saat harus bertindak cepat”

Judul di atas kuambil dari majalah tarbawi edisi lama, saat itu tengah syuro diantara hijab dengan rak berisi buku-buku bagus..Majalah ini menyita perhatianku, karena pada saat itu kakak kelasku sedang membacanya pula..Hmm, sangat menarik dan begitu menantang rasanya membaca majalah ini…Yaa, yang pasti menantang hati kita untuk selalu siap menerima dan menjadi lebih lembut setelah membaca majalah tarbawi, menantang mata kita apakah akan keluar air mata kesadaran dari diri kita..Dan alhamdulillah, ketika membaca majalah ini ada rasa yang luar biasa berbeda, begitu menyentuh hati dan tanpa sadar sering sekali air mata jatuh mengalir lembut…Subhanallah…

Sungguh, tulisan yang menyadarkan…karena tak dapat dipungkiri begitu seringnya kita berlambat-lambat dalam segala hal, menunda-nunda pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan, berpikir telalu lama apakah harus mengerjakan atau tidak, melalaikan waktu, tidak bersegera dalam melaksanakan kebaikan..Aah, terlalu sering bahkan sudah menjadi hal yang lumrah….Kapan kita mau bangkit dari semua itu? Kapan penyakit-penyakit seperti mau kita sembuhkan dari di kita? Kapan? Semua jawabannya kembali kepada diri kita…Padahal di dalam Al-Qur’an Allah sering sekali bersumpah dengan waktu, hal itu menunjukkan betapa pentingnya memanfaatkan waktu dengansebaik-baiknya…

Allah mengingatkan kita dengan surat cinta-Nya :

Demi waktu, sesungguhnya manusia itu rugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih , yang saling nasihat menasehati dalam kebenaran dan saling nasihat dalam kesabaran. (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Aku juga sedang belajar untuk merubah diri..karena sebelumnya aku merasakan semua hal itu..Ingin sekali beranjak, bergegas, berubah menjadi lebih baik dan menghargai waktu..tapi mengapa begitu sulit? Mungkin keinginan kita, niat kita, azzam kita untuk berubah belum begitu kuat..Sampai pada akhirnya, ujian itu datang…Allah begitu sayang padaku…sehingga Allah memeberikan aku sakit..Yaah, semua itu baru terasa ketika kita sakit, ketika kita ditimpa suatu musibah, mungkin kita akan berharap seandainya dulu pada saat sehat bisa melakukan semuanya, kan jadinya tidak begini..Penyesalan selalu hadir belakangan, dan semua itu sudah tiada guna..

Tapi kusyukuri semuanya, karena jika Allah tidak menegurku..Aku mungkin tidak akan pernah berubah..Coba lihat betapa sayangnya Allah pada kita, namun kita yang sering sekali mengacuhkan Allah…Maka, jika bisa berubah dari sekarang, cepatlah melakukan perubahan itu, lebih menghargai waktu,,,,jangan sampai Allah timpakan kita dengan penyakit, musibah, atau ujian lain dulu baru kita akan tersadar dari setiap kelalaian kita..

Selagi masih Allah kasih nikmat sehat, masih diberikan umur sampai saat ini, cepat bergegas..karena sesungguhnya kematian adalah hal yang paling dekat dengan kita, kita tidak akan pernah tau kapan ajal menjemput kita…kematian tidak akan menunggu kita untuk berubah dulu baru datang, tapi bisa kapan saja…Oleh karena itu, mari kita sama-sama memperbaiki diri, menyadari setiap kesalahan yang kita lakukan, diantaranya kelalaian dalam memanfaatkan waktu, berlambat-lambat dalam setiap hal, tidak bersegera dalam berbuat kebaikan atau berbagai kesalahan-kesalahan lain, mengintrospeksi diri kembali sehingga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, pribadi yang mencintai Allah dan Allah pun mencintainya…Amiin…

Sedikit kutipan tulisan yang aku dapatkan dari tarbawi :

”Jika kamu menyongsong pagi, maka janganlah menunggu waktu sore. Jika kamu berada pada waktu sore, maka janganlah menunggu waktu pagi.” Demikian Ibnu Umar berkata. Dalam banyak hal, sesungguhnya berlamba-lambat itu menipu dan melukai diri serta orang lain. Setidaknya berlambat-lambat dalam konteks tabiat manusia yang lebih suka berleha-leha, malas, dan tak mau segera berbuat.

Maka kita selalu butuh kebergegasan dalam tindakan cepat dan matang, ketika berlambat-lambat berarti petaka bagi diri dan orang lain. Kita perlu kebergegasan dalam tindakan cepat dan matang, ketika keadaan darurat tidak sedang menunggu kita berlambat-lambat.

Semoga Allah memudahkan langkah-langkah kita untuk bersegera dalam kebaikan, dan menjauhkan dari egala hal yang mencegah kita bergegas…

Wallahu’alam bish-showab..

*Najm_Three*

(Fastaqim!)  🙂